Transformasi Digital Peternakan: Implementasi Tidak Bisa Instan, Harus Bertahap

Kuliah terbuka secara daring yang diselenggarakan Himpunan Mahasiswa Prodi Peternakan, Fakultas Pertanian, Sains dan Teknologi, Universitas Warmadewa, Kamis (27/11/2025). (balihotnews/istimewa)
Kuliah terbuka secara daring yang diselenggarakan Himpunan Mahasiswa Prodi Peternakan, Fakultas Pertanian, Sains dan Teknologi, Universitas Warmadewa, Kamis (27/11/2025). (balihotnews/istimewa)

Balihotnews.com | DENPASAR – Transformasi digital mulai menjadi kebutuhan strategis bagi sektor peternakan, khususnya untuk menekan biaya operasional dan meningkatkan efisiensi pengelolaan ternak. Namun proses modernisasi ini bukan perkara mudah, terutama bagi pelaku peternakan yang masih bertumpu pada metode manual.

Pandangan ini disampaikan praktisi sekaligus Direktur UD Agrosari Satwa, I Gusti Bagus Angga Pratama, S.E., M.M., dalam kuliah terbuka bertema dinamika industri peternakan sapi modern yang digelar secara daring oleh Himpunan Mahasiswa Prodi Peternakan, Fakultas Pertanian, Sains dan Teknologi, Universitas Warmadewa, Kamis (27/11/2025).

Menurut Angga, tekanan biaya operasional merupakan alasan terbesar mengapa digitalisasi menjadi langkah yang tidak bisa dihindari.

Sistem pengelolaan manual yang mengandalkan banyak tenaga kerja membuat kebutuhan modal semakin tinggi seiring bertambahnya jumlah ternak.

Berita Terkait:  Kunjungi Ditjen Infrastruktur Digital, Pj. Sekda Agung Mahajaya Perjuangkan Penguatan Jaringan Telekomunikasi di Nusa Penida

“Teknologi digital sangat membantu dalam handling sapi. Kalau kita bertahan dengan cara manual, itu membutuhkan dana besar dan harus terus menambah tenaga kerja seiring bertambahnya populasi ternak,” ujar Angga.

Teknologi yang dimaksud mencakup sistem otomatisasi pemantauan ternak hingga manajemen pakan berbasis data.

Penerapannya diyakini mampu mengurangi ketergantungan pada tenaga kerja fisik sehingga anggaran dapat dialihkan untuk meningkatkan kualitas nutrisi dan kesehatan hewan.

Meski demikian, Angga menyoroti adanya jarak besar dalam kesiapan sumber daya manusia. Persoalan adopsi teknologi tidak hanya berkaitan dengan investasi alat, tetapi juga pemahaman teknis.

“Tapi tidak semua mampu mengadopsi dalam peternakan modern. Masalah utamanya seringkali karena keterbatasan terkait pengetahuan cara kerja teknologi itu sendiri,” jelasnya.

Berita Terkait:  SKYY Network Luncurkan Pilot Project Pengiriman Drone di Nuanu Creative City dan Café del Mar Bali, Uji Inovasi di Ekosistem Nyata

Minimnya literasi teknologi membuat beberapa peternak berisiko salah investasi. Tanpa kemampuan mengoperasikan alat, perangkat canggih justru berpotensi tidak terpakai dan tidak menghasilkan nilai tambah bagi bisnis ternak.

Untuk itu, Angga menekankan pentingnya penerapan teknologi secara bertahap. Peternak disarankan mulai dari sistem yang paling dasar dan berdampak besar, kemudian melanjutkan evolusi digital secara perlahan sesuai kompetensi.

“Implementasi teknologi digital mesti bertahap, tidak bisa langsung,” tegasnya.

Ia juga menyebut perlunya pendampingan dan edukasi berkelanjutan agar pelaku usaha ternak tidak mengalami kejutan budaya kerja.

Dengan pendekatan bertahap, Angga meyakini peternakan rakyat hingga skala menengah dapat bertransformasi menjadi lebih modern, efisien, dan adaptif terhadap perkembangan industri. (red)

Berita Terkait:  Pemkab Klungkung Gandeng Korea Selatan Wujudkan Transisi Energi dan Nusa Penida Green Island 2030

Berita Terkini