Putu Satria Kusuma Ajak Masyarakat Saksikan Pementasan Di Bawah Pohon Sukun di FSBJ VIII 

Foto: Teater Selem Putih kembali menghadirkan karya terbaru bertajuk Di Bawah Pohon Sukun dalam rangkaian Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Provinsi Bali, Denpasar, Minggu, 19 Juli 2026 pukul 20.00 WITA. (Balihotnews/ist).

Balihotnews.com | DENPASAR – Sutradara senior Bali, Putu Satria Kusuma mengajak masyarakat untuk menyaksikan pementasan terbaru Teater Selem Putih berjudul Di Bawah Pohon Sukun yang akan tampil dalam rangkaian Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026.

Pementasan yang mengangkat semangat pelestarian budaya melalui pendekatan teater kontemporer ini digelar di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Provinsi Bali, Denpasar, Minggu, 19 Juli 2026 pukul 20.00 WITA.

Putu Satria Kusuma menyampaikan undangan terbuka kepada masyarakat agar hadir dan memberikan apresiasi atas karya seni teater yang mengangkat nilai-nilai budaya Bali dengan pendekatan kontemporer.

“Kami mengundang masyarakat untuk menyaksikan pementasan Teater Selem Putih berjudul Di Bawah Pohon Sukun dalam Festival Seni Bali Jani VIII 2026. Semoga pementasan ini dapat menjadi ruang apresiasi sekaligus refleksi melalui seni pertunjukan,” ujarnya.

Di Bawah Pohon Sukun merupakan naskah yang ditulis sekaligus disutradarai oleh Putu Satria Kusuma. Pementasan ini diperkaya dengan dukungan musik dari Ben Prince MusikAsik dan Deuh Eternals, serta penataan gerak oleh Komang Diva Prasetya Wira Dharma.

Berita Terkait:  Bawa 23 IKM ke Kriyanusa 2026, Ny. Putri Koster Dorong Kerajinan Bali Tembus Pasar Internasional

Sejumlah aktor dan aktris turut ambil bagian dalam pertunjukan ini, diantaranya Ketut Purnada, Ketut Weker, Ni Putu Ayu Sri Darmayanti, Kadek Arlyn Aristianti, Made Ngurah Suartha, Luh Asti Apriyani, Komang Trisna Tresnasih, dan A.A. Ngurah Anggara Surya, bersama puluhan pemain lainnya.

Pementasan juga mendapat dukungan dari Teater Lalang SMKN 1 Singaraja serta Teater Ilalang SMA Lab Undiksha Singaraja, yang menjadi bagian dari kolaborasi lintas generasi dalam pengembangan seni teater di Bali.

Melalui karya ini, Teater Selem Putih kembali menegaskan komitmennya untuk terus menghidupkan seni teater kontemporer Bali yang berakar pada nilai-nilai budaya lokal, namun tetap relevan dengan dinamika dan persoalan kehidupan masyarakat masa kini.

Berita Terkait:  Kunjungi Kriyanusa 2026 Hari Keempat, Bupati Satria Pastikan Produk Klungkung Siap Tembus Pasar Luas

Kehadiran Di Bawah Pohon Sukun di panggung Festival Seni Bali Jani VIII diharapkan menjadi ruang dialog budaya sekaligus memperkuat ekosistem seni pertunjukan di Bali melalui karya-karya kreatif yang inovatif dan bermakna.

Pementasan Teater Selem Putih berjudul Di Bawah Pohon Sukun mengangkat kisah pengasingan Bung Karno di Ende, Nusa Tenggara Timur.

Drama ini mengajak penonton menelusuri proses perenungan yang kemudian melahirkan Pancasila sebagai dasar negara Indonesia. Melalui pendekatan teater, sejarah dipertemukan dengan imajinasi artistik untuk menghadirkan refleksi atas relevansi nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan Indonesia hari ini.

Cerita berpusat pada seorang wartawan perempuan yang datang ke Ende setelah mendengar kabar bahwa Sukarno tidak lagi menjalankan aktivitas politik. Di kota pengasingannya, ia justru mendirikan kelompok sandiwara dan sibuk mempersiapkan pementasan drama Koetkoetbi bersama masyarakat setempat yang sebagian besar belum pernah bermain teater.

Berita Terkait:  Jaga Peradaban dan Tradisi, Bupati Klungkung Hadiri Abhiseka Ida Dalem Smara Putra XVI

Di tengah proses latihan, seorang pelaut datang menawarkan jalan keluar agar Sukarno melarikan diri dari Ende dan kembali ke Jawa untuk melanjutkan perjuangan.

Sang wartawan pun mendesaknya melakukan hal yang sama. Namun, Sukarno memilih bertahan. Baginya, pengasingan bukan akhir perjuangan. Melalui seni pertunjukan, pendidikan, dan perenungan di bawah pohon sukun, ia tetap menyalakan semangat kebangsaan, bahkan diam-diam mengajarkan lagu Indonesia Raya kepada masyarakat meski harus menerima hukuman denda dari pemerintah kolonial Belanda.

Drama ini juga menghadirkan suara-suara rakyat yang mempertanyakan makna kemerdekaan. Akankah Indonesia yang merdeka benar-benar menghadirkan keadilan dan kesejahteraan bagi seluruh rakyatnya? Pergulatan itulah yang mengantar penonton menuju momen ketika Sukarno, pada Juni 1945, memperkenalkan hasil perenungannya yang kemudian dikenal sebagai Pancasila. (ace+vijay).

 

 

Berita Terkini