Jejak Gubernur Koster di Besakih, Antara Tanggung Jawab dan Bhakti

Di tempat yang bagi banyak orang adalah tujuan sembahyang, bagi Gubernur Wayan Koster, Besakih adalah lebih dari sekadar ruang suci. Ia adalah janji yang lama dipendam.

Balihotnews.com l AMLAPURA- Di pelataran Pura Agung Besakih, langkah itu kembali hadir. Tenang, terukur, seolah tak ingin mengganggu hening yang sudah lebih dulu berdiam. Di tempat yang bagi banyak orang adalah tujuan sembahyang, bagi Gubernur Wayan Koster, Besakih adalah lebih dari sekadar ruang suci. Ia adalah janji yang lama dipendam.

Sejak muda, bahkan ketika masih duduk di bangku SMA, Gubernur Koster tidak hanya datang untuk tangkil. Ia melihat. Mengamati. Mencatat dalam diam. Pelinggih demi pelinggih, warna yang tak seragam, bangunan yang menua tanpa perawatan yang layak. Ada yang kokoh, ada yang lapuk. Ada yang terjaga, ada yang dibiarkan.

Pengamatan itu tidak pernah benar-benar hilang. Ia tinggal, mengendap, lalu tumbuh menjadi kegelisahan.

Berita Terkait:  Menaker Yassierli Ungkap Bekal Penting Masuk Dunia Kerja: Keterampilan harus Terbukti

Bertahun-tahun kemudian, ketika kewenangan itu ada di tangannya, kegelisahan itu berubah menjadi keputusan. Bukan keputusan yang gegabah, tetapi langkah yang disiapkan perlahan, dimulai dari luar, lalu masuk ke dalam. Parkir yang dulu semrawut kini lebih teratur, akses yang dulu macet kini lebih lapang. Namun bagi Koster, itu belum cukup. Yang ia cari bukan sekadar rapi di mata, tetapi utuh dalam makna.

Kini ia masuk ke bagian paling dalam. Parahyangan. Tempat di mana kesucian tidak bisa dinegosiasikan. Restorasi dimulai. Bukan sekadar memperbaiki, tetapi mengembalikan. Kayu kembali pada kayu. Ijuk kembali pada ijuk. Ukiran kembali pada pakemnya. Tidak ada ruang untuk asal jadi. Tidak ada kompromi untuk nilai.

Berita Terkait:  Gubernur Koster Serahkan CSR St Regis untuk Pelestarian Seni dan Budaya Bali

Di balik itu semua, ada satu hal yang terasa jelas. Ini bukan proyek biasa. “Besakih ini harus dijaga. Ini warisan, bukan hanya untuk sekarang, tapi untuk selamanya,” begitu garis yang terus ia pegang.

Di tengah riuh kritik dan cepatnya penilaian publik, Gubernur Koster memilih jalan yang tidak selalu populer, jalan yang lebih sunyi, tapi lebih teguh. Ia menempatkan Besakih bukan sebagai objek pembangunan, melainkan sebagai pusat yang harus dimuliakan.

Jejaknya kini terlihat. Dari pelataran hingga pelinggih, dari akses hingga inti, perubahan itu bergerak pelan tapi pasti. Dan mungkin, bagi Gubernur Koster, ini bukan sekadar menata kawasan suci. Ini adalah cara membayar hutang batin pada tempat yang sejak muda sudah ia pahami, bahkan sebelum ia punya kuasa untuk mengubahnya. (Bhn)

Berita Terkait:  Gubernur Koster kembali Tinjau Depo Pesanggaran, Pastikan Pertamina Percepat Distribusi BBM ke SPBU

Berita Terkini