Edukasi Konservasi Sejak Dini, Yayasan Jati Nusa Lestari Hijaukan Pejeng Gianyar

Anak-anak bersama Yayasan Jati Nusa Lestari menanam bibit pohon jati di kawasan rawan longsor Desa Pejeng, Kabupaten Gianyar, Sabtu (10/1/2026) pekan lalu. Kegiatan ini merupakan upaya mitigasi bencana sekaligus edukasi pelestarian alam bagi generasi muda. (Balihotnews/Ist).
Anak-anak bersama Yayasan Jati Nusa Lestari menanam bibit pohon jati di kawasan rawan longsor Desa Pejeng, Kabupaten Gianyar, Sabtu (10/1/2026) pekan lalu. Kegiatan ini merupakan upaya mitigasi bencana sekaligus edukasi pelestarian alam bagi generasi muda. (Balihotnews/Ist).

​Balihotnews.com | GIANYAR – Upaya mitigasi bencana hidrometeorologi dan edukasi lingkungan sejak dini terus digencarkan di Bali.

Memanfaatkan momentum Hari Gerakan Sejuta Pohon, Yayasan Jati Nusa Lestari meresmikan kebun contoh tanaman jati di kawasan rawan longsor Desa Pejeng, Kabupaten Gianyar, Sabtu (10/1/2026) pekan lalu. Langkah ini menjadi wujud nyata konservasi berkelanjutan yang melibatkan lintas generasi.

Di bawah terik matahari pagi, puluhan anak dari Generasi Alfa—didampingi Nuanu Kids Academy—tampak antusias menanam bibit pohon jati. Keterlibatan anak-anak ini bukan sekadar seremonial, melainkan strategi menanamkan literasi ekologis kepada generasi penerus tentang pentingnya menjaga keseimbangan alam Pulau Dewata.

Ketua Yayasan Jati Nusa Lestari, Novi Dwi Jayanti, menjelaskan bahwa kegiatan ini merupakan respons konkret terhadap kondisi geografis Desa Pejeng yang rentan terhadap pergeseran tanah.

Berita Terkait:  KMHDI di Mahasabha PHDI: Pendidikan, Kemandirian Ekonomi, dan Politik Keumatan harus Jadi Prioritas

Pohon jati pun dipilih karena karakteristik akarnya yang kuat dalam mengikat tanah, sehingga efektif sebagai penyangga alami.

“Kegiatan ini menjadi aksi nyata kepedulian lingkungan sekaligus sarana menanamkan kesadaran kepada generasi muda. Kami ingin memastikan pemulihan alam Bali dilakukan secara estafet, mulai dari sekarang hingga masa depan,” ujar Novi dalam keterangan tertulis yang diterima, Sabtu (17/1/2026).

Keberlanjutan Program

Gerakan di Pejeng ini merupakan eskalasi dari Program Jati Nusantara yang telah dirintis sejak tahun 2025 melalui inisiatif Adopsi Pohon di kawasan Pantai Nyanyi.

Dari langkah awal tersebut, semangat konservasi kini meluas menjadi pembuatan kebun contoh yang berfungsi ganda: sebagai laboratorium alam dan infrastruktur hijau penahan longsor.

Berita Terkait:  Mengawal Rp 2,15 Triliun Uang Rakyat di APBD Tabanan 2027

Tidak hanya berfokus pada penanaman, Yayasan Jati Nusa Lestari menerapkan pendekatan kolaboratif yang unik dengan menggandeng sektor seni. Bekerja sama dengan Labyrinth Art Gallery, yayasan ini menggelar pameran lukisan bertema lingkungan.

Karya seni digunakan sebagai medium advokasi yang menyentuh, di mana setiap lukisan merepresentasikan harapan akan Bali yang lebih asri.

​”Ini adalah komitmen jangka panjang untuk menjaga keharmonisan antara manusia, alam, dan nilai luhur budaya. Konsistensi dan kolaborasi adalah kunci menjaga keasrian Bali,” tambah Novi.

Rencana Jangka Panjang

Ke depan, Yayasan Jati Nusa Lestari berencana memperluas cakupan wilayah penghijauan. Selain pohon jati yang berfungsi sebagai penguat tanah, program ini juga akan menanam bambu di sejumlah titik kritis di Bali.

Berita Terkait:  Kolaborasi dengan Sungai Watch dan Relawan, Gerakan Kulkul PKK dan Posyandu Bersihkan Kawasan Hutan Bakau Sidakarya

Bambu dinilai efektif sebagai tanaman mitigasi untuk menahan laju erosi dan longsor di lahan curam.

Sebagai organisasi nirlaba, Jati Nusa Lestari berupaya memadukan tantangan ekologi, sosial budaya, dan ekonomi masyarakat melalui kerangka Falsafah Jati Nusantara.

Inisiatif ini diharapkan menjadi model integratif bagi masa depan Bali yang tangguh bencana dan tetap berpijak pada nilai-nilai leluhur.*** (dre)

 

 

Berita Terkini