Balihotnews.com | DENPASAR – Inisiatif ruang seni alternatif kembali tumbuh di Denpasar. NgabubuART #3 hadir sebagai wadah kolektif yang mempertemukan street art dan seni rupa, sekaligus membuka ruang kolaborasi lintas komunitas.
Kegiatan ini tidak sekadar menjadi ajang pameran, tetapi juga diarahkan sebagai ruang bertemu, bertukar ide, sekaligus memperkuat jaringan antar seniman lintas latar belakang.
Mengambil momentum Ramadan, konsep ngabuburit diolah menjadi aktivitas yang lebih produktif. Anak muda tidak hanya menunggu waktu berbuka, tetapi juga didorong untuk berkarya, berdiskusi, hingga membangun relasi kreatif.
Founder Paw Workshop Studio, Fandi Putra Tama atau Phan Paw, menegaskan bahwa NgabubuART membawa misi yang lebih luas dari sekadar pameran seni.
“Pesan utamanya adalah kolektivitas dan regenerasi. Kami ingin menunjukkan bahwa street art bukan sekadar corat-coret tanpa arah, melainkan sebuah gerakan seni yang punya disiplin tinggi dan mampu meningkatkan kualitas SDM para pelakunya melalui pameran serta kompetisi yang sehat,” ujar Fandi
Dorong Standar dan Kualitas Karya
Berbeda dari penyelenggaraan sebelumnya, NgabubuART #3 menekankan pemerataan kualitas karya. Salah satu pendekatan yang dihadirkan adalah format Graffiti Battle untuk mengasah kemampuan teknis para seniman.
“Selain itu, keterlibatan akademisi dan praktisi seni lebih intens tahun ini agar terjadi dialog antara teori seni dan praktik di jalanan,” kata Fandi yang kerap dipanggil Phan Paw ini.
Tidak hanya mural dan graffiti, pameran ini juga menampilkan berbagai medium lain seperti panel, sketsa, hingga karya digital yang dikemas dalam format lebih formal.
Rangkaian kegiatan turut dilengkapi dengan diskusi manajemen seni, sesi jamming, dan sketching bersama. Aktivitas ini memperkuat fungsi acara sebagai ruang belajar sekaligus ruang interaksi komunitas.
NgabubuART #3 digelar pada 14 Maret 2026 dan berlangsung hingga 21 Maret 2026. Sekitar 20 seniman terlibat, baik nama lama maupun talenta baru dari Denpasar dan sekitarnya. Total karya yang dipamerkan mencapai 20 karya, ditambah satu mural kolaboratif berukuran besar hasil jamming bersama.
Ruang Inklusif Lintas Komunitas
Meski berangkat dari momentum Ramadan, NgabubuART tidak membatasi partisipasi berdasarkan latar belakang agama. Justru, kegiatan ini menjadi ruang inklusif yang mempertemukan berbagai komunitas.
“Teman-teman non-muslim sangat antusias mendukung, karena bagi kami Ramadan adalah momen penuh toleransi. Seni adalah bahasa universal yang menyatukan kami tanpa memandang latar belakang keyakinan,” terang dia.
Pendekatan ini sekaligus menunjukkan bahwa nilai kebersamaan khas Bali, seperti menyama braya, tetap relevan dalam konteks ruang kreatif urban.
Ke depan, Paw Workshop Studio menargetkan NgabubuART berkembang lebih dari sekadar agenda tahunan. Mereka ingin mendorong lahirnya standar baru dalam pergerakan street art di Bali.
“Kami ingin setelah acara ini, kesadaran para seniman akan pentingnya mengelola karya secara profesional meningkat, sehingga ekosistem kreatif di Denpasar semakin sehat dan diakui secara luas,” pungkas Paw.





