Denpasar Disebut ‘Terlalu Bebas’, Video Kasus HIV Bali Hebohkan Warganet!

Tangkapan layar dari video pemilik akun TikTok @latief.ikhsan yang membahas tentang peningkatan kasus AIDS di Bali. (balihotnews/@latief.ikhsan/nol)

Balihotnews.com | DENPASAR – Beredar video tentang peningkatan kasus Aids di Bali melalui akun TikTok @latief.ikhsan. Video tersebut beredar luas ke berbagai grup media sosial dan meresahkan warga Bali. Dalam video tersebut diuraikan peningkatan kasus Aids di Bali secara gamblang namun tidak ada penjelasan lebih lanjut soal angka-angka dan seterusnya.

Dua orang dalam video tersebut secara gamblang menjelaskan jumlah kasus HIV terbanyak di Bali yakni di Kota Denpasar, Badung dan Buleleng. Kota Denpasar mencapai 16 ribu kasus, Badung 4500 kasus dan Buleleng sebanyak 3800 lebih kasus. Disebutkan bahwa video itu bahwa jumlah kasus ini terdata September 2024 lalu. Dua orang dalam video itu juga mengatakan jika Kota Denpasar terbanyak karena terlalu bebas, kos-kosan bebas, seks bebas.

“Hanya iman yang bisa menyelamatkan kita dari HIV Aids. Denpasar ini terlalu bebas dan kamu termasuk orangnya,” begitu isi percakapan dua orang dalam video tersebut.

Kemudian keduanya juga menuding jika Badung sering over orang positif ke Kota Denpasar. Bule di Badung bikin ulah, penyebar kasus lalu mereka pindah ke Denpasar. Kemudian keduanya menuding Buleleng sebagai wilayah rawan, karena banyak mahasiswa yang cenderung bebas dan seterusnya.

Berita Terkait:  PMI Bangli Perkuat Tata Kelola Organisasi dan Kualitas Pelayanan Kemanusiaan 

Video ini sangat meresahkan warga Bali. Tokoh Puri Peguyangan Denpasar, AAN Widiada mengaku sangat takut dan resah dengan video ini sebab tidak ada penjelasan dari pihak yang ahli dan berkompeten di bidangnya.

“Bila ini benar berati rasa senang sudah melebihi rasa takut. Tugas kita bersama untuk mencegahnya. Video ini perlu dicek validitas kebenaran data di dinas kesehatan Kota Denpasar dan Provinsi Bali. Saya cuman prihatin saja kalau benar ini terjadi. Semoga jangan ditutup-tutupi, harus menjadi tanggung jawab kita bersama untuk terlibat mensosialisasi dan mencegah,” ujarnya.

Ia sendiri sudah berinisiatif menginformasikan ke beberapa desa di sekitar Puri Peguyangan untuk lebih tertib terhadap para penghuni kos-kosan dan penduduk musiman agar lebih tersosialisasi dan teredukasi dengan baik tentang bahaya dan pencegahan terhadap HIV Aids.

Berita Terkait:  BPJS Gelontorkan Rp100 Triliun lebih untuk Biayai Penyakit Jantung

Humas KPA Bali Gus Yuni Ambara mengaku kaget dengan isi video tersebut. Angka-angka yang disebutkan dalam video itu merupakan angka akumulatif sejak tahun 1987 lalu.

“Kelihatan mereka membuat video itu datanya diambil dari berbagai informasi media. Namun tidak disebutkan bahwa itu data akumulatif, sehingga kelihatan sangat menyeramkan dan menakutkan publik. Juga tudingan terhadap Kota Denpasar sebagai yang terbanyak warga positif HIV Aids tanpa penjelasan sangat meresahkan masyarakat. Begitu juga Buleleng yang katanya berlomba dengan Badung, ini juga tidak ada penjelasan lebih lanjut,” ujarnya.

Menurut Ambara, Kota Denpasar kelihatan di data memang banyak. Apa alasannya atau kenapa terjadi demikian. Sebab, untuk di Bali harus diakui baru Kota Denpasar yang mampu melayani pemeriksaan HIV Aids sampai di tingkat Puskesmas. Fasilitasnya sudah siap. Bahkan sudah desa adat dan Banjar di Kota Denpasar yang sangat care dengan upaya pencegahan HIV Aids. Banyak warga dari luar Denpasar yang melakukan pengobatan dan pemeriksaan di Kota Denpasar. Data ini pasti terekam.

Berita Terkait:  BPJS Kesehatan Perluas Kerja Sama dengan Asuransi Kesehatan Tambahan

“Banyak juga warga dari luar Bali yang jika obat ARV habis, dan kebetulan mereka sedang ada di Denpasar lalu mereka akses ke banyak Faskes di Kota Denpasar. Jadi data ini juga terekam. Makanya banyak. Bukti lain adalah hanya Kota Denpasar yang stigma terhadap orang dengan HIV Aids (ODHA) menurun drastis dan hampir sudah tidak ada. Sekali lagi kami tegaskan bahwa data yang tersebar dalam video itu adalah data akumulatif,” ujarnya. Artinya kebanyakan ODHA di Kota Denpasar sejak tahun 1987 ada yang sudah meninggal, ada yang sudah pindah kota lain dan bahkan yang sudah di luar Bali.

Ia meminta kepada seluruh masyarakat Bali agar tidak mudah percaya dengan informasi yang beredar namun bukan dari lembaga yang berwenang yang menjelaskan. Apalagi video itu beredar di berbagai platform media sosial namun tidak ada penjelasan detail mengenai data dan informasi yang ada dari orang yang berkompeten di bidangnya. (nol)

Berita Terkini