Gondola dari China Tiba Akhir Juni 2026, Pemprov Bali Percepat Proses Pembebasan Lahan

Gubernur Koster saat mengunjungi Turyapada Tower di Desa Pegayaman, Kecamatan Sukasada, Buleleng, Minggu (17/5/2026).

Balihotnews.com l SINGARAJA- Pemerintah Provinsi Bali mempercepat proses pembebasan lahan untuk pembangunan jalur gondola di kawasan Turyapada Tower, Kabupaten Buleleng. Langkah itu dilakukan lantaran fasilitas gondola yang dipesan dari China dijadwalkan tiba pada akhir Juni 2026.

Gubernur Bali Wayan Koster mengatakan, pembangunan tahap kedua kawasan Turyapada Tower ditargetkan rampung pada November 2026 dan mulai beroperasi pada akhir tahun.

“Gondola sudah dipesan dari China dan akhir Juni barangnya datang. Supaya bisa dipasang, lahannya harus sudah bisa digunakan,” kata Gubernur Koster saat mengunjungi Turyapada Tower di Desa Pegayaman, Kecamatan Sukasada, Buleleng, Minggu (17/5/2026).

Tahap kedua pembangunan mencakup fasilitas planetarium, convention center, jalan masuk, gondola, hingga sarana pendukung lainnya. Gubernur Koster mengatakan pembebasan lahan jalur gondola pada prinsipnya telah disepakati warga dimana ahan yang dibutuhkan memiliki lebar 20 meter dengan panjang sekitar 940 meter.

Berita Terkait:  Gubernur Koster Terima Pamit Daniel Adityajaya, Apresiasi Soliditas Pemprov Bali dan Polda Bali

Meski demikian, penetapan harga lahan masih menunggu hasil appraisal dari lembaga independen. “Semua harus sesuai aturan. Harga tidak bisa ditentukan semaunya, baik oleh saya maupun bapak-bapak. Semua dinilai melalui appraisal,” ungkap Gubernur Bali 2 Periode ini.

Gubernur Koster menegaskan, proyek Turyapada Tower tidak hanya berorientasi pada pembangunan fisik, tetapi juga diharapkan memberi dampak ekonomi bagi masyarakat sekitar.

Untuk itu, Gubernur Koster meminta warga membentuk koperasi agar dapat terlibat dalam aktivitas usaha di kawasan wisata tersebut. Selain itu, tenaga kerja lokal juga diprioritaskan, khususnya anak muda di sekitar kawasan, yang nantinya akan mendapat pelatihan untuk pengelolaan destinasi wisata.

“Usaha kecil juga akan disiapkan warung tanpa biaya sewa supaya masyarakat sekitar benar-benar merasakan manfaat,” kata Gubernur Bali jebolan ITB Bandung ini.

Berita Terkait:  Arya Wibawa Dorong Generasi Muda Jadikan Pancasila Pedoman Hidup

Gubernur asal Desa Sembiran Buleleng ini menjelaskan, pembangunan Turyapada Tower awalnya hanya difokuskan untuk tower pemancar televisi agar masyarakat Buleleng tidak lagi bergantung pada parabola.

Namun, bagi Gubernur Koster, pembangunan tower saja tidak akan memberi dampak ekonomi yang besar sehingga kawasan tersebut kemudian dikembangkan menjadi objek wisata.

Gubernur Koster mengaku mendapatkan inspirasi setelah melihat tower wisata di Singapura pada 1996. Dari sana muncul gagasan menghadirkan tower wisata ikonik di Bali yang memiliki nilai ekonomi.

Kajian pengembangan kawasan dilakukan bersama tim dari Universitas Udayana selama sekitar satu tahun, termasuk memperhitungkan aspek teknis seperti kekuatan pondasi dan ketahanan gempa.

Adapun total anggaran pembangunan kawasan Turyapada mencapai sekitar Rp 560 miliar. Pada tahap pertama dianggarkan Rp 330 miliar dengan realisasi sekitar Rp 300 miliar. Sementara tahap kedua sebesar Rp 260 miliar, termasuk pembangunan gondola dan kawasan pendukung.

Berita Terkait:  Perkuat Mitigasi Bencana dan Kebersihan, Pemkab Klungkung Terima Bantuan Armada Terpadu dari PT SMI

Saat ini, Turyapada Tower telah melayani sekitar 30 siaran televisi yang menjangkau wilayah Buleleng, Jembrana, hingga Banyuwangi. Gubernur Koster menyebut proyek Turyapada diharapkan menjadi salah satu objek wisata baru di Bali sekaligus ikon baru di Indonesia.

“Bali perlu objek wisata baru supaya wisatawan tidak bosan datang ke tempat yang itu-itu saja,” tutup Gubernur Koster. (Bhn)

Berita Terkini