Janji 7 Tahun Terwujud, Suma-Novi Satukan Karya di Sinergi Air

I Wayan Suma Bagia dan Ni Kadek Novi Sumariani. (balihotnews/ist)
I Wayan Suma Bagia dan Ni Kadek Novi Sumariani. (balihotnews/ist)

Balihotnews.com | BADUNG – Tujuh tahun bukan waktu yang singkat untuk menepati sebuah janji. Namun bagi dua seniman Bali, I Wayan Suma Bagia dan Ni Kadek Novi Sumariani, waktu justru menjadi bagian dari perjalanan yang akhirnya membawa mereka kembali ke satu ruang pamer.

Keduanya kini menghadirkan “Sinergi Air: Our Resonance Flows” di Room 8 Seminyak, Badung. Pameran ini mempertemukan dua karakter berkarya yang berbeda, tetapi memiliki satu titik temu kuat, yakni cat air.

Pameran tersebut berangkat dari janji yang pernah dibuat Suma dan Novi ketika masih menjadi pasangan kekasih. Kala itu, keduanya pernah menggelar pameran bersama melalui Buana Alit.

Tujuh tahun berselang, janji untuk kembali membuat pameran bersama akhirnya diwujudkan.

“Sinergi Air lahir sebagai penuntasan janji tujuh tahun lalu di mana kami berjanji untuk membuat pameran couple yang ke-2 setelah tujuh tahun lalu membuat Pameran Buana Alit berdua,” ujar Suma.

Dua Karakter Berbeda, Satu Medium yang Sama

Perbedaan menjadi salah satu kekuatan utama dalam pameran ini. Suma selama ini dikenal berkarya dalam ranah seni rupa, komik dan ilustrasi dengan pendekatan yang banyak bersentuhan dengan dunia digital.

Sementara Novi memiliki jalur eksplorasi yang berbeda melalui crafting, eksperimen dan seni rupa murni. Ia juga mengembangkan Buana Alit dengan karya serta produk yang memanfaatkan limbah kertas.

Meski berbeda, keduanya menemukan kesamaan melalui cat air yang sudah lama mereka tekuni.

Berita Terkait:  Bawa 23 IKM ke Kriyanusa 2026, Ny. Putri Koster Dorong Kerajinan Bali Tembus Pasar Internasional

“Kami adalah sepasang seniman yang sangat berbeda secara gaya dan media pengkaryaan. Suma yang digital, komik, ilustrasi, dan lain-lain, sementara Novi yang crafting, eksperimen dan perupa murni. Namun kami memiliki satu ketertarikan yang sama yang sudah kami geluti sejak lama yaitu cat air,” kata Suma.

Novi menilai cat air bahkan telah menjadi bagian dari cara keduanya berkomunikasi.

“Cat air menjadi media berkarya sekaligus media berkomunikasi kami yang paling kuat,” tambah Novi.

Dalam pameran ini, Suma membawa sejumlah karya yang lahir dari pengalaman pribadi dan perenungan, seperti Bloom, Mirror of Compassion, Fire Lotus, Sun-Moon dan Serenity.

Sementara karya Novi banyak berangkat dari lingkungan dan pengalaman yang dekat dengannya. Bunga telang, morning glory, tanaman yang dirawat sejak benih, perjalanan hingga pengalaman bersama Suma menjadi sumber ide dalam sejumlah karyanya.

Karya Sulur Telang, Penjaga Rerambatan, Merajut Perjalanan, Percakapan di Kebun Harapan dan Perjalanan di Kebun Timun mengangkat berbagai gagasan mengenai pertumbuhan, harapan, kesabaran, perjalanan serta relasi manusia dengan alam.

Pengunjung Bisa Tinggalkan Komentar

Pameran “Sinergi Air” juga menawarkan bentuk interaksi yang tidak berhenti pada aktivitas melihat karya.

Setiap karya dilengkapi ruang komentar yang memungkinkan pengunjung memberikan tanggapan secara langsung. Bagi Suma dan Novi, respons tersebut menjadi bagian dari percakapan antara karya, seniman dan audiens.

