Balihotnews.com | DENPASAR – Setelah dua kali rehat panjang dari dunia seni rupa, masing-masing pada tahun 2013 dan 2021, seniman keturunan Tionghoa, Lie Ping Ping atau yang akrab disapa Ping Ping, akhirnya kembali dengan karya terbaru.
Tahun 2025 ini menjadi hal penting baginya untuk merayakan perjalanan hidup yang sarat pengalaman pahit, kesendirian, sekaligus kebangkitan.
Ping Ping mengaku masa vakum tersebut terjadi bukan tanpa alasan. Kehilangan orang tua secara beruntun memberi tekanan batin yang dalam.
“Kalau ditanya penyebabnya, sebenarnya tidak tahu persis. Mungkin lebih ke arah tekanan lingkungan. Karena di tahun-tahun saya berhenti itu, orang tua meninggal. Jadi yang pertama ibu yang meninggal, yang kedua bapak yang meninggal. Jadi ada tekanan di sana,” ujarnya.
Meski memilih menepi, Ping Ping tidak sepenuhnya meninggalkan kuas dan cat. Ia tetap melukis, hanya saja karya-karyanya tidak pernah dipublikasikan.
“Saya tetap gambar, tapi hanya sketsa-sketsa kecil di rumah. Karena mikirnya sendiri itu enak. Kayak nggak ada yang menghakimi, nggak ada yang ngurusin kita. Rasanya safety aja hidup,” katanya.
Berawal dari Ajakan Seorang Teman
Kepulangannya ke panggung seni justru berawal dari ajakan seorang teman. Awalnya, ia hanya diminta menghias dinding sebuah coffee shop yang sempat tutup pasca-pandemi. Dari situ, lahir ide kolaborasi antara seni rupa, musik, dan ruang kopi yang kemudian melahirkan sebuah pameran.
Pameran tersebut digelar di Ruko Kopi, Sudirman, Denpasar Barat dengan mengusung tema “Mutualism”. Tema ini dipilih sebagai simbol hubungan saling mengisi antara seniman, musisi, dan pemilik ruang.
“Kalau secara khusus, karya saya bercerita tentang bagaimana hal-hal buruk yang saya alami bisa jadi sesuatu yang menyenangkan untuk dilihat orang lain. Makanya warnanya cerah, figurnya lucu, meskipun lahir dari pengalaman yang sedih,” jelas Ping Ping.
Alumni ISI Denpasar angkatan 2007 ini memang dikenal dengan gaya lukis yang lugas dan polos. Banyak karyanya terinspirasi dari masa kecil, sehingga sering disebut menyerupai “gambar anak-anak”. Namun justru kejujuran ekspresi itulah yang menjadi kekuatannya.
“Saya berangkat dari masa kecil saya sendiri. Jadi lukisannya belak-belakan saja, tanpa disaring,” ungkapnya.
Menariknya, meskipun sempat memilih menyepi, karya Ping Ping tetap diminati.
“Itu yang unik. Jadi bukan karena tidak ada pembeli. Justru saya kadang risih dengan sorotan orang. Saya lebih senang duduk di pojok, tidak ada yang tahu saya pelukisnya. Rasanya lega,” tuturnya.
Kini, melalui pameran Mutualism, Ping Ping ingin membuktikan bahwa seni bukan sekadar media ekspresi, melainkan juga jalan penyembuhan.
“Awalnya hanya curhat, tapi ternyata bisa berguna untuk orang lain. Jadi pengalaman buruk tetap bisa didaur ulang jadi sesuatu yang indah,” pungkasnya. (rhm)





