Konservasi Tukik di Pantai Banyuasri Buleleng Mulai Dibangun, Siap Jadi Wisata Edukasi

Foto: Dinas Pertanian Peternakan dan Ketahanan Pangan Kabupaten Buleleng meninjau pengembangan awal konservasi tukik di Banyuasri Buleleng. (Balihotnews/ist).

Balihotnews.com | BULELENG – Upaya pelestarian penyu di kawasan pesisir Bali Utara mulai diperkuat melalui pembangunan awal konservasi tukik di Pantai Banyuasri, Kabupaten Buleleng. Program ini digagas sebagai langkah penyelamatan telur penyu sekaligus pengembangan destinasi wisata edukasi berbasis konservasi lingkungan.

Pembangunan tahap awal dilakukan dengan membuat bak penampungan sementara untuk telur penyu yang ditemukan di kawasan pantai. Fasilitas sederhana tersebut diharapkan mampu mengurangi risiko kerusakan telur akibat predator maupun aktivitas manusia.

Kepala Dinas Pertanian Peternakan dan Ketahanan Pangan Kabupaten Buleleng, I Gede Melandrat mengatakan wilayah Buleleng memiliki garis pantai sepanjang 157,05 kilometer yang menjadi habitat bertelur berbagai jenis penyu.

Ia menjelaskan, beberapa jenis penyu yang sering ditemukan di pesisir Bali Utara antara lain penyu sisik hijau dan penyu belimbing. Kawasan pantai dengan tumbuhan katang-katang disebut menjadi lokasi favorit penyu untuk bertelur.

Berita Terkait:  Dari Sampah Menjadi Nilai Tambah, Pelindo Lanjutkan Program WISE di Ring 1 Pelabuhan Benoa 

“Paling banyak yang bertelur adalah penyu sisik hijau, seperti di Pantai Kerobokan, Pelabuhan Buleleng, kawasan Pantai Banyuasri, dan seputar Lovina,” kata Melandrat.

Menurutnya, pelestarian habitat penyu memerlukan keterlibatan aktif masyarakat pesisir. Karena itu, pemerintah mendorong kelompok masyarakat untuk ikut menjaga telur penyu melalui penampungan sementara sebelum dipindahkan ke lokasi konservasi yang lebih aman.

“Jika penyu bertelur agar menandai tempat tersebut serta menutup dengan keranjang agar terhindar dari predator seperti anjing,” ujarnya.

Sementara itu, pengembangan konservasi tukik di kawasan Pantai Asri Desa Adat Banyuasri masih dilakukan secara bertahap. Proses pembangunan tetap memerlukan koordinasi dan izin dari instansi terkait agar sesuai dengan aturan konservasi.

Berita Terkait:  Penghargaan ITLS Awards 2026 untuk Tri Hita Karana

Ketua Relawan Kurma Segara Raksa Banyuasri, Nyoman Sadwika, mengatakan pembangunan bak penampungan sementara dilakukan setelah adanya peninjauan dari Kepala Bidang Perikanan Dinas Pertanian Perikanan dan Ketahanan Pangan Buleleng, Abdul Manap, pada 24 Mei 2026.

Saat ini, relawan bersama nelayan dan masyarakat setempat baru membangun fasilitas sederhana sebagai langkah awal penyelamatan telur penyu di kawasan Pantai Asri Banyuasri.

“Bak penampungan yang kami buat belum memenuhi standar konservasi, namun bak ini untuk langkah penyelamatan bagi telur-telur penyu,” kata Sadwika.

Ia menambahkan, kawasan Pantai Asri Banyuasri setiap tahun menjadi lokasi bertelurnya penyu. Selama ini masyarakat dan nelayan biasanya melakukan relokasi telur penyu ke lokasi penangkaran terdekat demi menghindari ancaman predator dan kerusakan lingkungan.

Berita Terkait:  Jelang Tumpek Wayang, Pemprov Bali Gelar Aksi Bersih Sampah Serentak, Kumpulkan 3,56 Ton Sampah di Mangrove Pesanggaran

Kini, relawan bersama nelayan dan krama desa mulai memperkuat upaya konservasi secara lebih intensif dengan tetap berkoordinasi bersama pemerintah daerah agar proses pelestarian berjalan sesuai aturan.

“Kami berharap pelestarian telur penyu dan tukiknya bisa berjalan sesuai aturan dan arahan pemerintah,” paparnya.

Ke depan, kawasan konservasi tukik Banyuasri diharapkan berkembang tidak hanya sebagai pusat penyelamatan penyu, tetapi juga menjadi destinasi wisata edukasi berbasis lingkungan yang mampu mendukung sektor pariwisata berkelanjutan di Kabupaten Buleleng. (red).

 

 

Berita Terkini