Balihotnews.com | JAKARTA – Universitas Prof. Dr. Moestopo (Beragama) bersama Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) menggelar Diskusi Publik “Platform Digital dan Penyiaran: Peluang atau Ancaman?” di Kampus I Universitas Moestopo, Jakarta, Kamis, 27 November 2025.
Acara ini membahas masa depan dunia penyiaran di tengah derasnya migrasi penonton ke platform digital.
Rektor Universitas Moestopo, Dr. H. Muhammad Saifulloh, S.Sos., M.Si., dalam sambutannya menekankan pentingnya memperluas cakupan pengawasan KPI hingga media sosial.
Ia mengingatkan bahwa maraknya hoaks dan disinformasi di ruang digital perlu mendapat perhatian serius dari regulator.
Diskusi juga menghadirkan tokoh-tokoh besar dunia media. Atiek Nur Wahyuni, Direktur Utama TRANS TV & TRANS7, menyampaikan bahwa perubahan perilaku menonton semakin cepat pasca penerapan Analog Switch Off (ASO).
Menurutnya, kolaborasi TV dan platform digital menjadi kunci agar industri penyiaran tetap kompetitif dan mampu memproduksi konten berkualitas.
Sementara itu, Prof. Dr. rer. Soc. Masduki, Ketua PR2Media, menegaskan perlunya pembaruan regulasi penyiaran. Ia menekankan harmonisasi aturan konten digital, penguatan KPI sebagai regulator yang berwibawa, dan transformasi lembaga penyiaran publik agar tetap independen serta berpihak pada kepentingan publik.
Dari aspek kebijakan negara, Assoc. Prof. Dr. (C) Riyanto Wujarso, Staf Ahli Ketua Komisi I DPR RI, menuturkan bahwa pengaturan penyiaran digital tidak hanya soal restrukturisasi ekosistem media, tetapi juga langkah strategis menjaga keamanan informasi nasional.
Ia menyatakan bahwa aturan baru harus mampu melindungi masyarakat, memastikan kompetisi yang sehat, serta memperkuat kapasitas konten lokal.
Sebagai pengawas isi siaran, Komisioner KPI Pusat Aliyah, S.S., M.L., menilai tantangan pengawasan kian besar seiring bertambahnya platform digital. Lonjakan distribusi konten lintas media membuat KPI perlu memperkuat teknologi monitoring demi menjaga kualitas siaran dan perlindungan publik, termasuk bagi anak-anak.
Kaprodi Ilmu Komunikasi Universitas Moestopo, Fizzy Andriani, M.Si., juga mengingatkan bahwa algoritma kini menjadi penentu persebaran informasi. Literasi digital dan etika penyiaran modern harus diperkuat untuk menghadapi ancaman deepfake, hoaks dan manipulasi ruang publik.
Acara yang dipandu Komisioner KPID DKI Jakarta Thomas Bambang Pamungkas, M.I.Kom., disambut antusias ratusan mahasiswa dari berbagai fakultas, mulai FKG, FISIP, FIKOM, FEB hingga FT.
Melalui diskusi ini, penyelenggara berharap generasi muda semakin memahami kompleksitas tantangan penyiaran digital sekaligus mendorong lahirnya kebijakan yang adaptif dan sesuai perkembangan teknologi informasi. (red).





