Balihotnews.com | DENPASAR – Pemerintah Provinsi (Pemprov) Bali menyerahkan plakat proyek Yunnan Hand in Hand buat Yayasan Jejaring Pengembangan Desa Wisata Indonesia (JPDWI) Wilayah Bali sebagai bagian dari penguatan kerja sama Bali dengan Provinsi Yunnan, Tiongkok.
Plakat tersebut diserahkan Kepala Biro Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Setda Provinsi Bali I Made Supartha kepada Ketua Umum JPDWI Wilayah Bali I Gede Putu Eka Budiyasa dalam peluncuran Yunnan Hand in Hand Program “Proyek Kerja Sama Ekowisata dan Pertanian di Provinsi Bali melalui Penerangan Tenaga Surya dan Peningkatan Pertanian Organik” di Ruang Rapat Wiswa Sabha Utama, Kantor Gubernur Bali, Rabu, 12 Agustus 2026.
Program tersebut menjadi salah satu bentuk konkret hubungan persahabatan Bali-Yunnan yang diarahkan pada pengembangan pertanian hijau, ekowisata, energi bersih dan pertukaran budaya.
Ketua Umum JPDWI Wilayah Bali I Gede Putu Eka Budiyasa mengatakan, peluncuran program tersebut menjadi bukti bahwa kerja sama yang telah dirintis sebelumnya mulai memberikan hasil nyata.
“Peluncuran program hari ini menjawab keraguan atas tujuan itu sehingga tahun berikutnya mudah-mudahan bisa berkembang ke Kabupaten lainnya,” kata Eka Budiyasa.
Menurutnya, dukungan terhadap pertanian organik memiliki peran penting dalam pengembangan pariwisata Bali. JPDWI Bali juga semakin banyak menerima undangan dari kelompok sadar wisata dan kepala desa yang melihat potensi wilayahnya untuk dikembangkan menjadi desa wisata.
“Disinilah tugas kami bagaimana akan membuat pembeda-pembeda pada masing-masing daerah,” terangnya.
Eka Budiyasa juga berharap pengembangan desa wisata dan pertanian organik dapat terus berjalan sekaligus mendukung kebijakan Pemerintah Provinsi Bali, khususnya Perda tentang Pertanian Organik.
Dalam proyek terbaru ini, pengembangan pertanian tidak hanya diarahkan pada budidaya padi organik. Ke depan, program juga akan mencakup perkebunan organik dan perikanan.
Kepala Bagian Kerja Sama Biro Pemerintahan dan Kesra Setda Provinsi Bali Ni GAN Adyani Utari mengatakan, kerja sama Bali dan Yunnan telah berlangsung selama 22 tahun sejak hubungan persahabatan kedua provinsi dimulai pada 22 November 2003.
Salah satu program konkret kerja sama tersebut dikembangkan di Desa Senganan, Kecamatan Penebel, Kabupaten Tabanan, sebagai pilot project yang dimulai pada 2024.
“Pada tahun 2024 sudah terjadi pengembangan pertanian organik sampai akhirnya beranjak menjadi Agro Ekowisata,” jelasnya.
Menurut Adyani Utari, program kerja sama tersebut juga telah memberikan bantuan ternak sapi, bibit dan pupuk organik. Selain bantuan sarana, petani mendapat pendampingan mengenai pembuatan pupuk organik hingga proses sertifikasi.
“Kemudian ada pendampingan kepada petani, bagaimana caranya membuat pupuk organik dan melakukan sertifikasi, karena kedepan yang namanya padi ini bisa tervalidasi apabila sudah tersertifikasi,” kata Adyani Utari.
Pemerintah Provinsi (Pemprov) Bali juga melakukan monitoring dan evaluasi ke Desa Senganan. Antusiasme petani disebut semakin meningkat, bahkan terdapat kelompok tani yang ingin terlibat dalam proyek berikutnya.
“Bahkan, ada kelompok-kelompok tani yang ingin ikut serta di proyek-proyek selanjutnya sehingga harapan kami dari Pemerintah Provinsi Yunnan agar proyek ini tetap berjalan konsisten karena petani pun bisa secara mandiri mengolah pertanian dari non organik menjadi organik tentu sangat mendukung dari kebijakan Pemprov Bali,” kata Adyani Utari.
Sementara itu, Wakil Konsul Jenderal Republik Rakyat Tiongkok di Denpasar, Zhu Yu mengatakan hubungan Bali dan Yunnan telah berkembang selama lebih dari dua dekade. Kedua provinsi secara resmi menjalin hubungan persahabatan pada 2003 dan Yunnan menjadi provinsi pertama di Tiongkok yang membangun hubungan persahabatan dengan Bali.
Kerja sama kemudian berkembang ke berbagai sektor, termasuk kebudayaan, pariwisata, pertanian dan pertukaran masyarakat. Program Yunnan Hand in Hand mulai dilaksanakan di Bali sejak 2024.
Dalam program tersebut, Yunnan memberikan bantuan bibit padi organik unggul, pelatihan teknik budidaya dan penanaman serta fasilitas pendukung pariwisata pedesaan di Tabanan.
Hingga kini, luas lahan yang mengikuti program budidaya padi organik mencapai hampir 17 hektar. Produktivitas padi meningkat dari rata-rata sekitar 4.000 kilogram menjadi lebih dari 4.500 kilogram per hektar.
Selama dua tahun pelaksanaan, program tersebut telah memberikan manfaat kepada lebih dari 1.000 petani lokal dengan peningkatan rata-rata pendapatan tahunan lebih dari 20 persen.
Pada 2026, kerja sama diperluas melalui proyek energi bersih dan pertanian organik. Proyek tersebut mencakup pembangunan 27 unit lampu penerangan jalan bertenaga surya serta pengembangan kawasan percontohan budidaya padi organik seluas 10 hektar.
Kolaborasi tersebut menggabungkan energi terbarukan, pertanian organik dan ekowisata sebagai upaya mendorong pembangunan desa yang lebih berkelanjutan.
Pemerintah Provinsi (Pemprov) Bali menilai pengembangan Agro Ekowisata menjadi bagian penting dari arah pembangunan daerah yang menempatkan keberlanjutan, pelestarian lingkungan dan kesejahteraan masyarakat sebagai prioritas.
Pemprov Bali berharap kerja sama dengan Yunnan terus melahirkan program konkret yang memberikan manfaat langsung bagi petani, masyarakat desa, UMKM dan pelaku ekonomi lokal.
Oleh karena itu, pihaknya juga berharap hubungan antarmasyarakat Bali dan Yunnan semakin kuat sebagai pondasi hubungan Indonesia-Tiongkok.
“Semoga persahabatan dan kerja sama antara Yunnan dan Bali senantiasa tumbuh semakin erat, menghasilkan lebih banyak capaian positif, dan menjadi jembatan penting dalam memperkokoh hubungan persahabatan antara Tiongkok dan Indonesia,” pungkasnya. (ace).





