Bali Bebas Plastik: Gubernur Koster Tindak Tegas Pelaku Tas Kresek

Ilustrasi seorang wanita yang belanja di pasar tradisional menggunakan kantong plastik. (balihotnews/ai)

Balihotnews.com | DENPASAR – Gubernur Bali Wayan Koster menegaskan komitmennya untuk menertibkan penggunaan tas kresek di pasar tradisional. Dalam rapat di Gedung Kerthasabha, Jayasabha pada Selasa (10/6/2025), Koster menginstruksikan Tim Pembatasan Penggunaan Plastik Sekali Pakai (PSP) dan Pengelolaan Sampah Berbasis Sumber (PSBS) untuk bertindak tegas terhadap pelanggaran Peraturan Gubernur (Pergub) Bali Nomor 97 Tahun 2018.

Ia menyoroti lemahnya implementasi aturan ini di pasar tradisional, meski telah berhasil diterapkan di pasar modern, mal, hotel, dan rumah makan.

“Di pasar tradisional saya lihat menurun komitmennya, makin banyak yang pakai tas kresek. Kita harus intensifkan pengawasan, kita harus kerja keras. Dalam pembatasan penggunaan plastik sekali pakai ini kita harus tegas, tidak ada kompromi lagi,” tegas Koster.

Berita Terkait:  El Nino Ancam Produksi Pangan, Koperasi Pertanian ASEAN Didorong makin Kuat

Laporan dari Koordinator Tim PSP PSBS, Dr. Luh Riniti Rahayu, mengungkap fakta mencengangkan: meski Pergub 97/2018 telah disosialisasikan, pedagang dan pembeli di pasar tradisional masih menggunakan tas kresek untuk membungkus barang.

Lebih lanjut, timbulan sampah harian di Bali mencapai 3.436 ton, dengan 17,25% di antaranya adalah sampah plastik. Rendahnya kesadaran masyarakat dalam memilah sampah dari sumber serta minimnya pemahaman aparat desa terhadap Pergub ini menjadi kendala utama.

Koster juga menyoroti masalah infrastruktur pengelolaan sampah. Dari 716 desa/kelurahan di Bali, hanya 290 desa yang memiliki Tempat Pengolahan Sampah Reduce-Reuse-Recycle (TPS3R), dan 90% di antaranya bermasalah dalam hal kapasitas, tata kelola, sumber daya manusia, dan anggaran.

Berita Terkait:  El Nino Ancam Produksi Pangan, Koperasi Pertanian ASEAN Didorong makin Kuat

“Seluruh tim yang terlibat bergerak cepat, buat tahapan pencapaian tiap bulannya dan tolak ukurnya. Semua bersinergi, bekerja nyata sehingga kelihatan hasilnya, sampah di Bali tertanggulangi dengan baik dan Bali jadi bersih dan indah,” perintahnya.

Rapat ini dihadiri oleh kepala Organisasi Perangkat Daerah (OPD) terkait serta anggota kelompok kerja Tim PSP PSBS. Koster meminta semua pihak, mulai dari desa hingga provinsi, bersinergi menyelesaikan krisis sampah plastik yang dinilai sudah sangat krusial.

Tim PSP PSBS, yang terdiri dari 11 kelompok kerja dan 12 sektor, diminta menyusun peta jalan dan melaporkan perkembangan setiap bulan.

Langkah tegas ini diharapkan mampu mengembalikan Bali sebagai destinasi wisata yang bersih dan bebas dari sampah plastik, sekaligus meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya pengelolaan sampah berbasis sumber. (dir)

Berita Terkait:  El Nino Ancam Produksi Pangan, Koperasi Pertanian ASEAN Didorong makin Kuat

Berita Terkini