Penulis: I Made Wiraguna (Pak Denok)
Yayasan Tri Hita Karana Jambangan, Pakarang Adat
Balihotnews.com l DENPASAR- Di tengah gempuran krisis lingkungan yang semakin nyata—sungai yang tercemar limbah rumah tangga dan industri, udara yang semakin pekat oleh polusi, hutan yang terus menyusut akibat deforestasi, hingga tanah pertanian yang jenuh oleh pestisida kimia—Hari Raya Tumpek Uduh hadir sebagai pengingat yang tidak bisa diabaikan.
Tumpek Uduh bukan sekadar tradisi turun-temurun untuk menghaturkan banten kepada pohon dan tumbuhan. Lebih dari itu, hari suci ini adalah seruan spiritual bahwa kehidupan manusia tidak pernah bisa lepas dari alam. Ketika kita merusak pohon, sesungguhnya kita sedang memutus rantai kehidupan kita sendiri.
Di Bali, kesadaran ini sudah ditanamkan leluhur sejak berabad-abad lalu. Tumpek Uduh mengajarkan bahwa tumbuhan bukan sekadar komoditas ekonomi, melainkan makhluk hidup yang memiliki tempat, fungsi, dan hak untuk dihormati. Di saat modernitas mendorong manusia untuk mengeksploitasi alam tanpa batas, Tumpek Uduh menarik kita kembali pada keseimbangan.
*Mengenal Tumpek Uduh: Rumah Hijau Umat Hindu Bali*
Tumpek Uduh dikenal juga dengan sebutan *Tumpek Pengatag, Tumpek Wariga, dan Tumpek Pengarah*. Ia jatuh setiap *Saniscara Kliwon Wariga*, yakni 25 hari sebelum Hari Raya Galungan.
Hari suci ini adalah wujud penghormatan dan rasa syukur umat Hindu Bali kepada *Hyang Sangkara*, manifestasi Ida Sang Hyang Widhi Wasa sebagai pelindung tumbuh-tumbuhan. Melalui upacara ini, umat diajak menyadari bahwa kesuburan, pangan, dan kehidupan itu sendiri berasal dari tumbuhan yang tumbuh atas restu Sang Pencipta.
Dalam kosmologi Hindu Bali, Hyang Sangkara ditempatkan pada arah *Kaja-Kauh* [barat laut] dalam _pengider-ider buana_ dan dilambangkan dengan warna hijau—simbol kesuburan, pertumbuhan, dan kehidupan. Pemuliaan terhadap Hyang Sangkara adalah pengakuan bahwa kekuatan alam bukanlah sesuatu yang bisa dikuasai manusia, melainkan sesuatu yang harus diselaraskan.
Menurut ajaran _Siwa Siddhanta_, Hyang Sangkara merupakan aspek Bhatara Siwa yang menampakkan diri sebagai energi yang melingkupi seluruh alam semesta. Upacara Tumpek Uduh menjadi sarana bagi umat untuk menerjemahkan energi ilahi yang abstrak itu ke dalam bentuk nyata yang bisa dipahami dan dijalankan dalam kehidupan sehari-hari.
*Ritual dan Makna di Baliknya*
Perayaan Tumpek Uduh di Bali ditandai dengan berbagai ritual yang menyentuh langsung hubungan manusia dengan tumbuhan. Di pekarangan rumah, kebun, sawah, hingga taman-taman umum, pohon-pohon dihiasi dengan *sasat gantungan*—hiasan dari janur dan bunga sebagai tanda penghormatan.
Kemudian dilakukan pemberian *bubur sumsum* pada pangkal pohon, melambangkan harapan akan kesuburan dan pertumbuhan. Prosesi paling khas adalah *ngatag*, yaitu mengetuk batang pohon sebanyak tiga kali menggunakan pisau tumpul [_tiuk tumpul_]. Tindakan ini bukan bentuk kekerasan, melainkan simbol komunikasi spiritual: mengingatkan pohon agar tumbuh subur, berbuah lebat, dan memberi manfaat bagi manusia.
Rangkaian ritual ditutup dengan pembacaan *mantra tradisional*, doa yang dipanjatkan agar hujan turun merata, tanah menjadi subur, dan hasil panen melimpah menjelang Galungan. Salah satu mantra yang sering diucapkan berbunyi:
> _“Kaki-kaki, dadong dija? Dadong jumah gelem kebus dingin ngetor. Ngetor ngeed-ngeed-ngeeed-ngeeed, ngeed kaja, ngeed kelod, ngeed kangin, ngeed kauh, buin selae lemeng galungan mebuah pang ngeeed.”_
Mantra ini adalah harapan kolektif agar alam kembali seimbang, hujan datang dari segala penjuru, dan pohon-pohon berbuah lebat menyambut hari raya.
