Balihotnews.com | DENPASAR – Tumpek Krulut kembali menjadi penanda penting bahwa budaya Bali bukan sekadar ritual simbolik, melainkan pondasi nilai yang menjaga keseimbangan rasa, budi dan batin masyarakatnya.
Hari suci ini mengajak orang Bali kembali menyentuh kehalusan seni, gamelan, sastra, tembang serta kasih sayang yang dipraktekkan secara sadar dalam kehidupan sehari-hari.
Namun, setiap kali Tumpek Krulut dihidupkan secara serius, selalu muncul suara-suara yang meremehkan.
Tradisi ini kerap dicemooh terlalu simbolik, dianggap tak relevan, bahkan ditertawakan, Bahkan, yang disasar bukan hanya makna hari suci, tetapi juga keberanian kepemimpinan yang konsisten menegaskan jati diri Bali.
Dalam pusaran kritik itu, nama Gubernur Bali Wayan Koster kembali diseret. Bagi pihak-pihak tersebut, yang mengganggu bukanlah Tumpek Krulut itu sendiri, melainkan pesan kuat di baliknya.
Bali menolak kehilangan identitas. Budaya tidak akan dibiarkan memudar demi kepentingan sesaat. Nilai tidak bisa dikalahkan oleh tren yang berganti cepat.
Pola kritik semacam ini datang dari cara pandang yang kontradiktif. Mereka ingin Bali maju dan tertata, tetapi enggan menjaga akar budayanya. Mengeluh kemacetan, kesemrawutan, dan hilangnya wibawa Bali, namun menolak ketika nilai budaya ditegaskan melalui kebijakan nyata. Menginginkan pengakuan dunia, tetapi justru merasa canggung dengan tradisinya sendiri.
Wayan Koster membaca persoalan ini secara mendasar. Pembangunan fisik dan promosi pariwisata dinilai tidak cukup untuk menyelamatkan Bali. Infrastruktur dapat dibangun dan hotel dapat berdiri, tetapi tanpa rasa dan nilai, Bali hanya akan tersisa sebagai nama. Karena itu, budaya tidak berhenti pada retorika, melainkan dihidupkan dan dilindungi lewat kebijakan.
Tumpek Krulut menjadi bagian dari upaya tersebut. Ia tidak dirancang untuk viral atau pencitraan, melainkan untuk menjaga ingatan kolektif masyarakat Bali agar tidak tercerabut dari akarnya. Justru di titik inilah banyak kepentingan merasa terusik, karena budaya yang kuat sulit dikendalikan dan tidak mudah diputar sesuai selera.
Ironisnya, sebagian penolakan datang dari orang Bali sendiri. Mereka lupa bahwa kekuatan Bali terletak pada keberbedaannya. Perbedaan yang lahir dari nilai yang dijaga dengan disiplin, sering kali melalui jalan sunyi yang tidak populer.
Tumpek Krulut kembali menegaskan satu kenyataan: setiap kali budaya dihidupkan, selalu ada yang kepanasan. Bukan karena budayanya keliru, melainkan karena tidak semua siap hidup dalam peradaban yang berakar.
Ditengah cibiran tersebut, Wayan Koster tetap melangkah. Bukan untuk mencari pujian atau menyenangkan semua pihak, melainkan untuk memastikan Bali tidak kehilangan jiwanya. Sebab bagi Bali, tanpa budaya, pembangunan hanya akan menjadi fisik yang kosong. (red).






