Mengedukasi! The Sukarno Center Wisata Sejarah Jejak Sang Proklamator di Pulau Dewata

The Sukarno Center, wisata sejarah jejak Sang Proklamator di Pulau Dewata. (balihotnews/dok.bali.viva)

Balihotnews.com | GIANYAR – Berlibur ke Bali tidak selalu identik dengan menjelajahi pantai atau keindahan alamnya.

Pulau ini juga menawarkan deretan destinasi budaya dan sejarah yang tak kalah menarik untuk dieksplorasi.

Salah satunya adalah The Sukarno Center, museum yang menyajikan berbagai koleksi berharga tentang perjalanan hidup serta perjuangan Sang Proklamator Indonesia.

Mengunjungi tempat ini memberikan pengalaman berbeda, membawa wisatawan lebih dekat dengan sejarah, memahami sosok Bung Karno secara lebih mendalam, dan tetap menjadi bagian dari perjalanan wisata yang mengesankan di Bali.

The Sukarno Center berlokasi di Jalan Pejeng Kaja–Tampak Siring No. 751, Desa Sanding, Kecamatan Tampaksiring, Kabupaten Gianyar, tidak jauh dari Istana Kepresidenan Tampaksiring.

Museum yang berada di kawasan Istana Mancawarna ini didirikan oleh Sukmawati Soekarnoputri dan diresmikan pada 6 Juni 2009, bertepatan dengan hari kelahiran Bung Karno, sebelum akhirnya dibuka untuk umum pada 10 November 2011.

Berita Terkait:  Batam Bisa Jadi “Dubai Kecil”, Investor Global Mulai Melirik?

Pengelolaan museum berada di bawah Yayasan Sukma Sukarno Indonesia, sementara posisi direktur dijabat oleh Dr. Shri I Gusti Ngurah Arya Wedakarna MWS III, seorang dosen Universitas Mahendradata.

Keberadaan museum ini semakin bermakna karena Bung Karno memiliki ikatan kekerabatan yang kuat dengan Bali.

Ibunda beliau, Ida Ayu Nyoman Rai, adalah putri asli Tanah Bali, sehingga garis leluhur dan hubungan kekeluargaan Bung Karno menyatu erat dengan masyarakat setempat.

Wilayah Tampaksiring sejak lama dikenal sangat identik dengan nama Bung Karno, sehingga cocok untuk menghadirkan museum yang menyimpan jejak hidupnya.

The Sukarno Center, berdiri dua lantai di atas lahan seluas 1000 meter persegi, dirawat rapi dan sangat bersih, menampilkan koleksi antik, foto, serta berbagai benda pribadi yang menceritakan perjalanan hidup dan prestasi Bung Karno.

Di hampir seluruh sisi dinding, ratusan foto kenangan Bung Karno, sekitar 150 buah, menghiasi ruangan, ditemani benda-benda pribadi seperti tongkat komando, medali kehormatan, dan sejumlah penghargaan yang diterimanya selama menjabat sebagai Presiden Indonesia.

Berita Terkait:  ITDC Kolaborasi Hadirkan Indonesian Cigar Festival 2026 di The Nusa Dua, Perkuat Daya Tarik Bali Collection sebagai Pusat Lifestyle dan Event

Di pintu masuk, pengunjung disambut kereta emas yang pernah digunakan Bung Karno, sementara di salah satu ruangan terpajang lukisan legendaris Ratu Pantai Selatan Nyi Roro Kidul yang kadang diiringi alunan musik gamelan lawas, menciptakan perpaduan budaya Jawa dan Bali yang syahdu.

Setiap sudut ruangan menampilkan makna historis dan kultural, termasuk ruang makan yang dahulu digunakan para pemimpin dunia saat berkunjung ke Tampaksiring, lengkap dengan berbagai bendera nasional.

Ruang besar di lantai dua yang dulunya menjadi tempat pertemuan dengan pemimpin dunia, dihiasi lukisan mulai dari abstrak hingga tokoh sejarah seperti Gajah Mada.

Bangunan ini ditata elegan, dengan standar pengamanan tinggi termasuk pengawasan CCTV di seluruh sudut dan petugas, termasuk Paspampres, yang siaga memastikan keamanan koleksi bersejarah tetap terjaga, menjadikan museum ini tidak hanya sebagai destinasi wisata edukatif tetapi juga ruang penghormatan bagi warisan Presiden pertama Indonesia.

Berita Terkait:  Gubernur Koster Serahkan CSR St Regis untuk Pelestarian Seni dan Budaya Bali

Museum Soekarno Tampaksiring atau The Sukarno Center buka setiap hari mulai pukul 09:00 WITA hingga 18:00 WITA dengan tiket masuk dewasa yang terjangkau, hanya Rp20.000 per orang.

Lokasinya dapat ditempuh sekitar satu jam perjalanan dari Bandar Udara I Gusti Ngurah Rai, dan hampir selalu masuk dalam jalur wisata travel yang sekaligus mengunjungi objek-objek dekat seperti Istana Tampaksiring, Pura Tirta Empul, Kintamani, dan Danau Beratan Bedugul.

Saat menyusuri museum, pengunjung diwajibkan membuka alas kaki dan mematuhi aturan yang berlaku, termasuk tidak memotret koleksi, tidak menyentuh benda-benda bersejarah, dan menjaga kebersihan, sehingga pengalaman berwisata di The Sukarno Center tetap nyaman sekaligus edukatif. (ani)

Berita Terkini