Teater Selem Putih Hadirkan Di Bawah Pohon Sukun Disutradarai Putu Satria Kusuma Siap Ramaikan FSBJ VIII di Gedung Ksirarnawa Denpasar 

Foto: Teater Selem Putih kembali menghadirkan karya terbaru bertajuk Di Bawah Pohon Sukun dalam rangkaian Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 hari ke-9. (Balihotnews/ist).

Balihotnews.com | DENPASAR – Teater Selem Putih kembali menghadirkan karya terbaru bertajuk Di Bawah Pohon Sukun dalam rangkaian Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 hari ke-9.

Pementasan Di Bawah Pohon Sukun ditulis dan disutradarai oleh Putu Satria Kusuma digelar di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Provinsi Bali, Denpasar, Minggu, 19 Juli 2026.

Melalui pementasan tersebut, Teater Selem Putih ingin menghadirkan ruang apresiasi seni sekaligus memperkuat eksistensi teater kontemporer Bali yang tetap berakar pada nilai-nilai budaya lokal. Penampilan ini menjadi salah satu agenda yang dinantikan dalam Festival Seni Bali Jani VIII.

Sutradara Senior Bali, Putu Satria Kusuma mengajak masyarakat untuk hadir menyaksikan pertunjukan tersebut dan memberikan dukungan terhadap perkembangan seni teater di Bali.

Berita Terkait:  Zat Kimia Mengurai Racun Masa Lalu lewat Single Baru Karsinoma 

“Kami mengundang masyarakat untuk menyaksikan pementasan Teater Selem Putih berjudul Di Bawah Pohon Sukun dalam Festival Seni Bali Jani VIII 2026. Semoga pementasan ini dapat menjadi ruang apresiasi sekaligus refleksi melalui seni pertunjukan,” kata Putu Satria Kusuma.

Pementasan Dibawah Pohon Sukun mengangkat kisah pengasingan Bung Karno di Ende, Nusa Tenggara Timur. Drama ini mengajak penonton menelusuri proses perenungan yang kemudian melahirkan Pancasila sebagai dasar negara Indonesia.

Melalui pendekatan teater, sejarah dipertemukan dengan imajinasi artistik untuk menghadirkan refleksi atas relevansi nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan Indonesia hari ini.

Cerita berpusat pada seorang wartawan perempuan yang datang ke Ende setelah mendengar kabar bahwa Sukarno tidak lagi menjalankan aktivitas politik. Di kota pengasingannya, ia justru mendirikan kelompok sandiwara dan sibuk mempersiapkan pementasan drama Koetkoetbi bersama masyarakat setempat yang sebagian besar belum pernah bermain teater.

Berita Terkait:  Perkokoh Ketahanan Budaya, Bupati Satria Bersama Wakil Bupati Tjok Surya Hadiri Rangkaian Karya di Tiga Pura

Di tengah proses latihan, seorang pelaut datang menawarkan jalan keluar agar Sukarno melarikan diri dari Ende dan kembali ke Jawa untuk melanjutkan perjuangan. Sang wartawan pun mendesaknya melakukan hal yang sama. Namun Sukarno memilih bertahan. Baginya, pengasingan bukan akhir perjuangan.

Melalui seni pertunjukan, pendidikan, dan perenungan di bawah pohon sukun, ia tetap menyalakan semangat kebangsaan, bahkan diam-diam mengajarkan lagu Indonesia Raya kepada masyarakat meski harus menerima hukuman denda dari pemerintah kolonial Belanda.

Drama ini juga menghadirkan suara-suara rakyat yang mempertanyakan makna kemerdekaan. Akankah Indonesia yang merdeka benar-benar menghadirkan keadilan dan kesejahteraan bagi seluruh rakyatnya? Pergulatan itulah yang mengantar penonton menuju momen ketika Sukarno, pada Juni 1945, memperkenalkan hasil perenungannya yang kemudian dikenal sebagai Pancasila.

Berita Terkait:  Bawa 23 IKM ke Kriyanusa 2026, Ny. Putri Koster Dorong Kerajinan Bali Tembus Pasar Internasional

Melalui karya terbaru ini, Teater Selem Putih kembali menegaskan komitmen dalam mengembangkan seni teater kontemporer yang tetap berpijak pada budaya Bali sekaligus relevan dengan berbagai persoalan masyarakat masa kini.

Pementasan Di Bawah Pohon Sukun di Festival Seni Bali Jani VIII diharapkan menjadi ruang dialog budaya, memperkaya khazanah seni pertunjukan serta memperkuat ekosistem seni kreatif di Bali. (ace+vijay).

 

 

Berita Terkini