Berita Terkait:  Jaga Peradaban dan Tradisi, Bupati Klungkung Hadiri Abhiseka Ida Dalem Smara Putra XVI

“Kami ingin membangun ruang komunikasi antarpegiat dan penikmat seni lewat komentar secara langsung yang dapat membangun diskusi karya,” jelas Novi.

Masukan dari pengunjung juga diharapkan dapat memberikan sudut pandang baru bagi keduanya untuk mengembangkan proses kreatif sekaligus perjalanan hubungan mereka.

“Dapat mengembangkan diri Suma dan Novi lewat insight-insight yang didapat dari respons audiens untuk kemajuan kami secara pengkaryaan dan hubungan,” kata Novi.

Konsep pameran kemudian dibagi melalui Ruang Harmoni dan Ruang Disharmoni. Ruang Harmoni menggambarkan perjalanan keduanya dalam proses saling mengenal, sementara Ruang Disharmoni menghadirkan sisi-sisi yang lebih personal, mulai dari harapan, kebingungan, keputusasaan hingga perasaan yang belum tuntas.

Suma berharap karya-karya yang ditampilkan dapat menemukan keterhubungan dengan pengalaman para pengunjung.

“Dapat berdampak sedikit banyak pada audiens secara psikologis melalui karya-karya yang relate dengan audiens,” ujar Suma.

Ada Workshop hingga Lelang Amal

Interaksi dengan pengunjung juga berlanjut melalui sejumlah agenda pendukung.

Pada 8 Agustus 2026, Novi akan mengadakan Workshop Basic Cat Air untuk memperkenalkan dasar-dasar penggunaan medium tersebut kepada peserta.

“Tanggal 8 Agustus kami ada Workshop Basic Cat Air dari Novi,” kata Suma.

Rangkaian acara kemudian berlanjut pada 15 Agustus 2026 melalui kegiatan menggambar bersama sekaligus penutupan pameran.

Pada momen tersebut, beberapa karya dengan komentar terbaik dari pengunjung juga akan dilelang. Sebagian hasil pelelangan nantinya disumbangkan kepada Yayasan Kupu-Kupu Learning Center.

Berita Terkait:  Bupati Sedana Arta Ikuti Prosesi Tumpek Wayang Perkuat Pelestarian Adat, Tradisi dan Kearifan Lokal Bali Berlandaskan Sad Kerthi

“Di tanggal 15 kami ada menggambar bersama dan acara penutupan yang dilengkapi dengan pelelangan beberapa karya dengan kolom komentar terbaik yang hasilnya sebagian akan kami sumbangkan ke Yayasan Kupu-Kupu Learning Center,” ujar Novi.

Selain karya visual, pameran juga menghadirkan pembacaan puisi oleh Silvia dan Ganes secara berdua.

Resonansi dari Sebuah Perjalanan

Pemilihan 1 Agustus 2026 sebagai awal pameran bukan tanpa alasan. Tanggal tersebut berkaitan dengan tanggal pernikahan Suma dan Novi, yakni 8 Januari 2026, yang jika dibalik menjadi 1 Agustus.

Momentum itu juga menjadi penanda tujuh tahun sejak keduanya pertama kali membuat pameran bersama ketika masih berstatus sebagai pasangan kekasih.

Kini, setelah menjalani perjalanan masing-masing sebagai seniman sekaligus pasangan, keduanya kembali bertemu melalui medium yang sama.

“Sinergi Air: Our Resonance Flows” akhirnya menjadi lebih dari sekadar pameran dua seniman. Karya-karya yang ditampilkan menjadi rekaman perjalanan, perbedaan, hubungan, sekaligus proses saling memahami.

Bagi Suma dan Novi, perjalanan karya tidak berakhir ketika lukisan selesai dibuat. Makna baru justru dapat muncul ketika karya tersebut bertemu dengan pengalaman dan sudut pandang pengunjung.

Dari sanalah resonansi terus mengalir, dari dua seniman menuju karya, lalu diteruskan kepada setiap pengunjung yang menemukan makna dan ceritanya sendiri. (red)

Berita Terkini