Balihotnews.com | DENPASAR – Kantor Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi Bali menyampaikan bahwa kinerja Industri Jasa Keuangan (IJK) di Bali hingga posisi Juni 2025 tetap solid dan stabil. Resiliensi sektor keuangan ini didukung permodalan yang kuat, likuiditas memadai, serta profil risiko yang terjaga.
Penyaluran kredit perbankan di Bali mencapai Rp115,82 triliun atau tumbuh 6,82 persen year on year (yoy), meningkat dibandingkan Mei 2025 sebesar 6,41 persen yoy.
Pertumbuhan ini masih lebih tinggi dibandingkan nasional, terutama pada kredit investasi yang tumbuh 14,08 persen yoy.
“Pertumbuhan kredit investasi ini menunjukkan tingkat kepercayaan masyarakat terhadap prospek perekonomian Bali masih tinggi,” tulis OJK Bali dalam keterangan resmi, Senin (15/9/2025).
Dari sisi debitur, 51,22 persen kredit disalurkan kepada UMKM dengan pertumbuhan 3,39 persen yoy. Angka ini lebih baik dari rata-rata nasional yang tercatat 19,31 persen secara porsi dan 2,22 persen yoy untuk pertumbuhan.
Sektor Perdagangan dan Pariwisata Jadi Penopang
Sektor penyaluran kredit terbesar di Bali masih didominasi Bukan Lapangan Usaha (33,64 persen) dan Perdagangan Besar serta Eceran (28,06 persen).
Sementara sektor akomodasi dan makanan-minuman, yang menjadi tulang punggung pariwisata Bali, juga mencatat pertumbuhan signifikan 13,91 persen yoy.
Kualitas kredit di Bali tetap terjaga. Rasio Non-Performing Loan (NPL) gross berada di angka 3,08 persen, turun dari 3,32 persen pada periode sama tahun lalu. NPL net pun menurun menjadi 2,15 persen.
DPK, Pasar Modal, dan Literasi Keuangan
Penghimpunan Dana Pihak Ketiga (DPK) mencapai Rp200,25 triliun atau tumbuh 9,90 persen yoy, didorong kenaikan tabungan Rp10,01 triliun. Loan to Deposit Ratio (LDR) tercatat 57,84 persen, menandakan fungsi intermediasi masih positif.
Jumlah investor pasar modal di Bali terus meningkat. Investor saham mencapai 160.067 Single Investor Identification (SID), naik 24,29 persen yoy. Nilai transaksi saham bahkan tumbuh 143,07 persen yoy menjadi Rp3,54 triliun.
OJK juga aktif mendorong literasi keuangan di masyarakat. Hingga Juli 2025, sebanyak 122 kegiatan edukasi telah digelar dengan jangkauan lebih dari 16.000 orang, serta ribuan lainnya melalui media sosial.
Program KKN Literasi dan Inklusi Keuangan (KKN LIK) juga berjalan bersama Universitas Udayana, Undiksha, dan Warmadewa, menyasar 50 desa di Bali.
Selain itu, OJK Bali mencatat 367 pengaduan masyarakat terkait industri jasa keuangan sepanjang 2025, mayoritas menyangkut perilaku penagihan dan kasus fraud eksternal. Dari jumlah itu, 354 pengaduan telah diselesaikan.
OJK menegaskan akan terus menjaga stabilitas sektor keuangan di Bali dengan dukungan pemerintah daerah, Bank Indonesia, LPS, serta industri jasa keuangan. (red)





