Balihotnews.com | DENPASAR – Bali Jagadhita Investment Forum 2026 kembali digelar sebagai upaya memperkuat arus investasi berkualitas di Bali dan kawasan Nusa Tenggara. Forum yang diselenggarakan oleh Bank Indonesia bersama Pemerintah Provinsi Bali melalui Pusat Investasi Kerthi Bali Sadhana (PIKBS) ini menghadirkan 22 proyek strategis kepada lebih dari 35 calon investor dari berbagai negara.
Kegiatan ini menjadi momentum penting di tengah tren positif investasi Bali yang terus menunjukkan penguatan. Sepanjang 2025, realisasi investasi Penanaman Modal Asing (PMA) dan Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) di Bali mencapai Rp42,82 triliun dengan penyerapan tenaga kerja lebih dari 68 ribu orang.
Pertumbuhan investasi Bali juga tercatat meningkat sebesar 6,78 persen secara year on year (yoy), lebih tinggi dibandingkan triwulan sebelumnya yang berada di angka 5,47 persen (yoy). Kontribusi investasi terhadap perekonomian daerah kini mencapai 28 persen.
Meski demikian, tantangan pemerataan investasi masih menjadi perhatian. Sebanyak 88 persen investasi masih terkonsentrasi di wilayah Bali Selatan dan sekitar 97 persen investasi didominasi sektor tersier. Kondisi tersebut mendorong perlunya diversifikasi investasi yang lebih merata antarwilayah dan sektor ekonomi.
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali, Achris Sarwani mengatakan Bali Jagadhita Investment Forum 2026 menjadi wadah promosi proyek potensial yang siap ditawarkan kepada investor.
“Bali Jagadhita Investment Forum 2026 merupakan forum promosi investasi proyek potensial yang ready to offer (IPRO) dari Balinusra yang mencakup berbagai sektor yaitu infrastruktur, hilirisasi, pariwisata, perdagangan, dan sektor unggulan lainnya,” ujar Achris Sarwani.
Menurutnya, pendekatan kawasan Bali-Nusa Tenggara dilakukan untuk memperkuat konektivitas ekonomi regional sekaligus menciptakan peluang investasi yang saling melengkapi antarwilayah.
Forum ini menghadirkan berbagai agenda strategis mulai dari showcasing proyek unggulan Bali dan Nusa Tenggara, one on one business meeting antara project owner dan investor, hingga site visit ke Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Kesehatan Sanur yang merupakan KEK kesehatan pertama di Indonesia.
Sementara itu, Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu Provinsi Bali, Ketut Sukra Negara menegaskan Bali memiliki banyak peluang investasi yang terbuka luas bagi investor domestik maupun internasional.
“Investasi di Bali didukung sejumlah insentif oleh Pemerintah dan Bali memiliki keunggulan sebagi destinasi yang telah dikenal secara global,” kata Ketut Sukra Negara.
Ia berharap penyelenggaraan Bali Jagadhita Investment Forum 2026 dapat menjadi katalis bagi pertumbuhan investasi berkualitas di Pulau Dewata.
Sebanyak 22 proyek investasi yang dipromosikan dalam forum ini merupakan hasil kurasi Bali Investment Challenge 2026. Proyek tersebut berasal dari Bali, Nusa Tenggara Barat (NTB), dan Nusa Tenggara Timur (NTT).
Beberapa proyek unggulan yang ditawarkan antara lain KEK Kesehatan Sanur, proyek penerangan jalan, hingga pengadaan electric vehicle. Seluruh proyek tersebut disusun dalam Katalog Investasi yang kemudian diserahkan kepada para duta besar dan delegasi negara sahabat yang hadir.
Pertemuan bisnis dalam forum ini juga diikuti sejumlah perwakilan negara sahabat, termasuk Duta Besar Bulgaria, Duta Besar Kerajaan Bahrain, Duta Besar Kesultanan Oman, Duta Besar Republik Armenia, Duta Besar Republik Islam Pakistan, Duta Besar Rumania, serta perwakilan konsulat dan atase perdagangan dari berbagai negara.
Bank Indonesia memprakirakan ekonomi Bali pada 2026 tetap tumbuh solid di kisaran 5,4 hingga 5,9 persen (yoy) meskipun di tengah tantangan geopolitik global. Optimisme pelaku usaha, inflasi yang terjaga, dukungan insentif pemerintah, dan daya saing Bali dinilai menjadi modal kuat untuk memperluas investasi di daerah.
Melalui Bali Jagadhita Investment Forum 2026, Bank Indonesia bersama Pemerintah Provinsi Bali menegaskan komitmennya dalam memperluas akses investor terhadap proyek strategis daerah serta mendorong transformasi ekonomi Bali menuju pertumbuhan yang inklusif, berkualitas, dan berkelanjutan. (red).





