Balihotnews.com l BANDUNG. Gubernur Bali Wayan Koster menegaskan bahwa kecerdasan buatan (AI) dan transformasi digital tidak boleh menggerus identitas budaya. Pesan itu disampaikan saat menjadi keynote speaker pada 5th International Conference on Digital Humanities 2026 di Institut Teknologi Bandung (ITB), Sabtu (18/7/2026).
Di hadapan akademisi, peneliti, praktisi, dan pembuat kebijakan dari berbagai negara, Koster memaparkan strategi transformasi digital Bali yang berlandaskan visi Nangun Sat Kerthi Loka Bali. Menurutnya, kemajuan teknologi harus memperkuat budaya, menjaga lingkungan, dan melestarikan kearifan lokal.
“Kemajuan teknologi, transformasi digital tidak boleh menerkam kearifan lokal, tapi bagaimana mampu menguatkan identitas budaya dan kearifan lokal,” tegas Koster.
Komitmen itu diwujudkan melalui pembangunan Turyapada Tower KBS 6.0 Kerthi Bali, perluasan WiFi gratis di 1.834 titik, penguatan Sistem Pemerintahan Berbasis Elektronik (SPBE), digitalisasi Pungutan Wisatawan Asing melalui aplikasi Love Bali, hingga pengembangan Bali Samasta Digital sebagai pusat inovasi dan talenta digital.
Transformasi digital juga menyasar desa adat melalui pengembangan website desa, peningkatan kapasitas digital prajuru desa adat, serta pemberdayaan Yowana Desa Adat. Wantilan dan balai banjar didorong menjadi ruang kolaborasi budaya dan teknologi.
Menutup paparannya, Koster mengajak akademisi, pemerintah, dan dunia usaha menjadikan Bali sebagai laboratorium pengembangan talenta digital yang tetap berlandaskan nilai kemanusiaan dan budaya.
“Masa depan bukan hanya milik mereka yang menguasai teknologi, tetapi juga milik mereka yang mampu menjaga nilai-nilai kearifan lokal sebagai warisan adiluhung,” ujarnya.
Kepercayaan ITB menunjuk Koster sebagai keynote speaker mempertegas bahwa model pembangunan Bali yang memadukan transformasi digital dengan pelestarian budaya semakin mendapat perhatian. Setelah menjadi satu-satunya gubernur dari Asia yang diundang berbicara di forum internasional di London, Koster kembali membawa gagasan Bali ke panggung nasional dengan pesan yang sama, teknologi harus berjalan seiring dengan budaya, bukan menggantikannya. (Bhn)






