Balihotnews.com l SINGARAJA- Menuntut panen saat benih baru saja disemai adalah kebiasaan buruk yang terus dipelihara oleh para kritikus pembangunan. Menjelang penyelesaian tahap kedua Turyapada Tower di Buleleng, narasi sumbang kembali bergema.
Tuduhan bahwa proyek ini hanya menguntungkan “kelompok tertentu” dan mengabaikan masyarakat lokal adalah lagu lama yang diputar ulang setiap kali ada mega-proyek di Bali.
Mari kita bedah satu per satu kekhawatiran prematur ini dengan kacamata realitas, bukan sekadar asumsi berbalut pesimisme.
๐ญ. ๐๐ฎ๐บ๐ฝ๐ฎ๐ธ ๐๐ธ๐ผ๐ป๐ผ๐บ๐ถ ๐๐ฒ๐น๐๐บ ๐ง๐ฒ๐ฟ๐ฎ๐๐ฎ? ๐ฃ๐ฟ๐ผ๐๐ฒ๐ธ๐ป๐๐ฎ ๐ฆ๐ฎ๐ท๐ฎ ๐๐ฒ๐น๐๐บ ๐ฆ๐ฒ๐น๐ฒ๐๐ฎ๐ถ!
Narasi yang mempertanyakan “masyarakat Bali mana yang merasakan manfaatnya” saat ini adalah sebuah kecacatan logika. Bagaimana mungkin sebuah infrastruktur pariwisata yang masih berwujud kerangka dan alat berat diharapkan sudah meneteskan uang ke kantong warga?
Turyapada Tower dibangun sebagai investasi jangka panjang untuk memecah konsentrasi pariwisata yang selama ini hanya menumpuk di Bali Selatan. Menghakimi dampak ekonomi dari sebuah proyek yang baru ditargetkan beroperasi akhir 2026 sama lucunya dengan mengeluhkan rasa masakan yang masih berada di atas kompor.
๐ฎ. ๐ฆ๐๐ฎ๐ป๐ฑ๐ฎ๐ฟ ๐๐ฎ๐ป๐ฑ๐ฎ: ๐๐ฒ๐ฝ๐ฎ๐ ๐๐ถ๐๐๐ฑ๐๐ต ๐ฅ๐ฎ๐๐ฎ๐ป, ๐๐ฎ๐บ๐ฏ๐ฎ๐ ๐๐ถ๐๐ฒ๐ฟ๐ถ๐ฎ๐ธ๐ถ ๐ ๐ฎ๐ป๐ด๐ธ๐ฟ๐ฎ๐ธ
Pemerintah Provinsi Bali mempercepat pembebasan lahan karena gondola dari China akan tiba bulan Juni. Ini adalah bentuk efisiensi dan komitmen pada timeline kerja. Namun, langkah ini justru dicurigai “rawan konflik” dan “tidak transparan”.
Publik sering kali terjebak dalam standar ganda:
Jika proyek lambat, pemerintah dituduh tidak becus dan membiarkan proyek mangkrak.
Jika proyek dikebut agar sesuai target, pemerintah dituduh gegabah dan mengabaikan warga.
Pembebasan lahan untuk kepentingan umum selalu ada regulasi dan tim appraisal-nya. Mengasumsikan akan terjadi perampasan hak tanpa ada bukti di lapangan hanyalah ketakutan yang sengaja diciptakan untuk memicu polemik.
๐ฏ. ๐ ๐ฒ๐ป๐ด๐ด๐๐ด๐ฎ๐ ๐ก๐ฎ๐ฟ๐ฎ๐๐ถ “๐ฃ๐ฟ๐ผ๐๐ฒ๐ธ ๐๐น๐ถ๐”
Klaim bahwa proyek ini hanya menguntungkan “pihak tertentu” adalah tuduhan yang malas. Siapa yang dimaksud dengan “pihak tertentu”? Apakah investor dan kontraktor? Tentu saja mereka mendapat untung, ini adalah proyek bisnis dan infrastruktur, bukan kegiatan amal.
Namun, apakah warga Buleleng hanya akan jadi penonton? Itu sepenuhnya tergantung pada warga sendiri.
Siapa yang akan mengisi ribuan lapangan kerja di sektor hospitality, pemeliharaan, restoran, dan UMKM di sekitar tower nanti?
Apakah warga lokal akan bersiap meningkatkan kapasitas diri, atau lebih suka duduk di pinggir jalan sambil meratapi nasib dan merasa menjadi “korban pembangunan”?
Sebuah fasilitas kelas dunia membutuhkan manajemen kelas dunia (termasuk teknologi gondola dari China yang sudah teruji skalanya). Jika skema pengelolaannya melibatkan pihak profesional, itu demi memastikan Turyapada Tower tidak menjadi aset rongsokan dalam lima tahun ke depan. Transparansi memang wajib, tapi menuntut data mentah bisnis dibuka saat negosiasi masih berjalan adalah hal yang tidak realistis dalam dunia investasi.
๐๐ฒ๐ฟ๐ต๐ฒ๐ป๐๐ถ ๐ ๐ฒ๐ป๐ท๐ฎ๐ฑ๐ถ “๐ฆ๐ถ ๐ฃ๐ฎ๐น๐ถ๐ป๐ด ๐ง๐ฒ๐ฟ๐บ๐ฎ๐ฟ๐ท๐ถ๐ป๐ฎ๐น๐ธ๐ฎ๐ป”
Pertanyaan “siapa yang diuntungkan, perorangan atau golongan?” sebenarnya mencerminkan ketakutan kita sendiri untuk bersaing. Turyapada Tower adalah kail, bukan ikan yang disuapkan langsung ke mulut masyarakat.
Jika pada akhir 2026 warga Buleleng benar-benar hanya menjadi penonton di tanahnya sendiri, mungkin kita harus berhenti menyalahkan menara yang berdiri tegak, dan mulai mengevaluasi mengapa kita menolak belajar memanjat. Infrastruktur sudah dibangun, dan sekarang saatnya masyarakat menyiapkan diri. (Bhn)






