Dari Keresahan Jadi Gerakan, Searah Creative Hub Satukan Komunitas Film Bali

Ketua Searah Creative Hub, Dodek Sukahet. (dok: searahcreativehub)
Ketua Searah Creative Hub, Dodek Sukahet. (dok: searahcreativehub)

Balihotnews.com | DENPASAR – Di tengah ekosistem perfilman Bali yang belum terintegrasi secara kuat, Searah Creative Hub mulai mengambil peran sebagai ruang penghubung antar pelaku. Bertepatan dengan peringatan Hari Film Nasional, 30 Maret, komunitas ini menegaskan posisinya dalam mendorong kolaborasi sekaligus membuka ruang tumbuh bagi sineas lokal.

Searah Creative Hub berdiri sejak 2021, berangkat dari keresahan para alumni perfilman di Bali yang kesulitan menemukan ruang berproses di industri lokal. Situasi tersebut membuat tidak sedikit lulusan akhirnya bekerja di luar bidangnya. Dari kondisi itu, Searah hadir sebagai alternatif agar sineas tetap bisa berkarya, saling belajar, dan menjaga ekosistem tetap hidup.

Ekosistem Ada, Tapi Belum Tersambung

Secara struktur, ekosistem film di Bali sebenarnya sudah terbentuk, mulai dari produksi, distribusi hingga pendidikan. Namun, persoalan utamanya terletak pada konektivitas yang masih lemah antar pelaku.

Berita Terkait:  Zat Kimia Mengurai Racun Masa Lalu lewat Single Baru Karsinoma 

Ketua Searah Creative Hub, Dodek Sukahet, menilai persoalan mendasar bukan hanya soal fasilitas, melainkan kesadaran kolektif yang belum terbangun.

“Kalau disederhanakan, keresahan saya ada tiga. Pertama, ketidakguyuban. Kedua, tidak adanya produser. Ketiga, kualitas manusia,” ujarnya, Senin (30/3/2026).

Ia juga menyoroti bahwa berbagai persoalan perfilman Bali belum pernah benar-benar dibahas bersama.

“Masalahnya bukan semata-mata ada konflik. Masalahnya, kita sering lemah dalam mengidentifikasi masalah dan mengubahnya menjadi solusi bersama,” katanya.

Menurutnya, komunitas punya peran penting dalam membentuk cara berpikir, bukan sekadar meningkatkan kemampuan teknis.

“Komunitas adalah soal siapa yang mau bertumbuh bersama, saling menjaga arah, dan saling menguatkan proses,” ujarnya.

Program Jalan, Distribusi Dikejar

Untuk menjawab tantangan tersebut, Searah menjalankan sejumlah program berbasis komunitas. Mulai dari Nunas Layar yang menghadirkan pemutaran film dan diskusi bersama pembuatnya, Seka Nutur sebagai kanal podcast, hingga Balih Screening yang membawa film ke berbagai wilayah di Bali.

Berita Terkait:  KMHDI: Keadilan tak boleh Menunggu Viral, Selamat Datang Kapolri Suyudi Ario Seto

Selain itu, ada juga RAW, program diskusi maraton selama 12 jam yang membahas berbagai aspek sinema. Sementara itu, program internal seperti Paum rutin digelar untuk memperkuat komunikasi antaranggota sekaligus merancang arah gerak komunitas.

Wakil Ketua Searah, Herda Martin, menegaskan komunitas tidak bisa berjalan sendiri tanpa keterlibatan ekosistem yang lebih luas.

“Komunitas tidak seharusnya berdiri sendiri. Ia harus hadir di tengah menjadi jembatan antara penikmat, pencipta, pengkaji, peneliti, hingga pendana film,” ujarnya.

Ia juga melihat perkembangan positif pada sektor kru film di Bali, meski ruang bagi pencipta dan distribusi karya masih terbatas.

“Ruang bagi pencipta, ruang bagi penikmat, serta ruang layar untuk karya-karya itu sendiri, masih belum sepenuhnya terbentuk dengan kuat,” katanya.

Berita Terkait:  Fuso Mosaic Event 2026 di Lovina Manjakan Konsumen Setia Mitsubishi Fuso

Melihat banyaknya karya film lokal yang belum tersalurkan, Searah kini mulai menyiapkan program distribusi sebagai langkah lanjutan. Upaya ini diharapkan bisa membuka akses agar film-film karya sineas Bali tidak berhenti di tahap produksi.

Langkah tersebut dinilai penting, mengingat setiap tahun Bali menghasilkan ratusan film, namun sebagian besar belum memiliki jalur distribusi yang jelas.

Melalui pendekatan kolaboratif, Searah juga membuka peluang kerja sama dengan berbagai pihak, termasuk pendana dan instansi lintas sektor. Komunitas ini terbuka bagi siapa saja yang ingin terlibat dalam ekosistem film, baik sebagai pembuat, penikmat, maupun pendukung.

Momentum Hari Film Nasional pun menjadi pengingat bahwa sinema bukan hanya soal hasil akhir, tetapi juga proses bersama dalam merawat cerita dan masa depan industri kreatif Bali. (red)

Berita Terkini