Balihotnews.com | DENPASAR – Ancaman abrasi dan dampak perubahan iklim di pesisir Bali makin nyata. Menjawab tantangan ini, Bakti Lingkungan Djarum Foundation (BLDF) bersama Universitas Udayana (Unud) mengambil langkah konkret dengan meresmikan fasilitas Living Laboratory Mangrove di Taman Hutan Raya (Tahura) Ngurah Rai, Pemogan, Denpasar Selatan, Rabu (2/9/2026).
Inisiatif bertajuk Green Action Mangrove Bali 2026 ini tidak sekadar seremonial. Peresmian laboratorium alam tersebut dirangkai dengan penanaman 5.000 bibit mangrove yang melibatkan Pemprov Bali, KUB Simbar Segara, serta puluhan mahasiswa dan pemuda.
Director of Communications Djarum Foundation, Mutiara Diah Asmara, menegaskan pelestarian pesisir butuh langkah lanjutan agar dampak ekologisnya terukur secara ilmiah.
”Harus ada satu langkah di atas penanaman, yaitu menjadikannya area penelitian. Dengan laboratorium alam ini, civitas akademika bisa meneliti dan memberi rekomendasi agar mangrove yang ditanam benar-benar lestari menghadapi kencangnya ombak pesisir,” ujar Mutiara di lokasi.
Selama enam bulan ke depan, tim peneliti Unud akan memantau ketat pertumbuhan 5.000 bibit tersebut. Riset berjalan komprehensif, mulai dari mengukur klorofil daun hingga uji kualitas air di kawasan Tahura Ngurah Rai.
Bali dipilih sebagai lokasi lab karena kelengkapan varietas mangrovenya, sekaligus perannya sebagai etalase pariwisata berkelanjutan Indonesia. Tercatat pada 2022 dan 2024, BLDF juga telah menanam 10.000 bibit mangrove di area Pemogan.
”Indonesia punya salah satu hamparan mangrove terbesar di dunia. Langkah kolaborasi kecil seperti ini jika diduplikasi di banyak daerah, dampaknya sangat masif menjaga garis pantai kita,” imbuh Mutiara.
Benteng Alami Pesisir
Kawasan mangrove seluas lebih dari 3.000 hektare di Bali adalah kunci keseimbangan alam. Kepala UPTD Tahura Ngurah Rai Provinsi Bali, I Putu Agus Juliartawan, menyebut infrastruktur buatan manusia tak bisa menggantikan fungsi pelindung alami ini.
”Mangrove itu solusi utama mempertahankan dan memperluas daratan dari abrasi. Penanaman yang dilengkapi Living Laboratory ini adalah langkah konkret wujudkan pesisir lestari,” tegas Agus.
Pendekatan riset ini disambut baik kalangan akademisi. Dosen Fakultas Pertanian Unud, Dr. Dewa Gede Wiryangga Selangga, menilai lab mangrove membuka ruang pembelajaran yang terintegrasi.
”Pengelolaan mangrove ke depan harus mengintegrasikan konservasi, edukasi, dan pemberdayaan masyarakat. Manfaatnya tak cuma ekologis, tapi harus menyentuh sosial-ekonomi warga sekitar,” jelas Dr. Dewa.
Gerakan ini juga menjadikan Generasi Z sebagai motor penggerak. Mengacu data BPS 2025 di mana 88,85 persen pemuda aktif bermedia sosial, BLDF mengoptimalkan kampanye digital seperti @SiapDarling untuk mengubah kepedulian di dunia maya menjadi aksi nyata.
Kreator Konten Lingkungan, Ananda Priantara, yang ikut turun ke lumpur mangrove sepakat bahwa narasi sustainability di medsos butuh praktik riil. Baginya, turun langsung menanam adalah cara paling ampuh menumbuhkan gaya hidup ramah lingkungan secara permanen bagi anak muda.***








