Bali Gelap Gulita, Warga Denpasar Murka: Mandiri Energi Harga Mati!

Ilustrasi pemadaman listrik. (balihotnews/dps)

Balihotnews.com | Denpasar – Aktivitas warga Kota Denpasar dan sejumlah wilayah di Bali lumpuh karena listrik padam pada Jumat (2/5/2025) sore. Akibatnya, warga kota Denpasar tampak panik dan resah karena terjadi di jam prime time.

Salah satu warga Denpasar, Made Wijaya dengan tegas menyuarakan Bali harus mandiri energi. Langkah ini harus dilakukan sekarang. Jika berlarut maka, kondisi dan situasi seperti ini akan terus dialami semua warga di Pulau Dewata.

“Kalau tidak sekarang, kapan lagi? Mau sampai berapa kali Bali gelap baru sadar bahwa kemandirian energi itu harga mati?,” ujar Made Wijaya, dengan nada sedikit kesal.

Blackout massal ini seharusnya menjadi momen refleksi bersama. Sudah saatnya Bali tidak hanya dikenal sebagai destinasi wisata dunia, tapi juga pelopor energi bersih dan mandiri, sesuai filosofi hidupnya yang selaras dengan alam.

Berita Terkait:  Melihat Berakhirnya PHDI Menuju MAHASABHA XIII, KMHDI Buleleng Soroti Ruang Anak Muda dan Persoalan Umat

Perusahan Listrik Negara (PLN) menyebut gangguan pada kabel bawah laut Jawa-Bali menyebabkan pembangkit listrik di Bali lepas dari sistem, dan memicu blackout massal. Denpasar, Badung, Gianyar, hingga Buleleng gelap gulita. Lalu lintas kacau, pelayanan publik tersendat, dan aktivitas masyarakat terganggu.

Kejadian ini menjadi pengingat keras atas peringatan yang selama ini disuarakan Gubernur Bali, Wayan Koster.

“Saya menolak tambahan pasokan listrik 500 MW dari Paiton karena menggunakan energi kotor berbasis batubara. Bali harus mandiri energi, menggunakan energi bersih dari alam Bali sendiri seperti surya, air, dan bioenergi. Ini untuk menjaga kesucian dan keharmonisan alam Bali,” tegas Koster dalam peluncuran Roadmap Bali Mandiri Energi Bersih pada 12 Februari 2022 lalu.

Berita Terkait:  Perempuan Asal Garut Ditemukan Meninggal di Kamar Kos Denpasar

Saat itu, Koster menekankan bahwa ketergantungan pada listrik dari Jawa membuat Bali sangat rentan terhadap gangguan teknis yang berada di luar kendali masyarakat Bali sendiri.

Sebagai langkah konkret, Wayan Koster menerbitkan Peraturan Gubernur Bali Nomor 45 Tahun 2019 tentang Bali Energi Bersih serta Pergub Nomor 48 Tahun 2019 tentang Penggunaan Kendaraan Bermotor Listrik Berbasis Baterai. Pada 2022, ia menargetkan Bali mandiri energi berbasis Energi Baru Terbarukan (EBT) paling lambat tahun 2045, dengan memanfaatkan tenaga surya, air, dan biomassa.

“Transisi ini bukan hanya soal suplai energi, tapi juga menyangkut martabat dan identitas Bali sebagai pulau spiritual yang harmonis dengan alam,” ujar Koster beberapa waktu lalu. (dir)

Berita Terkait:  Pemotor Tewas Terlindas Truk Saat Mendahului di Jimbaran

Berita Terkini