Prosesi Nganyut Tutup Karya Baligia Puri Karangasem

Foto: Pengrajeg Karya Baligia Utama, Anak Agung Bagus Parta Wijaya, saat mengikuti upacara Nganyut ke Segara Ujung, Karangasem, Rabu, 24 Juli 2025. (Balihotnews/ist).
Foto: Pengrajeg Karya Baligia Utama, Anak Agung Bagus Parta Wijaya, saat mengikuti upacara Nganyut ke Segara Ujung, Karangasem, Rabu, 24 Juli 2025. (Balihotnews/ist).

Balihotnews.com | KARANGASEM – Rangkaian Karya Atma Wedana Utama Puri Agung Karangasem mencapai puncaknya pada Rabu, 23 Juli 2025, dengan prosesi Nganyut ke Segara Ujung.

Prosesi ini menjadi tahapan akhir setelah sebelumnya digelar sejumlah upacara sakral, termasuk Ngeliwet, yang digelar tengah malam sebagai bekal spiritual terakhir bagi para Pitara yang akan menuju alam keabadian.

Pengelingsir dan Pengerajeg Karya Baligia Utama 2025, Anak Agung Bagus Parta Wijaya, menjelaskan bahwa prosesi Ngeliwet adalah simbolisasi memasak makanan suci untuk para Pitara yang akan naik derajat menjadi Dewa Pitara.

“Ngeliwet itu berarti memasak untuk memberikan bekal berharga kepada para Pitara yang akan menuju ke alam nirwana,” jelasnya.

Berita Terkait:  Dekranasda Fashion Road Show di Buleleng, Putri Koster Dorong UMKM dan Desainer Lokal “Keluar dari Tempurung”

Proses Ngeliwet dilakukan dengan menggunakan beras pilihan yang ditumbuk sebanyak 11 kali, kemudian dimasak menjadi bubur dan dicampur empehan lembu putih, daging warak, benang pelindung, serta uang kepeng bolong sebagai lambang keselamatan dan kemakmuran.

“Benang mengandung makna melindungi areal di sekitar Piyadnyan, agar tidak ada gangguan. Sementara uang kepeng bolong bermakna kemakmuran,” tambah Parta Wijaya.

Bubur suci tersebut kemudian dipersembahkan ke hadapan Ida Sulinggih dan dibagikan kepada 104 Puspa, yang mewakili roh para leluhur yang disucikan.

Proses Ngeseng

Setelahnya, Puspa-puspa tersebut mengalami proses Ngeseng, yaitu pembakaran dengan media tanah liat dan diaduk bersama tebu.

Debu hasil pembakaran Puspa dibungkus kain kasa putih dan diarak menuju Pantai Ujung Karangasem untuk prosesi Nganyut.

Berita Terkait:  ITDC Kolaborasi Hadirkan Indonesian Cigar Festival 2026 di The Nusa Dua, Perkuat Daya Tarik Bali Collection sebagai Pusat Lifestyle dan Event

Dalam prosesi ini, seluruh sarana dan simbol seperti Padma, Bukur, Naga, Empas, Angsa, dan perangkat lainnya yang disebut Artawingka, dilarung ke laut sebagai simbol peleburan dan penghormatan terakhir.

Parta Wijaya menyebut Pantai Ujung menjadi lokasi sakral karena menjadi tempat berstana Bukur Ida Betara Lingga Ida Betara Radja Dewata, yakni Raja Terakhir Karangasem, Ida Anak Agung Anglurah Ketut Karangasem. Betara Lingga diyakini sebagai penuntun para Pitara menuju Siwa Loka.

“Melalui seluruh prosesi ini, Karya Baligia Utama merupakan bentuk penyucian badan halus, peningkatan dari Pitara menjadi Dewa Pitara. Setelah distanakan di Rong Tiga pada Merajan masing-masing, mereka akan disembah oleh Pretisentana atau keluarga besar,” pungkasnya. (ace)

Berita Terkait:  Jaga Peradaban dan Tradisi, Bupati Klungkung Hadiri Abhiseka Ida Dalem Smara Putra XVI

Berita Terkini