Karya Baligia Utama Puri Agung Karangasem Satukan Elemen Masyarakat Bali dan Nusantara

Foto: Pendukung acara Rsi Bojana rangkaian Karya Baligia Utama berfoto bersama di Balairung Taman Sukasada Ujung Karangasem, Senin, 21 Juli 2025. (Balihotnews/ist).

Balihotnews.com | DENPASAR – Prosesi akbar Karya Baligia Utama di Puri Agung Karangasem sukses mencapai puncaknya pada Minggu, 20 Juli 2025. Upacara adat yang sakral ini tidak hanya menjadi wujud penghormatan mendalam kepada leluhur, tetapi juga momentum spiritual dan budaya yang mempersatukan seluruh elemen masyarakat Bali dan Nusantara.

Puncak Karya Baligia Utama pada Redite Pon Prangbakat merupakan upacara penyucian roh Pitara menuju alam Siwa Loka, dimulai dengan Mepurwa Daksina. Hal ini menandakan kenaikan level Atma, dari penyucian Badan Kasar melalui upacara Ngaben, ke tingkatan Badan Halus yang disucikan dari alam Pitara menuju Dewa Pitara.

Dalam prosesi ini, sebanyak 104 Puspa, termasuk 7 Puspa Puri, dituntun oleh Bethara Lingga dan Lembu Putih munggah Titi Mahmah Kebo. Ini melambangkan kenaikan tingkatan dari Pitara menjadi Dewa Pitara, yang nantinya akan naik menjadi Dewa Hyang di Merajan Puri Agung Karangasem dan Merajan Puri atau Jero masing-masing yang mengikuti Karya Baligia Utama.

Pengelingsir dan Pengerajeg Karya Baligia Utama, Anak Agung Bagus Partai Wijaya, didampingi Prawartaka Karya Anak Agung Made Kosalia, menjelaskan bahwa Karya Baligia tingkatan Utamaning Utama ini merupakan Adat Dresta Puri Agung Karangasem yang pernah dilaksanakan serupa pada tahun 1978.

Berita Terkait:  Bawa 23 IKM ke Kriyanusa 2026, Ny. Putri Koster Dorong Kerajinan Bali Tembus Pasar Internasional

Mempertahankan Nilai-nilai Spiritual dan Budaya

Ni Kadek Winie Kaori Intan Mahkota, yang diwawancarai di sela-sela upacara Rsi Bojana di Taman Sukasada Ujung, Karangasem, mengungkapkan pentingnya memahami nilai-nilai spiritual yang terkandung dalam Karya Baligia Utama.

“Kita sebagai generasi penerus tidak hanya dilihat dari sisi kemegahan upacara semata, tapi juga nilai-nilai spiritual yang terkandung didalam Karya Baligia Utama serta tatanan upakara yang ada di Bali,” kata Ni Kadek Winie Kaori Intan Mahkota.

Ia juga menekankan bahwa Karya Baligia Utama adalah momentum spiritual dan budaya yang mempersatukan masyarakat, sekaligus refleksi pentingnya menjaga warisan budaya leluhur secara bermakna.

“Apakah dari tahun ke tahun sudah diimplementasikan seperti apa, juga peranan aktif dari masyarakat serta tokoh adat yang ada di Karangasem itu sendiri menjadi sebuah makna, bahwa upacara ini adalah sakral,” tambahnya.

Berita Terkait:  Perkokoh Ketahanan Budaya, Bupati Satria Bersama Wakil Bupati Tjok Surya Hadiri Rangkaian Karya di Tiga Pura

Menurut Winie Kaori, Karya Baligia Utama harus diwarisi kepada generasi penerusnya agar tidak terputus di generasi sekarang, melainkan terus dilestarikan untuk tahun-tahun berikutnya. Ia juga menyoroti Rsi Bojana sebagai ungkapan terima kasih kepada para Ida Pedanda sebagai Sulinggih Pemuput Karya.

Rsi Bojana: Simbol Syukur dan Persatuan

Setelah puncak Karya Baligia Utama, upacara dilanjutkan dengan Rsi Bojana yang berarti sebuah persembahan sebagai ungkapan terima kasih kepada Ida Pedanda Sulinggih Siwa-Buda. Ini juga menjadi momen penyambutan tamu undangan VVIP Puri Agung Karangasem.

“Jadi, ada dua rangkaian upacara Rsi Bojana, secara spiritual nyanggra Ida Pedanda Siwa Buda sejumlah 100 sulinggih dan acara disini menyambut tamu undangan VVIP sebagai sahabat dan kerabat Puri Agung Karangasem, baik Pusat, Nasional, Provinsi Bali dan Kabupaten se-Bali serta tokoh-tokoh masyarakat yang hadir hari ini,” terang A.A. Bagus Parta Wijaya.

Rsi Bojana tidak hanya bentuk penghormatan kepada para sulinggih, tetapi juga menandai berjalannya rangkaian upacara Baligia Utama secara harmonis dan penuh rasa syukur. “Kehadiran para sulinggih suci Pemuput Karya dimaknai sebagai simbol kesucian dan keseimbangan spiritual,” tambahnya.

Berita Terkait:  Zat Kimia Mengurai Racun Masa Lalu lewat Single Baru Karsinoma 

Acara Rsi Bojana turut dihadiri oleh berbagai tokoh penting, antara lain perwakilan Gubernur Bali, Pangdam IX Udayana, Kapolda Bali, Kejaksaan Tinggi Bali, Bupati dan Wakil Bupati Karangasem, serta tokoh-tokoh terkemuka seperti Paduka YM SPDB Pangeran Edward Syah Pernong selaku Sultan Sekala Brak Yang Dipertuan ke-23 Kepaksian Pernong Lampung beserta Raja-Raja se-Nusantara, YM Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya (KGPAA) Mangkunegoro X.

Selain itu, hadir pula Ketua Umum Forum Silaturahmi Keraton Nusantara (FSKN), Ketua Umum Majelis Adat Keraton Nusantara (MAKN), YM HJ. RA Yani Kuswodidjoyo Pengageng Kesultanan Sumenep, Ayu Heni Losan (istri Menteri BUMN Erick Thohir), kerabat Puri dari seluruh Bali, dan tokoh masyarakat lainnya. Kehadiran mereka membangkitkan kembali suasana mewah khas kerajaan dalam balutan nuansa spiritual dan adat Bali. (red)

Berita Terkini