Strategi “Zero Waste” Pertanian Jeruk Bangli Lewat Inovasi Kemasan “Eco-Friendly

Foto: Ketua Tim Pengabdi yang juga akademisi dari Fakultas Pertanian, Sains, dan Teknologi Universitas Warmadewa, Ir. I Wayan Sudiarta, MP., berfoto bersama, disela-sela kegiatan pelatihan dan pendampingan serangkaian program Pemberdayaan Berbasis Wilayah (PBW) di Kintamani, Kabupaten Bangli, Sabtu, 25 Juli 2026. (Balihotnews/ist).

Balihotnews.com | DENPASAR – Komoditas jeruk dari kawasan Kintamani, Kabupaten Bangli, Bali, kerap kali menghadapi tantangan efisiensi pascapanen dan limbah yang terbuang sia-sia. Menjawab tantangan tersebut, tim akademisi merancang pendekatan sistematis melalui penerapan konsep zero waste berbasis inovasi kemasan ramah lingkungan (eco-friendly).

Langkah strategis ini ditujukan untuk meminimalkan potensi limbah hasil pertanian jeruk sekaligus meningkatkan nilai ekonomi produk lokal agar mampu bersaing lebih luas di pasar modern.

Ketua Tim Pengabdi yang juga akademisi dari Fakultas Pertanian, Sains, dan Teknologi Universitas Warmadewa, Ir. I Wayan Sudiarta, MP., menjelaskan bahwa pengelolaan rantai pasok pertanian jeruk memerlukan terobosan yang tidak hanya mengedepankan aspek penjualan, tetapi juga keberlanjutan lingkungan.

Berita Terkait:  Jelang Tumpek Wayang, Pemprov Bali Gelar Aksi Bersih Sampah Serentak, Kumpulkan 3,56 Ton Sampah di Mangrove Pesanggaran

“Pengolahan hasil pertanian jeruk sejatinya bisa dimaksimalkan hingga tuntas tanpa menyisakan limbah yang merusak lingkungan. Lewat pendekatan zero waste dan penggunaan inovasi kemasan eco-friendly, kita ingin mengoptimalkan nilai tambah jeruk Bangli dari hulu ke hilir,” kata Wayan Sudiarta saat dikonfirmasi, Sabtu, 25 Juli 2026.

Pernyataan tersebut disampaikan disela-sela kegiatan pelatihan dan pendampingan serangkaian program Pemberdayaan Berbasis Wilayah (PBW) yang berlangsung di Kintamani, Bangli.

Melalui kegiatan PBW ini, tim akademisi Universitas Warmadewa memberikan edukasi serta pendampingan langsung kepada kelompok mitra, yakni Kelompok Wanita Tani (KWT) Mekar Sari, Desa Pengejaran, Kintamani, Bangli. Pelatihan difokuskan pada pemanfaatan jeruk kelas dua (second grade) atau bagian buah yang tidak lolos sortir menjadi produk turunan bernilai jual, sehingga seluruh hasil panen dapat terserap optimal.

Berita Terkait:  Tim III THK Awards akan Gelar Asesmen Hotel di Ubud

Selain pemanfaatan produk turunan, tim pengabdi juga memperkenalkan penggunaan kemasan ramah lingkungan berbasis bahan hayati (biodegradable) kepada para anggota KWT Mekar Sari. Penggunaan material ini dirancang untuk menggantikan plastik sekali pakai sekaligus menjaga mutu dan kesegaran buah selama proses distribusi.

Wayan Sudiarta menambahkan, efisiensi distribusi tersebut sangat penting agar kerusakan fisik buah saat pengiriman dapat diminimalkan, yang pada akhirnya menekan volume sampah organik di tingkat pengecer. Integrasi antara pemanfaatan limbah dan kemasan bernilai ekologis ini diharapkan menjadi rujukan model pertanian berkelanjutan di kawasan Bangli.

Melalui kolaborasi erat antara akademisi dan KWT Mekar Sari Desa Pengejaran, program PBW ini menargetkan terciptanya ekosistem pertanian jeruk Kintamani yang berdaya saing tinggi, efisien, serta berwawasan lingkungan secara jangka panjang. (red).

Berita Terkait:  Pemkab Klungkung Rancang Proyek KPBU APJ dan Preservasi Jalan, Targetkan Beroperasi 2028

 

 

Berita Terkini