Balihotnews.com | DENPASAR – Gubernur Bali Wayan Koster menegaskan bahwa pendidikan adalah kekayaan paling abadi yang tidak dapat dicabut oleh keadaan apapun.
Pesan tersebut disampaikan Gubernur Koster, saat penyerahan bantuan Program Satu Keluarga Satu Sarjana (SKSS) di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Art Centre Denpasar, Selasa, 23 Desember 2025.
Dihadapan ratusan mahasiswa penerima bantuan dari keluarga miskin dan miskin ekstrem, Gubernur Koster mengajak generasi muda Bali untuk menggantungkan masa depan pada ilmu pengetahuan, bukan pada warisan materi. Ia menilai tanah, uang, maupun aset fisik dapat hilang, namun pendidikan akan selalu melekat pada diri seseorang.
“Saya doakan adik-adik sehat semua. Ikuti perkuliahan dengan baik, rajin dan tekun belajar, raih prestasi setinggi-tingginya,” kata Gubernur Koster.
Ia kemudian menekankan bahwa pengetahuan di dalam kepala merupakan modal utama untuk memecahkan persoalan hidup dan membangun kemandirian.
Menurutnya, pendidikan tinggi membuat seseorang mampu berdiri di atas kaki sendiri dan tidak bergantung pada orang lain.
“Adik-adik, kekayaan abadi yang takkan pernah hilang adalah kekayaan yang ada di kepala. Ini yang tidak akan hilang karena nggak bisa dicabut. Ada di kepala. Kalau diwariskan mobil, tanah apapun oleh orang tuanya, kekayaan fisik suatu saat terkena masalah hilang. Atau punya hutang bisa hilang. Atau bertengkar sama saudara bisa juga habis, jangan begitu. Kalau sudah punya pendidikan tinggi sudah lupakan itu semua,” paparnya.
Lebih lanjut, Gubernur Koster mengingatkan bahwa hidup harus diselesaikan dengan kemampuan berpikir dan bekerja keras, bukan mengandalkan bantuan orang lain. Dari sanalah lahir pribadi yang mandiri, berdaya saing, dan berkualitas.
“Hidup harus dipecahkan dengan hasil dari kepala sendiri. Dan itulah yang akan membuat adik-adik ini mandiri, otonom, mampu menyelesaikan dan memecahkan masalah hidup sendiri. Supaya menjadi pribadi yang berkualitas dan berdaya saing,” ujarnya.
Tak hanya menyoroti aspek akademik, Gubernur Bali dua periode itu juga menekankan pentingnya keseimbangan antara usaha sekala dan niskala. Mahasiswa diminta rajin belajar dan bekerja, namun tetap menghormati orang tua, leluhur, serta tekun berdoa.
“Kalau klop sekala niskala, hidup akan berkeadaban, bermartabat, dan membawa kemajuan untuk semua. Kalau bisa, lebih bagus dari saya,” tuturnya.
Program Satu Keluarga Satu Sarjana sendiri merupakan inisiatif strategis Pemerintah Provinsi Bali untuk memutus rantai kemiskinan melalui pendidikan tinggi. Program ini membuka akses kuliah bagi keluarga miskin dan miskin ekstrem dengan menggandeng 26 perguruan tinggi negeri dan swasta di Bali.
Pada tahun 2025, SKSS menargetkan 3.000 mahasiswa. Namun dari sekitar 1.000 pendaftar yang masuk dari sembilan kabupaten/kota, sebanyak 500 mahasiswa ditetapkan sebagai penerima bantuan, sementara sisanya telah terakomodasi melalui program Kartu Indonesia Pintar Kuliah (KIP-K).
Bantuan yang diberikan meliputi biaya hidup sebesar Rp1,4 juta per bulan bagi mahasiswa di Denpasar dan Badung, Rp1,2 juta per bulan di kabupaten lain, serta Rp750 ribu per bulan bagi mahasiswa Universitas Terbuka. Selain itu, Pemprov Bali juga menanggung UKT hingga Rp1 juta per semester serta biaya pendaftaran maksimal Rp300 ribu.
Penyerahan bantuan SKSS turut dihadiri Ketua Komisi IV DPRD Provinsi Bali Nyoman Suwirta, jajaran kepala perangkat daerah, kepala dinas pendidikan kabupaten/kota se-Bali, serta pimpinan perguruan tinggi mitra Program SKSS 2025. Bantuan diserahkan secara simbolis kepada mahasiswa dari sembilan kabupaten/kota yang menempuh pendidikan di berbagai perguruan tinggi di Bali.
Melalui program ini, Pemerintah Provinsi Bali menegaskan komitmennya menghadirkan negara di tengah masyarakat, sekaligus menanamkan keyakinan bahwa pendidikan adalah jalan paling bermartabat untuk mengubah masa depan Bali. (red).








