Balihotnews.com | DENPASAR – Komunitas Ruang Kreasi bersiap menggelar Panggung Ekspresi (PAKSI) 2026. Kompetisi operet bergengsi tingkat SMP dan SMA se-Bali ini bakal menghentak panggung Dharma Alaya Negara (DNA), Denpasar, pada 28 hingga 30 Agustus 2026 mendatang.
Ajang ini hadir sebagai angin segar di tengah minimnya ruang berekspresi bagi generasi muda yang menekuni seni pertunjukan operet. Padahal, kesenian ini memiliki akar sejarah yang kuat dan berkembang pesat di Bali, khususnya di Kota Denpasar.
Ketua Komunitas Ruang Kreasi, Iko Putra Tara Tiyasa, mengungkapkan alasan memilih operet. Menurutnya, format seni ini sangat ramah untuk dipelajari sekaligus menjadi fondasi penting dalam pengembangan kemampuan seni pertunjukan.
”Format operet dipilih karena format ini lebih mudah dibandingkan seni pertunjukan lainnya, namun menjadi dasar dari sebuah seni pertunjukan. Serta format operet juga dapat dinikmati oleh semua sektor masyarakat dan segala usia,” ujar Iko Putra kepada media, Kamis (25/6/2026).
Angkat Kisah Inspiratif Tokoh Dunia
Pada tahun pertama penyelenggaraannya, PAKSI 2026 mengusung tema tokoh-tokoh dunia. Tema ini dipilih sebagai media edukasi interaktif bagi para pelajar lewat kisah hidup yang inspiratif dan sarat nilai positif.
Peserta diberikan kebebasan memilih tokoh dari bidang apa saja, asalkan memiliki karakter kuat yang bisa diteladani dan adaptif untuk dikemas dalam pertunjukan operet.
Melalui tema ini, Iko menyelipkan pesan kuat agar generasi muda di Pulau Dewata tidak takut untuk bermimpi besar, serta terus membekali diri dengan ilmu dan karakter yang baik.
”Pesan bagi generasi muda adalah jangan pernah takut bermimpi besar, persiapkan diri dengan ilmu dan karakter, lalu gunakan potensimu untuk dapat memberikan dampak positif bagi masyarakat,” tutur Iko.
Antusiasme Membeludak dan Lampaui Target

Sementara itu, Ketua Panitia PAKSI 2026, Ida Bagus Gde Santa Prasada, mengaku terkejut dengan tingginya animo peserta. Target awal panitia yang hanya menyasar 16 tim, justru kedatangan 17 tim teater sekolah saat pendaftaran ditutup.
”Jujur, antusiasme para peserta di luar ekspektasi kami. Sejak pendaftaran dibuka, gelombang pendaftar langsung melonjak, dan yang paling membanggakan adalah melihat betapa seriusnya persiapan mereka,” kata remaja yang akrab disapa Gus Santa ini.
Sinyal persaingan sengit bahkan sudah terasa sejak sesi technical meeting. Ruang diskusi dipenuhi ide-ide kreatif dan pertanyaan kritis dari para peserta.
”Energi muda yang mereka bawa benar-benar menular. Kami bisa merasakan bahwa Agustus nanti bukan sekadar kompetisi, melainkan akan menjadi perayaan seni pertunjukan yang sangat megah dan penuh gairah,” imbuhnya.
Berikut daftar sekolah yang siap unjuk gigi di PAKSI 2026:
Kategori SMP:
- SMPN 2 Denpasar (Teater Lingkar)
- SMPN 4 Denpasar (Teater Loak)
- SMPN 5 Denpasar (Teater Panca)
- SMPN 6 Denpasar (Teater Dirga)
- SMPN 7 Denpasar (Teater Klakson)
- SMPN 8 Denpasar (Teater Nirwana)
- SMPN 9 Denpasar (Teater Layar)
- SMPN 12 Denpasar (Teater Angkasa)
Kategori SMA/SMK:
- SMAN 4 Denpasar (Teater Blabar)
- SMAN 6 Denpasar (Teater Kirana)
- SMAN 8 Denpasar (Teater Wongkutus)
- SMAN 12 Denpasar (Teater Rona)
- SMAN 1 Kuta Utara (Teater Ombak)
- SMAN 2 Kuta Utara (Teater Antara)
- SMA Katolik Santo Yoseph Denpasar (Teater Lajose)
- SMA Muhammadiyah 1 Denpasar (Teater Enter)
- SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Teater Media Tepi)
Bukan Cuma Akting, Gawai Jadi Jembatan Kreativitas
Persaingan dipastikan ketat karena penilaian mencakup lima aspek utama: keaktoran, editing, penyajian cerita, koreografi, hingga penataan artistik. Peserta dituntut kreatif total, mulai dari merancang naskah yang menghibur hingga kostum dan tata panggung.
Menariknya, panitia tidak memosisikan media sosial atau konten digital sebagai musuh seni pertunjukan. Sebaliknya, mereka justru memanfaatkan gawai sebagai media penjemput penonton. Strategi ciamik pun disiapkan, mulai dari konten behind the scene, teaser kreatif, hingga konsep panggung imersif yang dekat dengan kultur anak muda.
”Komunitas Ruang Kreasi tidak perlu menjauhkan anak muda dari gawai mereka, melainkan membawa seni pertunjukan ke dalam gawai tersebut sebagai undangan, lalu menyambut mereka di dunia nyata dengan pengalaman pertunjukan yang imersif, relevan, dan interaktif,” papar Gus Santa.
Meski membawa narasi tokoh global, PAKSI 2026 tetap membumi. Unsur budaya lokal Bali tetap disisipkan secara kental lewat dekorasi visual dan motif tradisional di area venue.
Ke depan, PAKSI diproyeksikan menjadi agenda tahunan berkesinambungan. Panitia berharap ajang ini bukan sekadar mengejar piala simbolis, melainkan menjadi batu loncatan bagi para pelajar untuk konsisten berkarya dan membangun jejaring kreatif.
”Melalui lomba operet ini, Komunitas Ruang Kreasi bermimpi memantik gairah seni pertunjukan generasi muda hingga kelak mampu bertransformasi menjadi gerakan festival teater berskala besar yang inklusif, adaptif, dan berdampak,” pungkas Gus Santa.*** (dre)