Banten yang dihaturkan pun penuh makna: *Banten Pras, Nasi Tulung Sesayut, Tumpeng dan Bubur Sumsum, Tumpeng Agung, ulam itik, canang sari, dupa, dan tetebusan*. Semua persembahan ini adalah wujud rasa terima kasih manusia kepada alam yang telah memberi kehidupan.
*Dimensi Ekologis dan Sosial: Dari Ritual ke Aksi Nyata*
Jika hanya berhenti pada ritual, maka Tumpek Uduh akan menjadi seremonial kosong. Kekuatan sesungguhnya dari hari suci ini terletak pada kemampuannya menggerakkan aksi nyata.
Tumpek Uduh adalah momentum refleksi ekologis. Ia menantang umat Hindu Bali untuk bertanya: sudah sejauh mana kita menjaga pohon yang kita sembah hari ini? Apakah kita hanya memberi banten, lalu esoknya kembali menebang hutan, membuang sampah sembarangan, dan menggunakan pestisida berlebihan?
Gerakan seperti *“One Man One Tree”* dan *“Wanita Menanam Pohon”* adalah contoh nyata implementasi ajaran Tumpek Uduh. Melalui aksi-aksi kecil ini, nilai spiritual diterjemahkan menjadi kontribusi sosial untuk menghijaukan kembali bumi.
Menolak _illegal logging_, mendukung pertanian organik, mengurangi penggunaan plastik sekali pakai, dan menjaga kebersihan lingkungan adalah bagian dari sembahyang Tumpek Uduh yang paling relevan saat ini. Sebab, merawat pohon adalah merawat oksigen, merawat air, dan merawat masa depan anak cucu.
*Tri Chanda dan Tri Ratna: Tuntunan Hindu Dharma untuk Kehidupan*
Dalam ajaran Hindu Dharma, kehidupan manusia ditopang oleh tiga unsur utama yang disebut *tri chanda*: _vata_, _apah_, dan _ausadha_. Ketiganya saling terkait dan tidak bisa dipisahkan. Merusak salah satunya berarti merusak keseluruhan sistem kehidupan.[udara][air][tumbuhan]
Hal ini diperkuat dalam _Nitisastra_ yang menyebut *tri ratna* [tiga permata kehidupan]: tumbuhan, air, dan kata-kata bijak. Tumbuhan ditempatkan sejajar dengan air dan kebijaksanaan, menunjukkan betapa luhurnya posisi alam dalam pandangan Hindu.
Karena itu, dalam tradisi Bali, tumbuhan sering disebut sebagai “saudara tua” manusia. Ia mendahului kita dalam siklus kehidupan, memberi oksigen sebelum kita lahir, dan tetap memberi manfaat bahkan setelah kita tiada. Menghormati tumbuhan berarti menghormati asal-usul dan kelangsungan hidup kita sendiri.
*Penutup: Saatnya Menghidupkan Kembali Tri Hita Karana*
Krisis lingkungan yang kita hadapi hari ini bukanlah masalah teknis semata. Ia adalah krisis spiritual—krisis hubungan antara manusia, alam, dan Tuhan.
Tumpek Uduh mengingatkan kita bahwa solusi tidak akan datang hanya dari kebijakan pemerintah atau teknologi canggih. Ia harus dimulai dari perubahan kesadaran, dari hati yang kembali merasa terhubung dengan alam.
Konsep *Tri Hita Karana*—harmoni antara _parahyangan_, _pawongan_, dan _palemahan_—harus dihidupkan kembali, tidak hanya dalam upacara, tetapi dalam setiap tindakan sehari-hari. Menanam satu pohon, mengurangi satu kantong plastik, membersihkan satu aliran sungai, semua itu adalah wujud nyata bhakti kita kepada Hyang Sangkara.
Semoga peringatan Tumpek Uduh tahun ini menjadi titik balik. Mari kita jadikan hari suci ini bukan hanya hari untuk bersembahyang, tetapi hari untuk bergerak, menjaga, dan merawat bumi sebagai warisan suci bagi generasi yang akan datang. (Bhn)







