Waspadai Depresi pada Anak Muda: Ancaman Nyata di Balik Senyum Remaja

dr. Ni Putu Melda Dharmahayu. (balihotnews/ist)

Oleh: dr. Ni Putu Melda Dharmahayu

Balihotnews.com | DENPASAR – Gangguan psikologis tidak hanya terjadi pada orang dewasa, tetapi juga bisa terjadi pada anak-anak dan remaja. Masa muda yang seharusnya menjadi fase tumbuh dan berkembang dengan penuh semangat, seringkali justru menjadi awal dari berbagai tekanan mental yang berujung pada gangguan psikologis. Salah satu gangguan yang paling umum terjadi pada remaja adalah depresi.

Penyebab depresi pada anak muda sangat beragam. Pola pengasuhan yang salah, pergaulan yang toxic, serta beban mental yang terlalu besar sering kali menjadi akar permasalahan. Anak dan remaja yang belum matang secara emosional sangat rentan mengalami tekanan ini, terlebih jika tidak mendapat dukungan dari lingkungan sekitar.

Depresi Menurut WHO dan Statistik Nasional

Menurut World Health Organization (WHO), depresi merupakan gangguan mental yang ditandai dengan penurunan mood, hilangnya minat atau kesenangan dalam aktivitas, serta berbagai gejala lain seperti perasaan bersalah, gangguan tidur atau nafsu makan, kehilangan energi, dan penurunan konsentrasi.

Berita Terkait:  Pesona Lemukih Eco Village Jadi Ruang Belajar Alam Sispala Wira Satya Mandala

Secara nasional, prevalensi angka depresi di Indonesia pada tahun 2023 tercatat sebesar 1,4%. Angka ini paling tinggi ditemukan pada kelompok usia 15-24 tahun, usia yang sedang berada di fase remaja menuju dewasa. Tak jarang, broken home seperti perceraian atau penelantaran masa anak-anak menjadi pemicu utama depresi pada remaja.

Klasifikasi Depresi dan Peran Lingkungan

Mengacu pada Pedoman Penggolongan dan Diagnosis Gangguan Jiwa (PPDGJ), depresi dibagi menjadi empat tingkat keparahan:

  1. Depresi ringan
  2. Depresi sedang
  3. Depresi berat tanpa gejala psikotik
  4. Depresi berat dengan gejala psikotik

Gejala utama depresi antara lain suasana hati yang sedih, kehilangan minat atau kegembiraan, serta mudah lelah. Biasanya, gejala-gejala ini muncul karena satu atau lebih masalah yang menjadi pemicu, baik dari dalam keluarga, sekolah, hingga lingkungan pergaulan.

Berita Terkait:  Indonesian Heroes Mario Aji dan Veda Pratama: Perjuangan Panjang Menuju Panggung Dunia, Bertemu di Mandalika 

Dalam kondisi ini pentingnya peran lingkungan, terutama orang tua, guru, dan teman terdekat, dalam mengenali serta merangkul anak yang mengalami depresi. Mereka bisa menjadi garda terdepan dalam upaya pemulihan kondisi psikologis anak muda sebelum terlambat.

Ancaman Bunuh Diri dan Pentingnya Deteksi Dini

Tanpa penanganan yang tepat, depresi bisa berujung pada tindakan bunuh diri. WHO mencatat, bunuh diri merupakan penyebab kematian keempat pada remaja di dunia. Ini menjadi peringatan serius bagi masyarakat luas.

Sayangnya, data tahun 2023 menunjukkan bahwa hanya 10,4% anak muda dengan depresi yang mencari pengobatan. Rendahnya angka ini bisa terjadi karena minimnya kesadaran akan pentingnya kesehatan mental, baik dari anak itu sendiri maupun dari lingkungan seperti orang tua dan sekolah.

Berita Terkait:  Peradah Bali Usul Pemecah Antrean Pos Kesehatan dan Dedak Aparat Tindak Tegas Penimbun BBM

Oleh karena itu, deteksi dini sangat penting untuk mengetahui depresi lebih awal. Tes depresi dapat menjadi langkah awal dan banyak fasilitas kesehatan yang dapat untuk tes depresi, pusat layanan psikologi, maupun dokter spesialis kejiwaan. Langkah ini bisa membuka pintu bagi penanganan yang tepat sebelum depresi berkembang lebih parah.

Waspada, Bukan Menghakimi

Mereka butuh empati, bukan justifikasi. Orang tua dan guru perlu lebih waspada dalam mengamati perubahan perilaku anak-anak dan remaja di sekitarnya. Dengan mengenali gejala depresi sejak dini, bukan hanya kita menyelamatkan satu jiwa, tapi juga membantu menciptakan generasi muda yang lebih sehat secara mental, tangguh, dan produktif.

Sumber:

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Depresi pada Anak Muda di Indonesia. https://repository.badankebijakan.kemkes.go.id/id/eprint/553 2/1/03%20factsheet%20Keswa bahasa.pdf. (Akses 8 Juli 2025)

World Health Organization. Depressive Disorder. https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/cn. (Akses 8 Juli 2025)

Berita Terkini