Balihotnews.com | DENPASAR – Bencana kebakaran hebat yang meluluhlantakkan 2,5 hektare kawasan bedeng di Jalan Nakula, Denpasar, meninggalkan duka mendalam bagi puluhan warga perantauan. Merespons tragedi tersebut, Bupati Sumba Barat Daya (SBD), Ratu Ngadu Bonnu Wulla, turun langsung menyapa warganya di lokasi pengungsian, Rabu (9/9/2026).
Kunjungan ini bukan tanpa perjuangan. Ratu Wulla yang sebelumnya tengah kunjungan dinas di Semarang, terpaksa menempuh jalur darat menuju Denpasar akibat terhentinya penerbangan imbas erupsi gunung berapi.
Di lokasi puing-puing bedeng Gang Jatayu, Desa Pemecutan Kelod, Bupati Ratu mendapati fakta memilukan, yakni 68 Kepala Keluarga (KK) asal SBD kehilangan tempat tinggal dan harta benda. Di antara mereka, terdapat 12 anak-anak yang kini terpaksa hidup dalam ketidakpastian.
”Hari ini kami hadir untuk melihat kondisi warga secara langsung sekaligus menyalurkan bantuan logistik darurat. Untuk bantuan resmi dari pemerintah daerah, kami segera siapkan mekanismenya, mengingat lahan yang terbakar ini berstatus sewa, bukan milik warga,” ujar Ratu Wulla di lokasi.
Lebih lanjut, Ratu memastikan Pemerintah Kabupaten SBD akan berkoordinasi intensif dengan Ikatan Keluarga Sumba Barat Daya (IKSBD) Bali dan Pemerintah Kota Denpasar guna memastikan hak-hak dasar warganya, terutama anak-anak, tetap terpenuhi.
Janji Lapangan Kerja di Tanah Kelahiran
Melihat kondisi warganya yang hidup di permukiman kurang layak di perantauan, Ratu Wulla tak bisa menyembunyikan rasa prihatinnya. Ia menegaskan, Pemkab SBD kini tengah memacu investasi untuk memutus rantai migrasi ekonomi yang berisiko tinggi.
”Banyak dari mereka sebenarnya memiliki lahan luas di kampung halaman, namun tekanan ekonomi memaksa mereka merantau. Ke depan, kami sedang menyiapkan investasi besar di sektor pariwisata, pertanian, hingga pembangunan pabrik pakan ternak terintegrasi. Lapangan kerja ini harus terserap oleh warga lokal kita,” tegasnya.
Bupati Ratu berharap, pengalaman dan etos kerja yang didapat di tanah rantau kelak bisa dibawa pulang untuk membangun Sumba Barat Daya.
“Jika keahlian mereka dihargai dengan kelayakan gaji di luar daerah, tentu tidak masalah. Namun, kami tidak ingin lagi melihat warga Sumba terpaksa tinggal di lingkungan yang tidak layak huni demi menyambung hidup,” imbuhnya.

Tenggat Waktu Kosongkan Lahan
Sementara itu, Ketua Umum IKSBD Bali, Samuel Sairo Kalumbang, yang turut mendampingi Bupati bersama Kepala Dinas Pendidikan SBD, Paulina K. Maghu, mengapresiasi kehadiran pemerintah di tengah masa krisis warganya.
Samuel mengungkapkan, berdasarkan mediasi dengan desa adat setempat dan Dinas Sosial Kota Denpasar, warga terdampak awalnya hanya diberi waktu dua hari untuk mengosongkan lokasi. Namun, berkat negosiasi paguyuban, tenggat waktu diperpanjang hingga Senin (14/9/2026).
”Seluruh harta benda ludes tak tersisa. Saat ini, warga sedang berjuang mencari kos baru yang sesuai anggaran. Khusus untuk 12 anak-anak dan para ibu, kami arahkan untuk tinggal sementara di Sekretariat IKSBD agar lebih aman,” jelas Samuel.
Untuk penanganan awal, Pemkab SBD telah menyalurkan sekitar 70 paket bantuan berupa makanan pokok, mi instan, susu, dan kebutuhan harian lainnya.
Sebagai pengingat, amuk ‘si jago merah’ di Jalan Nakula terjadi pada Senin (31/8/2026) menjelang tengah malam. Api dengan cepat melahap kawasan permukiman bedeng dan gudang rongsokan seluas 2,5 hektare. Banyaknya material mudah terbakar membuat tim pemadam kebakaran dari Denpasar dan Badung harus berjibaku selama tiga hari hingga Rabu (2/9/2026) untuk memastikan api benar-benar padam dan proses pendinginan selesai.*** (dre)






