PTDI Dorong Bali Utara Jadi Pusat MRO, Fokus Awal pada SDM Tersertifikasi

Direktur Utama PTDI, Gita Amperiawan (kiri) dan Kabid Pelayaran, Dinas Perhubungan Provinsi Bali, I Gede Nyoman Ari (kanan). (Balihotnews/rahma)
Direktur Utama PTDI, Gita Amperiawan (kiri) dan Kabid Pelayaran, Dinas Perhubungan Provinsi Bali, I Gede Nyoman Ari (kanan). (Balihotnews/rahma)

Balihotnews.com | BADUNG – Bali Utara mulai masuk fase penyusunan teknis untuk rencana pembangunan fasilitas perawatan pesawat atau maintenance, repair dan operation (MRO).

PT Dirgantara Indonesia (PTDI) menegaskan bahwa fokus awal bukan pada bangunan atau peralatan, melainkan pada ketersediaan tenaga teknis bersertifikasi yang nantinya akan mengoperasikan fasilitas tersebut.

Direktur Utama PTDI, Gita Amperiawan, menyampaikan bahwa ekosistem MRO tidak dapat berjalan hanya dengan menyiapkan lokasi atau infrastruktur, sementara SDM yang memenuhi standar belum tersedia.

“Jadi kalau SDM kan harus disiapkan sebelum ada. Jadi kalau sudah ada (bengkel pesawat), SDM-nya belum ada kan gak mungkin jalan,” ujarnya saat doorstop sebelum FGD di Kuta, Badung, Selasa (25/11/2025).

PTDI kini mendorong perguruan tinggi di Bali untuk menyesuaikan kurikulum dengan memasukkan modul AMTO (Authorized Maintenance Training Organization).

Berita Terkait:  SKYY Network Luncurkan Pilot Project Pengiriman Drone di Nuanu Creative City dan Café del Mar Bali, Uji Inovasi di Ekosistem Nyata

Model ini dirancang agar lulusan tidak hanya membawa gelar akademik, tetapi juga sertifikasi teknisi penerbangan yang diakui industri.

“Jadi kita punya target Februari itu sudah harus masuk kepada mata kuliahnya di perguruan tinggi di Bali. Karena kalau sudah masuk AMTO itu kan berarti dosennya juga harus certified. Artinya harus kita upgrade untuk sesuai,” jelas Gita.

Pelatihan AMTO nantinya mencakup teori sebanyak sekitar 70 jam dan praktik sekitar 730 jam. Tahap awal memanfaatkan laboratorium kampus sebelum fasilitas khusus MRO tersedia.

Untuk lokasi pengembangan fasilitas, PTDI melihat Bandara Letkol Wisnu di Buleleng sebagai titik paling realistis. Gita menyebut bandara tersebut telah disiapkan oleh Dishub Bali sebagai lokasi revitalisasi.

“Which is itu sangat ideal. Pertama adalah posisinya sendiri di Bali Utara. Kedua sudah ada runway, cukup untuk N219 PT Dirgantara Indonesia, itu ada 900, kita cukup 800 saja,” kata dia.

Berita Terkait:  Pemkab Klungkung Gandeng Korea Selatan Wujudkan Transisi Energi dan Nusa Penida Green Island 2030

Runway tersebut juga memungkinkan perpanjangan dan dinilai cocok untuk pengembangan pesawat amfibi yang sedang dikerjakan PTDI.

Di sisi lain, PTDI menemukan gap signifikan antara kebutuhan teknisi pesawat dan ketersediaan SDM saat ini.

“Kecepatan pertumbuhan lapangan kerja itu menurut data BPS itu 8% setahun. Sedangkan pemenuhannya hanya 3%,” ungkapnya.

Pada tahap awal, kelas pelatihan AMTO direncanakan berisi 20–25 peserta, dan dapat dibuka paralel jika peminatnya tinggi. Berdasarkan survei awal, minat mahasiswa di Bali cukup besar.

“Kalau kami melihat kemarin luar biasa minatnya gitu. Dan ini kan hal yang baru,” tambahnya.

Bali dinilai memiliki posisi strategis untuk pengembangan ekosistem MRO karena dekat dengan wilayah Indonesia timur yang banyak bergantung pada transportasi perintis.

Berita Terkait:  Kunjungi Ditjen Infrastruktur Digital, Pj. Sekda Agung Mahajaya Perjuangkan Penguatan Jaringan Telekomunikasi di Nusa Penida

Pesawat N219 yang dikembangkan PTDI dirancang untuk landasan pendek, dapat membawa penumpang maupun kargo, serta mampu mendarat di runway tidak beraspal.

“Ada kurang lebih 100 penerbangan perintis di kita. Yang runway-nya itu di bawah 1 kilo. Dan itu 219. Dan 219 itu bisa take-off and landing yang tidak aspal,” ujar Gita.

Jika penyelarasan kurikulum dan penyiapan SDM berjalan sesuai rencana, Bali berpeluang memperluas perannya di sektor aviasi, tidak hanya sebagai tujuan wisata, tetapi juga sebagai pusat pelatihan, sertifikasi, dan layanan teknis penerbangan untuk kawasan Indonesia tengah dan timur. (rhm)

Berita Terkini