Digitalisasi Rentan Scam Kampus Aliansi Strategis OJK Gencarkan Edukasi Keuangan

Foto: Kepala Direktorat Literasi dan Edukasi Keuangan OJK, Cecep Setiawan, S.E.,M.Comm (ADV), saat memberikan sambutan pada kegiatan Ngobrol Pintar Seputar Keuangan Yuk! (NGOPI KUY) di Gedung Auditorium, Politeknik Negeri Bali, Kabupaten Badung, Bali, Senin, 25 Agustus 2025. (Balihotnews/ist).

Balihotnews.com | BADUNG – Digitalisasi memberikan kemudahan dalam bertransaksi keuangan bagi semua pihak, termasuk para mahasiswa. Namun, digitalisasi juga menimbulkan kerentanan, yang berpotensi menimbulkan penipuan kejahatan ilegal berbasis digital atau scam.

Ironisnya, investasi ilegal semakin marak terjadi tak hanya di Bali, bahkan seluruh Indonesia, yang bisa menimpa semua pihak tanpa memandang jenjang pendidikan dan status sosial.

Sebagai upaya kooperatif antar Kementerian, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) membentuk Satuan Tugas Pemberantasan Aktivitas Keuangan Ilegal (Satgas PASTI), termasuk Indonesia Anti Scam Center (IASC).

Bahkan, di daerah-daerah juga dibentuk Satgas Daerah Bali sebagai forum koordinasi lintas kementerian lembaga, yang didalamnya termasuk lembaga keuangan dan perbankan.

Tak hanya itu, Satgas PASTI juga berkolaborasi dengan Kementerian Komdigi, untuk menutup lebih awal aplikasi Pinjaman Online (Pinjol) ilegal dengan potensi kerugian mencapai trilyunan rupiah. Hingga tahun 2025, Satgas PASTI telah menutup hampir lebih dari 100 ribu Pinjol ilegal maupun investasi ilegal.

Mirisnya lagi, dana masyarakat Indonesia baru berhasil diselamatkan sekitar Rp 400 milyar hingga saat ini. Jumlahnya yang kecil diakui karena terkendala waktu dan juga korban tidak sadar terkena scam, sehingga saat melaporkan ke Indonesia Anti Scam Center (IASC) justru uangnya sudah terlanjur hilang.

Berita Terkait:  Kunjungi Ditjen Infrastruktur Digital, Pj. Sekda Agung Mahajaya Perjuangkan Penguatan Jaringan Telekomunikasi di Nusa Penida

Untuk mengantisipasi investasi ilegal atau scam, sekaligus meningkatkan edukasi keuangan kepada generasi muda, kampus dijadikan aliansi strategis OJK sebagai agen perubahan yang baik, dalam melakukan Gerakan Nasional Cerdas Keuangan (GENCARKAN).

Menariknya, OJK mengambil langkah-langkah strategis untuk selalu mengingatkan masyarakat, termasuk mahasiswa mewaspadai sistem penipuan berbasis digital atau scam yang berpotensi merugikan keuangan, sehingga diperlukan pemahaman mendalam mengenai strategi tata kelola keuangan.

Ditambah lagi, program edukasi dan literasi keuangan ini harus dimaksimalkan oleh Pelaku Usaha Jasa Keuangan (PUJK) seperti kehadiran PT Bank Pembangunan Daerah (BPD) Bali di kampus, termasuk Duta Literasi Keuangan.

Hadirnya perbankan, seperti Bank BPD Bali di Kampus Politeknik Negeri Bali (PNB) adalah salah satu upaya PUJK memperluas jangkauan informasi keuangan ke masyarakat.

Untuk itu, digitalisasi PUJK, seperti Bank BPD Bali wajib menyampaikan manfaat, biaya, resiko dan karakteristik produk layanannya.

Berita Terkait:  SKYY Network Luncurkan Pilot Project Pengiriman Drone di Nuanu Creative City dan Café del Mar Bali, Uji Inovasi di Ekosistem Nyata

Disisi lain, Politeknik Negeri Bali (PNB) sebagai lembaga pendidikan vokasi terbilang aman bersinergi dengan OJK dan Bank BPD Bali untuk selalu memperkuat Sumber Daya Manusia (SDM) di bidang digitalisasi.

Terlebih lagi, PNB memiliki Program Studi (Prodi) yang mengarah kepada digitalisasi, khususnya Bisnis Digital dan Akuntansi Bisnis Digital sebagai sumber daya memperkuat implementasi dari digital keuangan.

Dengan penguatan SDM diharapkan para mahasiswa PNB Bali akan mampu memberikan penguatan buat program-program yang diinisiasi oleh OJK.

Bahkan, OJK juga semakin merapatkan kolaborasi bersama Bank BPD Bali yang juga melibatkan pihak kampus, guna mencapai Indonesia Cemerlang, yakni Indonesia Emas 2045.

Mengingat, Bank BPD Bali berkontribusi aktif dalam meningkatkan literasi keuangan, sehingga OJK berhak memberikan penghargaan dalam ajang KEJAR Award.

Hasil survei terakhir tahun 2025, tingkat literasi keuangan Indonesia sekitar 66 persen. Sementara, tingkat inklusi keuangan sebagai pengguna produk layanan keuangan berkisar 85 persen. Artinya, masih adanya orang-orang menggunakan produk layanan keuangan, tapi belum memiliki literasi keuangan yang memadai.

Berita Terkait:  OJK Luncurkan Rp 3I 2026-2030, Perkuat Reseliensi dan Peran Perbankan Sebagai Penggerak Ekonomi 

Hal tersebut menjadi Pekerjaan Rumah (PR) bersama, baik OJK, Bank BPD Bali dan Kampus Politeknik Negeri Bali (PNB) beserta media guna meningkatkan literasi keuangan dan inklusi keuangan.

Demikian mengemuka, saat kegiatan Ngobrol Pintar Seputar Keuangan Yuk! (NGOPI KUY) sebagai program rutin OJK menggandeng PT. Bank Pembangunan Daerah (BPD) Bali di Gedung Auditorium, Politeknik Negeri Bali, Kabupaten Badung, Bali, Senin, 25 Agustus 2025.

Program rutin OJK ini menghadirkan Kepala Direktorat Literasi dan Edukasi Keuangan OJK, Cecep Setiawan, S.E.,M.Comm (ADV), Direktur Politeknik Negeri Bali, I Nyoman Abdi, SE.,M.eCom., Direktur Utama PT. Bank BPD Bali I Nyoman Sudharma, SH.,MH., (baju merah) dan Direktur Pengawasan Perilaku PUJK, Edukasi, Pelindungan Konsumen, dan Layanan Manajemen Strategis OJK Provinsi Bali Irhamsyah.

Kegiatan NGOPI KUY bertajuk “Generasi Muda Cerdas Keuangan, Masa Depan Sejahtera” menyasar para mahasiswa Politeknik Negeri Bali (PNB) dengan harapan generasi muda lebih cerdas mengatur keuangan dan juga mampu memilah pengeluaran keuangan terbaik, guna meningkatkan budaya menabung sejak dini. (red).

 

Berita Terkini