319 Puspa Ikuti Karya Baligia Bhukur Puri Saren Kangin, Simbol Pengayoman Leluhur

Foto: Penasehat Karya Baligia Bhukur I Gusti Agung Ngurah Sudarsana, yang juga Ketua Umum Pasemetonan PSNKK bersama pengiring dan baga Karya Baligia Bhukur. (Balihotnews/ist). 
Foto: Penasehat Karya Baligia Bhukur I Gusti Agung Ngurah Sudarsana, yang juga Ketua Umum Pasemetonan PSNKK bersama pengiring dan baga Karya Baligia Bhukur. (Balihotnews/ist). 

Balihotnews.com | GIANYAR – Puncak Karya Baligia Bhukur yang digelar Puri Saren Kangin Keramas, Kecamatan Blahbatuh, Gianyar pada Jumat, 25 Juli 2025 menjadi momen sakral dan penuh makna. Upacara ini merupakan kelanjutan dari pelebon almarhum I Gusti Agung Oka Wali, dilaksanakan dalam tingkatan Baligia Bhukur yang masuk kategori Madya hingga Utamaning Madya.

Sebanyak 319 puspa, termasuk 15 dari keluarga luar Pengerajeg, mengikuti upacara ini. Penasehat Karya, I Gusti Agung Ngurah Sudarsana menyebutkan bahwa pelaksanaan ini merupakan bentuk pelayanan Puri kepada masyarakat, sekaligus memperkuat hubungan kekerabatan.

“Untuk peserta banyak berasal dari luar semeton. Bahkan, ada yang dari Karangasem, Singaraja dan beberapa desa lainnya. Hal ini sebagai wujud pelayanan kami dan merekatkan kekerabatan,” ujarnya, Rabu, 23 Juli 2025.

Berita Terkait:  Zat Kimia Mengurai Racun Masa Lalu lewat Single Baru Karsinoma 

Menariknya, upacara ini tak hanya menjadi kewajiban keluarga besar Puri, tetapi juga diikuti dengan antusias oleh masyarakat dari berbagai soroh. Bahkan ada pengiring dari luar desa yang ikut serta karena dorongan subakti yang kuat kepada leluhurnya.

“Itu kami tidak bisa tolak dan kami iyakan saat ada warga yang Ngiring untuk ikut serta Karya Baligia Bhukur. Itu semua kami terima, karena kita hidup di dunia ini mencari bekal ke Gumi Wayah,” jelas Ngurah Sudarsana.

Penggunaan Madya Setinggi 3 Meter, Simbol Keseragaman dan Kebersamaan

Dengan jumlah peserta yang besar, seluruh puspa diputuskan menggunakan Madya setinggi 2,5–3 meter. Penggunaan sarana seragam ini menjadi simbol kebersamaan dan kesakralan upacara.

Berita Terkait:  Jaga Peradaban dan Tradisi, Bupati Klungkung Hadiri Abhiseka Ida Dalem Smara Putra XVI

“Jika kita lihat di tempat lain, bisa disuun, tapi ini tidak. Gunakan Madya tingginya agar seragam,” terangnya.

Uniknya, upacara ini tidak dibentuk panitia secara formal. Semua persiapan digerakkan oleh semangat swadaya dan kebersamaan warga.

“Di Puri, kami jarang membentuk panitia. Bahkan Pelebon Naga Banda saja saya tidak pakai panitia. Semua dari hati nurani warga,” tambahnya.

Biaya pun disepakati berdasarkan prinsip keadilan dan subakti. Peserta cukup memberi Maturan Rp 6 juta, sudah termasuk konsumsi selama ngayah.

Prosesi Panjang Sejak Mei, Dipuput 11 Sulinggih

Upacara dimulai sejak 30 Mei 2025 dengan berbagai prosesi seperti nyukat genah, mecaru, melaspas hingga puncaknya pada 25 Juli. Seluruh rangkaian dipuput oleh 11 sulinggih dari berbagai griya di wilayah Keramas dan sekitarnya.

Berita Terkait:  Bawa 23 IKM ke Kriyanusa 2026, Ny. Putri Koster Dorong Kerajinan Bali Tembus Pasar Internasional

Bagi I Gusti Agung Ngurah Sudarsana, Karya Baligia Bhukur menjadi momentum menyatukan keluarga besar dan masyarakat dalam satu semangat pengayoman leluhur.

“Yang terpenting adalah kami bisa merangkul semeton yang memang mau ikut serta. Manfaatnya sangat bagus sekali,” ucapnya.

Karya Baligia Bhukur ini juga dihadiri Perbekel Keramas dan Medahan, Camat Blahbatuh, serta tokoh adat setempat sebagai bentuk penghormatan terhadap nilai-nilai leluhur dan tradisi Bali. (ace)

Berita Terkini