Balihotnews.com | DENPASAR – Menjelang akhir tahun, masyarakat Bali bisa sedikit bernapas lega. Inflasi November 2025 tercatat tetap terkendali meski harga kebutuhan di beberapa daerah sempat naik. Berdasarkan rilis BPS Provinsi Bali, inflasi bulanan berada di angka 0,40% (mtm), lebih tinggi dari Oktober yang 0,16% (mtm). Secara tahunan, inflasi justru turun ke 2,51% (yoy) dan masih lebih rendah dari nasional yang mencapai 2,72% (yoy).
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali, Erwin Soeriadimadja, menegaskan bahwa situasi ekonomi tetap terkendali.
“Inflasi Bali pada November 2025 masih berada dalam rentang sasaran dan relatif lebih rendah dibandingkan nasional. Ini menunjukkan pengendalian harga berjalan efektif di Bali,” kata Erwin.
Meskipun stabil, kenaikan harga tetap terasa berbeda di tiap daerah. Tabanan mencatat inflasi tertinggi yakni 0,67% (mtm), disusul Badung 0,64% (mtm). Singaraja berada pada 0,47% (mtm), sementara Denpasar 0,15% (mtm).
Erwin menjelaskan bahwa penyebab utamanya masih soal kebutuhan sehari-hari. “Kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi penyumbang utama inflasi. Canang sari, bawang merah, daging babi, wortel, dan tomat mengalami kenaikan harga,” jelasnya.
“Sementara daging ayam ras, beras, buncis, sawi hijau, dan angkutan udara justru turun sehingga menahan inflasi lebih tinggi.”
Artinya, kenaikan harga masih bersifat selektif, bukan merata. Bukan semua barang naik sekaligus dan itu membuat inflasi Bali masih terkendali. Namun masyarakat tetap perlu bersiap menghadapi libur akhir tahun.
“Permintaan barang dan jasa di periode Natal dan Tahun Baru, kenaikan harga emas global, serta penyesuaian harga BBM non-subsidi menjadi risiko inflasi ke depan,” tegas Erwin.
Cuaca juga bisa ikut memengaruhi harga kebutuhan pokok. “Peralihan menuju musim penghujan dapat memicu pertumbuhan hama. Ini bisa berdampak pada produksi pangan dan hortikultura,” tambahnya.
Untuk menjaga agar harga tidak melonjak, BI Bali terus memperkuat koordinasi dengan pemerintah daerah melalui strategi 4K: keterjangkauan harga, ketersediaan pasokan, kelancaran distribusi, dan komunikasi efektif.
Upaya pengendalian inflasi diwujudkan melalui operasi pasar, percepatan penyaluran SPHP, kerja sama antar daerah, serta penguatan rantai pasok pangan yang melibatkan BUMDes, Perumda pangan, koperasi, petani, hingga sektor horeka (hotel, restoran, dan kafe).
“Dengan sinergi yang kuat di semua lini, kami optimis inflasi Bali pada 2025 dapat tetap terjaga dalam rentang sasaran nasional 2,5% ± 1%,” tutup Erwin. (red)






