Balihotnews.com | DENPASAR – Warga Banjar Pagan Kelod, Desa Adat Pagan, Sumerta Kauh, Denpasar memanfaatkan momentum Hari Tumpek Bubuh atau Tumpek Uduh untuk memperkuat pelestarian seni dan budaya Bali.
Selain menggelar piodalan di Pelinggih Ratu Gede Penyarikan, warga juga menerima hibah Rp200 juta untuk pengadaan dan perbaikan perangkat gamelan gong kebyar, Sabtu, 23 Mei 2026.
Bantuan hibah dari Pemerintah Kota Denpasar yang difasilitasi Anggota Komisi IV DPRD Kota Denpasar, AA Ayu Priniti menjadi kabar menggembirakan bagi krama banjar. Pasalnya, keinginan memiliki perangkat gong kebyar yang memadai telah dinantikan warga selama puluhan tahun.
Klian Banjar Adat Pagan Kelod yang diwakili I Wayan Adi Santika mengatakan dana hibah tersebut akan difokuskan untuk melengkapi sarana seni banjar.
“Dana hibah tersebut kami gunakan untuk ngukir plawah gamelan, termasuk penambahan alat yang masih kurang lengkap,” kata Adi Santika.
Menurutnya, keberadaan gong kebyar sangat penting untuk menunjang aktivitas seni di Banjar Pagan Kelod yang selama ini dikenal aktif dalam berbagai kegiatan budaya, termasuk Pesta Kesenian Bali (PKB).
AA Ayu Priniti menyebut Banjar Pagan Kelod memiliki potensi seni yang besar dengan keberadaan kelompok seni tradisional yang aktif berkembang di tengah masyarakat.
“Pelegongan, semara pegulingan, dan drama gong ada di banjar ini,” paparnya.
AA Ayu Priniti menegaskan perjuangannya mengawal hibah tersebut merupakan bentuk komitmen untuk memperjuangkan aspirasi masyarakat, khususnya di bidang seni dan budaya.
“Kini saatnya saya memperjuangkan aspirasi masyarakat tempat dimana hidup dan bermasyarakat,” kata AA Ayu Priniti.
Selain penyerahan hibah, piodalan di Pelinggih Ratu Gede Penyarikan juga berlangsung khidmat. Upacara dipuput Ida Pedanda dari Griya Tegaljingga, Lebah, Denpasar dengan menggunakan upakara pulegembal dan caru panca sata.
Adi Santika menjelaskan piodalan tahun ini merupakan piodalan jelih atau nadi yang memiliki makna penyucian secara niskala.
“Kali ini kami melaksanakan piodalan jelih atau nadi karena memakai banten pulegembal dan caru panca sata yang dipuput oleh Ide Peranda,” terangnya.
Ia menambahkan pecaruan dilakukan untuk menetralisir berbagai pengaruh negatif di kawasan banjar setelah rentang waktu panjang sejak pelaksanaan melaspas balai banjar pada 2009 silam.
“Mengingat, jangka waktu tersebut dan berbagai kegiatan yang dilaksanakan di kawasan balai banjar yang tidak luput dari cuntaka, kami melaksanakan pecaruan untuk menetralisir papa, lara, klesa di Kawasan banjar,” paparnya.
Dalam rangkaian upacara tersebut juga dilaksanakan mejaya-jaya bagi prajuru baru Banjar Pagan Kelod yang kini dipimpin Ketut Subrata.
Bagi warga Banjar Pagan Kelod, hibah gong kebyar ini bukan sekadar bantuan alat kesenian, melainkan simbol kebangkitan semangat seni tradisi di tengah masyarakat.
“Sejak puluhan tahun, kami bermimpi memiliki perangkat gamelan gong kebyar, baru kali ini terwujud. Kami ucapkan terima kasih kepada Bu Gek (AA Ayu Priniti) atas perjuangannya,” kata Adi Santika yang juga prajuru Banjar Pagan Kelod. (red).





