Balihotnews.com | BADUNG – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Badung tak main-main mengatasi persoalan banjir yang kerap melanda wilayahnya. Kini dana jumbo sebesar Rp 266 miliar siap digelontorkan untuk menuntaskan masalah tersebut.
Menariknya, penanganan banjir ini tak sekadar mengalirkan air genangan ke laut. Pemkab Badung mengusung inovasi mutakhir untuk menyulap air banjir tersebut menjadi air bersih yang layak konsumsi.
Bupati Badung, I Wayan Adi Arnawa, mengatakan dana ratusan miliar itu akan difokuskan untuk membenahi titik-titik kawasan strategis yang jadi langganan banjir. Dua di antaranya adalah Jalan Dewi Sri di Kecamatan Kuta dan Jalan Kunti di kawasan Seminyak.
”Dana tersebut difokuskan untuk penataan drainase secara komprehensif, pelebaran sungai, serta pembangunan embung sebagai kantong penampung air hujan,” jelas Adi Arnawa di sela Gerakan Bali Bersih Sampah di Pantai Petitenget, Minggu (1/3/2026).
Lebih lanjut, guna mewujudkan inovasi pengolahan air, Pemkab Badung bakal menggandeng PDAM Tirta Mangutama. Mereka akan menerapkan teknologi Membrane-Based Non-Revenue Water Processing (NPR) portabel.
”Air genangan nantinya diproses menjadi cadangan air bersih yang layak konsumsi. Dengan teknologi ini, penanganan banjir di Badung tidak hanya solutif, tetapi juga jauh lebih produktif,” tegasnya.
Selain urusan mitigasi banjir, Pemkab Badung juga fokus merancang pelindung struktural pesisir dari ancaman abrasi. Pembangunan pemecah ombak (breakwater) tengah disiapkan membentang dari kawasan selatan hingga ke arah Canggu.
”Tujuannya agar sabuk pantai kita tetap lebar dan memiliki ruang yang memadai, baik bagi aktivitas masyarakat lokal maupun wisatawan,” tambah bupati asal Pecatu, Kecamatan Kuta Selatan tersebut.
Rencana infrastruktur fisik ini juga dibarengi dengan aksi nyata menjaga kelestarian lingkungan. Mengingat, pantai yang bersih merupakan urat nadi perekonomian pariwisata di Kabupaten Badung.
Di sisi lain, dalam aksi korve yang menyisir pesisir Petitenget hingga Cemagi pada hari ini, Pemkab melalui Dinas Lingkungan Hidup membagikan kantong kompos (compost bag) kepada perwakilan seluruh kecamatan untuk mendorong pengelolaan sampah organik.
”Penanganan sampah tidak cukup hanya di hilir, tetapi harus dimulai dari hulu, yaitu rumah tangga. Jika dari rumah sudah terkelola dengan baik, beban sampah di muara dan pantai akan jauh berkurang,” pungkasnya.*** (dre)








