Di Balik Megahnya Proyek Konstruksi Bali, Ada Peran Vital Pekerja Sumba yang Kerap Terpinggirkan

Sejumlah tokoh masyarakat menghadiri Talk Show di Mapolda Bali, Sabtu (14/2/2026), untuk membahas komitmen kerukunan warga Sumba. Diskusi ini menekankan pentingnya mengubah stigma negatif menjadi kontribusi positif bagi pembangunan Bali. (Balihotnews/Arnold)
Sejumlah tokoh masyarakat menghadiri Talk Show di Mapolda Bali, Sabtu (14/2/2026), untuk membahas komitmen kerukunan warga Sumba. Diskusi ini menekankan pentingnya mengubah stigma negatif menjadi kontribusi positif bagi pembangunan Bali. (Balihotnews/Arnold)

Balihotnews.com | DENPASAR – Di tengah stigma negatif yang kerap menyudutkan, peran warga perantauan asal Sumba, Nusa Tenggara Timur (NTT), dalam denyut nadi pembangunan Bali ternyata tak bisa dipandang sebelah mata.

Fakta mengejutkan terungkap bahwa hampir separuh fisik bangunan proyek di Pulau Dewata memiliki sentuhan keringat pekerja asal Sumba, sebuah realitas kontribusi ekonomi yang sering kali tertutup oleh isu friksi sosial.

​Hal tersebut menjadi poin krusial yang mengemuka dalam Talk Show bertajuk “Stigma, Tantangan, dan Solusi: Komitmen Mewujudkan Kehidupan yang Harmonis Warga Sumba di Bali” yang digelar di Mapolda Bali, Sabtu (14/2/2026).

Diskusi ini menjadi titik balik untuk mengubah pandangan publik serta memperkuat harmoni sosial antar-etnis.

​Wakil Bupati Sumba Timur, Yonathan Hani, yang hadir sebagai narasumber, membuka data menarik terkait keterlibatan warganya. Menurutnya, tenaga kerja Sumba dikenal ulet dan keras dalam bekerja, sehingga menjadi tulang punggung di sektor konstruksi.

Berita Terkait:  Gubernur Koster Dukung Fasilitas dan Perizinan untuk Perseden Berlaga di Liga 3 Nasional

​”Hampir 50 persen bangunan proyek di seluruh Bali memiliki sentuhan tangan orang Sumba. Begitu pula dengan industri mebel, hampir semua ada polesan karya mereka. Ini membuktikan bahwa kami turut membangun Bali,” ujar Yonathan.

​Dalam kesempatan tersebut, Yonathan juga secara terbuka menyampaikan permohonan maaf kepada masyarakat Bali atas ketidaknyamanan yang sempat timbul akibat ulah segelintir oknum. Ia menegaskan, tindakan individu yang melanggar hukum tidak boleh digeneralisasi sebagai karakter etnis secara keseluruhan.

​”Satu orang Sumba yang ‘sakit’, dampaknya dirasakan oleh semua, entah itu dari Sumba Timur, Tengah, Barat, atau Barat Daya. Publik melihatnya sebagai satu kesatuan Sumba. Oleh karena itu, mari kita terus berbuat baik dan bekerja keras,” tambahnya.

​Senada dengan Yonathan, Ketua Ikatan Keluarga Sumba (IKKES) Bali, Fredik Billy, mengajak seluruh warga Sumba di perantauan untuk melakukan introspeksi kolektif. Ia tidak menampik adanya stigma negatif yang melekat, namun hal tersebut harus dijawab dengan prestasi dan perilaku positif.

Berita Terkait:  Cegah Krisis Air Bali, Wamenpar Ni Luh Puspa Tanam 12.500 Bambu di Lempuyang

​”Tema diskusi hari ini tidak ringan. Kita punya tugas berat mengubah stigma menjadi sebuah kepercayaan. IKKES hadir bukan sekadar paguyuban, tapi jembatan komunikasi untuk menjaga hubungan harmonis dengan semeton Bali,” tegas Fredik.

​Fredik, yang juga berprofesi sebagai advokat, menekankan bahwa demografi warga Sumba di Bali sangat beragam, mulai dari buruh proyek, pengusaha, hingga mahasiswa. Semuanya memiliki tanggung jawab moral yang sama untuk menjaga nama baik daerah asal.

Pentingnya adaptasi budaya atau pepatah di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung, ditekankan juga oleh Ketua Flobamora Bali, Herman Umbu Billy.

Dalam acara yang turut dimeriahkan oleh kolaborasi pentas budaya Sumba dan Bali tersebut, Umbu Billy menyebut seni sebagai medium efektif untuk menyatukan perbedaan.

​”Pagelaran budaya ini adalah simbol. Jika di dunia seni kita bisa berkolaborasi dengan indah, hal serupa harus diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Kita yang datang ke Bali, kitalah yang harus beradaptasi dengan budaya setempat,” ucapnya.

Berita Terkait:  Ahli Ungkap Sinyal Kriminalisasi di Kasus Eks Kepala BPN Bali

​Sementara itu, Ketua Forum Komunikasi Paguyuban Etnis Nusantara (FKPEN) Provinsi Bali, Anak Agung Bagus Ngurah Agung, menyambut baik inisiatif dialog ini. Ia menegaskan bahwa Bali adalah “rumah terbuka” bagi siapa saja yang ingin berkarya, selama menghormati kearifan lokal (local wisdom).

​”Stigma muncul dari tindakan individu, bukan etnis. Kita tidak boleh tutup mata, namun solusinya adalah pembinaan internal yang lebih intensif. Jadilah warga yang taat hukum dan menghormati adat Bali agar situasi tetap kondusif,” pesan Ngurah Agung.

​Acara yang menghadirkan empat kepala daerah dari Sumba (Sumba Timur, Tengah, Barat, dan Barat Daya) ini diharapkan menjadi momentum rekonsiliasi kultural, memastikan bahwa gesekan sosial dapat diredam melalui dialog konstruktif dan kontribusi nyata bagi pembangunan Bali.*** (nol/dre)

Berita Terkini