Unwar Dampingi Petani Kintamani Kembangkan Teknologi Pengolahan Kopi

Program Hilirisasi Riset dan Inovasi Teknologi Pengolahan Kopi Arabika oleh Universitas Warmadewa (Unwar) bersama Institut Teknologi Kesehatan Bali. (balihotnews/istimewa)
Program Hilirisasi Riset dan Inovasi Teknologi Pengolahan Kopi Arabika oleh Universitas Warmadewa (Unwar) bersama Institut Teknologi Kesehatan Bali. (balihotnews/istimewa)

Balihotnews.com | BANGLI – Universitas Warmadewa (Unwar) bersama Institut Teknologi Kesehatan Bali mendorong peningkatan nilai tambah kopi Arabika Kintamani melalui program Hilirisasi Riset dan Inovasi Teknologi Pengolahan Kopi Arabika. Program ini digagas oleh Prof. Dr. Ir. Luh Suriati, M.Si, dan berfokus pada penerapan hasil penelitian kampus ke masyarakat, khususnya bagi Kelompok Pengolah Kopi Selulung di Kecamatan Kintamani.

Program yang didanai oleh Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi RI itu merupakan bagian dari Program Hilirisasi Riset Prioritas, SINERGI.

Melalui kegiatan ini, tim peneliti berupaya menjembatani dunia akademik dengan pelaku usaha kecil agar hasil riset dapat memberikan manfaat langsung bagi petani dan pengolah kopi.

Berita Terkait:  El Nino Ancam Produksi Pangan, Koperasi Pertanian ASEAN Didorong makin Kuat

“Kami ingin riset kampus tidak berhenti di jurnal atau laboratorium, tetapi benar-benar menjadi solusi bagi masyarakat, terutama bagi kelompok pengolah kopi di Kintamani,” kata Prof. Luh Suriati di Denpasar, Selasa (4/11/2025).

Dalam jangka dua tahun, program ini dirancang untuk memperkuat kemampuan teknis petani dalam mengolah kopi dengan pendekatan zero waste.

Pelatihan mencakup peningkatan kualitas green bean dan roasted bean, pengembangan produk turunan seperti kopi bubuk instan dan campuran Arabika–Robusta, hingga pengujian cita rasa dan aroma.

Selain teknologi fermentasi dan pengeringan, pelatihan juga meliputi teknik coating, kemasan modern, serta strategi pemasaran digital.

Diharapkan langkah ini bisa memperluas pasar kopi Kintamani dan meningkatkan daya saingnya di tengah persaingan industri kopi global.

Berita Terkait:  El Nino Ancam Produksi Pangan, Koperasi Pertanian ASEAN Didorong makin Kuat

Kegiatan sosialisasi dan pendampingan sudah dimulai sejak pertengahan Oktober 2025. Para anggota kelompok tani mendapatkan pelatihan langsung dari akademisi dan praktisi industri.

Ketua Kelompok Pengolah Kopi Selulung, I Nyoman Penting, mengatakan pendampingan tersebut membuka wawasan baru bagi petani lokal.

“Kami belajar banyak tentang standar mutu dan cara meningkatkan nilai jual produk. Sekarang kami lebih percaya diri menghadapi pasar,” ujarnya.

Tak hanya berfokus pada pengolahan, program ini juga memperkenalkan sistem ekonomi hijau (green economy) dengan memanfaatkan limbah kulit kopi menjadi pupuk organik dan pakan ternak.

Peneliti tengah mengembangkan formulasi agar pemanfaatan limbah ini bisa diterapkan secara berkelanjutan di tingkat petani.

Kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah daerah, dan kelompok tani ini diharapkan menjadi model percontohan pengembangan kopi Arabika berkelanjutan di kawasan Kintamani, sekaligus memperkuat posisi kopi Bali di pasar nasional dan internasional. (red)

Berita Terkait:  El Nino Ancam Produksi Pangan, Koperasi Pertanian ASEAN Didorong makin Kuat

Berita Terkini