Balihotnews.com | DENPASAR – Narasi Bali sepi yang belakangan ramai di media sosial dinilai bukan sekadar opini biasa. Ketika framing tersebut justru ikut disebarkan oleh politisi, dampaknya dianggap berbahaya, karena berpotensi merusak sumber penghidupan masyarakat Bali yang sangat bergantung pada sektor pariwisata.
Pariwisata Bali selama ini tumbuh dari kepercayaan global. Sekali persepsi negatif terbangun, dampaknya bisa meluas dan berlangsung lama.
Framing Bali sepi bukan hanya menimbulkan kekhawatiran di kalangan wisatawan, tetapi juga mengirim sinyal buruk ke pasar internasional yang berdampak langsung pada tingkat kunjungan dan perputaran ekonomi daerah.
Efek dari narasi tersebut dirasakan hingga lapisan paling bawah. Pekerja hotel, pemandu wisata, sopir transportasi pariwisata, pedagang kecil, hingga pelaku UMKM di desa-desa menjadi kelompok yang paling rentan terdampak. Ketika kepercayaan menurun, pendapatan masyarakat ikut tergerus.
Ironisnya, framing Bali sepi justru kerap datang dari politisi asal Bali sendiri. Demi kepentingan politik jangka pendek dan upaya menjatuhkan lawan, citra Bali dijadikan alat.
Padahal yang dikorbankan bukan sekadar reputasi pemerintah atau pejabat tertentu, melainkan dapur dan keberlangsungan hidup masyarakat Bali.
Kritik terhadap kebijakan sejatinya diperlukan sebagai bagian dari demokrasi.
Namun, framing yang menciptakan ketakutan publik dinilai berbeda dengan kritik konstruktif. Ketika politisi ikut menggiring narasi Bali lesu, tindakan tersebut lebih menyerupai sabotase ekonomi ketimbang kontrol terhadap kekuasaan.
Dalam industri pariwisata, persepsi sering kali lebih menentukan daripada kondisi riil di lapangan. Sekali kesan negatif tertanam, upaya pemulihan membutuhkan waktu panjang dan biaya besar. Karena itu, framing Bali sepi dinilai setara dengan perlahan mematikan mata pencaharian masyarakat sendiri.
Bali tidak anti kritik. Persoalan lingkungan, tata ruang, dan keberlanjutan pariwisata memang harus terus dibenahi. Namun ada batas tegas antara kritik dan tindakan yang merusak. Menjatuhkan citra Bali demi ambisi politik sesaat dinilai sebagai sikap yang tidak bermoral.
Ditengah persaingan destinasi global yang semakin ketat, Bali membutuhkan narasi yang membangun, bukan politisi yang justru membakar lumbung ekonominya sendiri. (red).







