Balihotnews.com | DENPASAR – Kreativitas dan konsistensi kembali mengantarkan Elkoga Radio Bali menorehkan prestasi di dunia penyiaran. Dalam ajang Anugerah Penyiaran Bali (APB) 2025 yang digelar Komisi Penyiaran Indonesia Daerah (KPID) Bali di Taman Budaya Denpasar, Minggu (9/11/2025), radio yang mengudara di frekuensi 96,9 FM ini berhasil membawa pulang penghargaan Program Iklan Layanan Masyarakat (ILM) Terbaik.
Tahun ini, APB mengusung tema “Siaran Berkeadilan Dalam Bali Era Baru” dan diikuti oleh berbagai lembaga penyiaran radio dan televisi se-Bali.
Dari total 14 kategori yang diperebutkan, Elkoga Radio berhasil menempati posisi terhormat di antara para finalis dengan menampilkan ILM bertema lingkungan yang dianggap relevan dengan isu masyarakat Bali saat ini.
A.A. Ngurah A. Windara, selaku Manager Radio Elkoga, mengaku penghargaan ini terasa istimewa bagi seluruh tim. “Ini tumben-tumbenya ILM kita masuk nominasi dan langsung jawara,” ungkapnya.
Ngurah menceritakan bahwa proses pembuatan ILM di Elkoga tidak langsung menemukan bentuknya. Awalnya, naskah yang disodorkan oleh tim produksi dianggap belum cukup kuat untuk menembus kompetisi.
“Awalnya kita tidak mengambil tema ini. Ketika Pak Mbung (Program Director) menyodorkan script ILM yang akan kita adu di APB, rasanya kurang tajam, kurang menggigit, dan kurang mendukung isu kekinian yang sedang kita hadapi bersama saat ini, yaitu sampah,” ujarnya.
Namun setelah melalui proses diskusi di internal kantor, muncullah naskah baru yang menurutnya langsung menarik perhatian.
“Akhirnya Pak Mbung lagi bawa script baru. Saya langsung jatuh cinta pada kontennya. Apalagi talent atau voice over-nya Gung Yuda dan Dewi Sashita. Saya yakin ini akan, paling tidak lolos nominasi,” paparnya.
Keyakinan tersebut ternyata berbuah manis. Elkoga bukan hanya masuk nominasi, tetapi juga keluar sebagai pemenang ILM terbaik tahun ini. “Tentu saja kami sangat senang, sangat bangga. Ini hasil karya semua Elkommunity,” ujar Ngurah.
Radio Yang Baik Baik Saja
Dalam hal ini, meski Elkoga tidak meraih predikat sebagai radio terbaik, Ngurah menegaskan bahwa penghargaan bukanlah segalanya. Baginya, yang terpenting adalah semangat tim yang terus hidup di balik siaran Elkoga.
“Walaupun kita bukan radio terbaik, paling tidak kita menjadi radio yang ‘baik-baik saja’,” cetusnya.
Ngurah menilai, keberhasilan ini tidak datang begitu saja. Konsistensi dan kemampuan membaca isu publik menjadi kunci utama dalam setiap karya yang mereka hasilkan.
Dalam setiap ILM, Elkoga selalu menyesuaikan gaya bahasa dengan target pendengar utamanya yang berusia antara 15 hingga 45 tahun.
“Agar pesan bisa diterima Elkogers, tentu bahasa kita disesuaikan dengan target pendengar. Saya pikir bila dengar ILM kita, pendengar akan faham dan bisa jadi sambil senyum-senyum, karena kan dialognya kocak juga dan polos juga,” jelasnya.
Elkoga sendiri memiliki banyak talenta yang berasal dari berbagai kalangan. Menurut Ngurah, hal itu menjadi kekuatan tersendiri dalam menghidupkan setiap naskah.
“Elkoga kan cukup banyak punya talent, mulai ABG, ibu-ibu sampai bapak-bapak berwibawa. Nah, yang kali ini Gung Yuda dan Dewi memang pas bawain sandiwara radio ini. Berbahasa Indonesia ala nak Bali. Biasanya kalau kita buat iklan audio, tentu kita akan memilih talent yang sesuai,” tuturnya.
Pengagas ILM
Diketahui, A.A. Ngurah A. Windara juga menjadi salah satu penggagas hadirnya kategori Iklan Layanan Masyarakat (ILM) dalam ajang KPID Awards yang kini dikenal sebagai Anugerah Penyiaran Bali (APB). Gagasan tersebut telah menjadi bagian penting dalam setiap penyelenggaraan APB hingga saat ini.
Ia juga menegaskan bahwa ILM bukan hanya sekadar kewajiban, tetapi merupakan bentuk tanggung jawab sosial lembaga penyiaran kepada masyarakat.
“Elkoga akan selalu buat ILM, bukan karena kali ini ILM Elkoga menang, tapi memang tanggung jawab semua lembaga penyiaran. Termasuk Elkoga. Kami sudah banyak menyiarkan ILM tentang cinta produk lokal, memuliakan desa adat, pilah sampah, hingga teba modern,” tambahnya.
Lebih jauh, Ngurah juga menyinggung tantangan lembaga penyiaran di tengah kondisi industri yang makin berat. Menurutnya, kreativitas dan inovasi menjadi modal penting agar radio tetap hidup.
“Dalam zaman sulit sekarang, memang diperlukan kreativitas dan inovasi lembaga penyiaran untuk tidak hanya mengandalkan dari iklan saja,” pungkasnya.
Kemenangan tersebut menegaskan eksistensi Elkoga sebagai radio lokal yang tetap relevan dan produktif di tengah perubahan zaman.
Di balik siarannya yang santai, Elkoga Radio Bali selalu membawa pesan lewat suaranya yang sederhana, jenaka, tapi penuh makna. (rhm)





