90 Persen Sampah Plastik di Laut Berasal dari Daratan, KKP dan WWF Indonesia Perkuat Aksi Nyata dari Hulu ke Hilir

Foto: Kegiatan World Ocean Day & Coral Triangle Day 2026 digagas WWF Indonesia bersama KKP RI serta didukung Konservasi Indonesia, GIZ Indonesia, CTI-CFF, Coral Triangle Center, Yayasan Pesisir Lestari dan Coca Cola Europacific Partners Indonesia. (Balihotnews/ist).

Balihotnews.com | BADUNG –  Penanganan sampah dari daratan hingga bermuara ke laut menjadi sorotan utama dalam peringatan Hari Laut Sedunia atau World Ocean Day dan Coral Triangle Day 2026 di Peninsula Island, ITDC Nusa Dua, Kabupaten Badung, Bali, Minggu, 7 Juni 2026.

Peringatan bertema “Kenali Lautmu, Wujudkan Aksimu” itu menegaskan bahwa persoalan sampah di laut tidak bisa diselesaikan hanya di wilayah pesisir atau lautan, tetapi harus dimulai dari sumbernya di darat.

Direktur Jenderal Pengelolaan Kelautan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), Ir. A. Koswara menegaskan bahwa laut saat ini menjadi muara akhir dari berbagai persoalan sampah yang berasal dari aktivitas manusia di daratan.

“Laut ibarat sebuah TPA (Tempat Pembuangan Akhir) artinya perjalanan sampah mulai dari sumbernya hingga ujungnya bermuara di laut,” kata Direktur Jenderal Pengelolaan Kelautan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), Ir. A. Koswara, saat konferensi pers, dalam peringatan Hari Laut Sedunia atau World Ocean Day dan Coral Triangle Day 2026 di Peninsula Island, ITDC Nusa Dua, Kabupaten Badung, Bali, Minggu, 7 Juni 2026.

Berita Terkait:  Tim III THK Awards akan Gelar Asesmen Hotel di Ubud

Menurutnya, pengelolaan sampah harus dilakukan secara terintegrasi dari hulu hingga hilir. Melalui program Laut Sehat Bebas Sampah (Laut SEBASAH), KKP menggandeng berbagai pihak mulai pemerintah daerah, masyarakat pesisir, pelaku usaha hingga nelayan.

“Nah, kami didalam program Laut SEBASAH ini mengintegrasikan semua pihak, yang berkepentingan dan berkontribusi atas produksi sampah,” terangnya.

Koswara menjelaskan, di wilayah daratan KKP mendorong pemerintah daerah untuk mengurangi pembuangan sampah ilegal ke sungai. Sementara di wilayah muara sungai dan kawasan pesisir, kolaborasi dilakukan bersama pemerintah provinsi dan masyarakat sekitar pantai.

Selain itu, KKP juga telah menginisiasi nota kesepahaman dengan dua provinsi yakni DKI Jakarta dan Nusa Tenggara Barat (NTB) terkait penanganan sampah laut. “Ini merupakan awalan dan nanti kedepan kita akan MOU dengan seluruh Pemerintah Daerah,” ujarnya.

Berita Terkait:  Perkuat Mitigasi Bencana dan Kebersihan, Pemkab Klungkung Terima Bantuan Armada Terpadu dari PT SMI

Tak hanya fokus pada sampah, KKP juga menjalankan program rehabilitasi mangrove skala besar bersama dunia usaha sebagai bagian dari perlindungan kawasan pesisir dan laut.

“Kami melakukan program dari aspek penanaman mangrove. Nanti akan ada tanam mangrove skala besar bersama dengan dunia usaha disana,” kata Koswara.

Sementara itu, Chief Conservation Officer Yayasan WWF-Indonesia, Dewi Lestari Yani Rizki menegaskan bahwa sebagian besar sampah plastik di laut berasal dari aktivitas di daratan.

“90 persen sampah plastik di laut itu berasal dari daratan. Jadi, kami memang kerja betul-betul juga bekerjasama di daratan dengan para pemerintah daerah untuk mengurangi kebocoran sampah dari sungai ke laut,” kata Dewi Lestari Yani Rizki.

Berita Terkait:  Pemkab Klungkung Rancang Proyek KPBU APJ dan Preservasi Jalan, Targetkan Beroperasi 2028

WWF Indonesia juga melakukan pendampingan pengelolaan sampah di pulau-pulau kecil, salah satunya di Gili Trawangan dengan membangun fasilitas tempat pembuangan akhir (TPA).

“Itu kita bangunkan TPA dan mungkin nanti kita bisa menjawab permasalahan di Gili Terawangan dan sebagainya,” tutupnya.

Kegiatan World Ocean Day & Coral Triangle Day 2026 digagas WWF Indonesia bersama KKP RI serta didukung Konservasi Indonesia, GIZ Indonesia, CTI-CFF, Coral Triangle Center, Yayasan Pesisir Lestari dan Coca Cola Europacific Partners Indonesia.

Acara tersebut bertujuan meningkatkan kesadaran publik tentang pentingnya menjaga ekosistem laut melalui edukasi dan aksi nyata yang melibatkan masyarakat, generasi muda, akademisi hingga sektor swasta. (ace).

 

 

 

 

 

Berita Terkini