Karya Palebon Ida Rajadewata Puri Agung Gianyar

Foto: Rajadewata Puri Agung Gianyar lahir dengan nama Anak Agung Agung Bharata pada 23 Juni 1949. (Balihotnews/ist).

Balihotnews.com | GIANYAR – Puri Agung Gianyar akan melaksanakan Karya Palebon Ida Rajadewata sebagai penghormatan terakhir kepada Ida Rajadewata, yang tutup usia, di RSUD Sanjiwani, Gianyar, Sabtu, 21 ebruari 2026 pukul 13.30 WITA.

Upacara Palebon akan dilaksanakan pada Saniscara Pon Ugu, Sabtu, 7 Maret 2026, dengan tingkatan upacara Utamaning Utama, menggunakan sarana Nagabanda sesuai tradisi Palebon Panglingsir Puri-Puri keturunan Dalem.

Profil Singkat Ida Rajadewata

Rajadewata lahir dengan nama Anak Agung Gde Agung Bharata pada 23 Juni 1949. Setelah menjalani tahapan Dwijati pada 16 Juli 2019 di Puri Agung Gianyar, beliau menyandang nama kawikuan Ida Bhagawan Blibar, menandai pengabdian spiritualnya sebagai Bhiksuka sesuai tradisi Puri.

Nama “Blibar” diambil dari pucil buah manggis, merujuk pada garis keturunan beliau sebagai pratisentana Ida Bhatara Manggis Kuning.

Dalam sejarah berdirinya Kota Gianyar, disebutkan bahwa pendiri Kerajaan Gianyar adalah Ida Bhatara Manggis Sakti IV pada 19 April 1771, yang menjadi tonggak lahirnya Kota Gianyar.

Walaupun telah menjadi Sulinggih, sesuai tradisi di Puri Agung Gianyar, penyebutan bagi yang telah wafat adalah Ida Rajadewata, sebagai bentuk penghormatan atas jasa dan pengabdian beliau kepada Puri dan masyarakat Gianyar.

Berita Terkait:  Pertamina Janji Sehari Tak Kelar, Koster Datangi Direktur Pertamina di Sanggaran

Beliau merupakan putra dari Raja Gianyar terakhir, Ida Anak Agung Gde Oka (1946-1950), yang kemudian menjadi Bupati Gianyar pertama setelah bergabung ke NKRI serta Ketua Dewan Raja-Raja Bali (setara Gubernur Provinsi Sunda Kecil).

Pendidikan dan Pengabdian

Pendidikan
 Lulus SMA Negeri 2 Denpasar (1968)
 Sarjana Hukum, Fakultas Hukum Universitas Ngurah Rai, Denpasar (2012)

Pengabdian ASN

PNS Sekretariat Negara RI, Jakarta (1977-1986)
 Koordinator Multimedia Sekretariat Negara RI (1986-1995)
 Pembantu Pelaksana Harian Kepala Istana Kepresidenan Tampaksiring
(1997-2003)

Pengabdian Politik

 Bupati Gianyar (2003-2008)
 Bupati Gianyar periode kedua (2013-2018)

Sebagai kepala daerah dua periode, beliau dikenal konsisten menjaga keseimbangan antara pelestarian adat, budaya, dan pembangunan daerah.

Rangkaian Karya Palebon

Pelaksanaan Karya Palebon dikoordinir oleh Manggala Karya, Anak Agung Gde Mayun (Wakil Bupati Gianyar), bersama pratisentana dari 16 Puri keturunan Ida Bhatara Manggis Kuning: Puri Sukawati, Serongga, Bitra, Abianbase, Tulikup, Siangan, Beng, Kaleran (Sengguan), Batuan, Bedulu, Tegallalang, Wanayu, Bedulu, Batu Bulan, Lebih dan Cebaang.

Berita Terkait:  Pekerja Wajib Tahu! 10 Poin Baru dalam UU Pelindungan Ketenagakerjaan 

Rangkaian Upacara:

2 Maret 2026
Mendak Nagabanda ke Puri Ageng Bitra dan Melaspas Nagabanda.

3 Maret 2026
Nuasen Karya, Masiram, Malelet, dan Munggah Tumpang Salu.

4 Maret 2026
Ngareka Kajang, Muserin Benusa, Melaspas, Ngaturang Ayaban, Nyalin dan Munggah
ke Janggawari.

5 Maret 2026
Ngening/Nunas Toya Ning di Tukad Cangkir, Mendak Kajang, Ngaskara, dan
Matetangi.

Puncak Acara- 7 Maret 2026

Prosesi diawali dengan Macaru dan Marisuda Bumi di Setra Adat Beng. Layon akan dijemput dari Bale Sumanggen dengan iringan Tari Gambuh Masatya, kemudian dipundut menuju Padma, tanpa menggunakan Bade Tumpang 11 karena beliau telah menjalani proses madwijati.

Setelah ditempatkan di Padma, dilaksanakan prosesi Manah Nagabanda oleh Ida Padanda Peling.

Selanjutnya, iring-iringan menuju Setra Adat Beng dengan urutan: Gambelan Angklung, pembawa Lalontek dan Upakara, Pedanda diusung Gayot, Lembu Putih, Panandan, penari Gambuh Masatya, Nagabanda, Padma, dan terakhir Baleganjur.

Berita Terkait:  Melihat Berakhirnya PHDI Menuju MAHASABHA XIII, KMHDI Buleleng Soroti Ruang Anak Muda dan Persoalan Umat

Dalam prosesi ini juga melibatkan Desa Adat di lingkungan Puri. Desa Adat Samplangan mengerahkan 450 orang sebagai tukang sandang Padma, Desa Adat Abianbase nyandang Lembu dan Tragtag berkekuatan 250 orang, sedangkan untuk
Nagabanda disandang oleh Bitra dengan jumlah 100 orang.

Di Setra, layon disucikan kembali dengan tirta dari merajan dan pura-pura terkait Puri Agung Gianyar.

Sebelum api suci dinyalakan, akan dilaksanakan Upacara Penghormatan oleh Pemkab Gianyar.
Setelah proses perabuan, dilaksanakan rangkaian Nuduk Galih, Nguyeg Galih, Ngareka Galih, Nyupit, dan Nganyut ke Pantai Masceti.

Selanjutnya, keluarga dan kerabat kembali ke Puri Agung Gianyar untuk prosesi Mapegat.

Karya Palebon ini bukan hanya ritual pelepasan ragawi, namun juga momentum spiritual untuk menghormati perjalanan hidup seorang pemimpin, sulinggih, dan tokoh masyarakat Gianyar.

Melalui Palebon Utamaning Utama ini, Puri Agung Gianyar bersama masyarakat luas memaknai pengabdian Ida Rajadewata sebagai warisan keteladanan dalam menjaga dharma, adat, dan kehormatan leluhur. (red).

Berita Terkini