Balihotnews.com | KARANGASEM – Perayaan Imlek 2026 di Kabupaten Karangasem tak sekadar menjadi agenda budaya tahunan, tetapi juga momentum penguatan pariwisata berbasis kolaborasi lintas budaya.
Untuk itu, Puri Agung Karangasem bersama pemerintah daerah mempertegas posisi kawasan ini sebagai daya tarik wisata unggulan di Bali Timur melalui “Pagelaran Sunaring Jagat” di Taman Soekasada Ujung, Kabupaten Karangasem, Minggu, 1 Maret 2026.
Pagelaran seni budaya ini juga memadukan Barongsai dan tari tradisional Bali ini menjadi simbol akulturasi antara Puri Karangasem dan masyarakat keturunan Tionghoa.
Tidak hanya menampilkan seni pertunjukan, acara ini juga membawa pesan kuat tentang harmoni, toleransi, dan strategi bersama dalam menjaga sektor pariwisata di tengah tantangan global.
Pengelola Taman Sukasada Ujung, Anak Agung Made Dewandra Jelantik, menegaskan bahwa kegiatan ini berakar pada hubungan historis antara leluhur Puri Karangasem dan komunitas Tionghoa di Bali.
“Acara ini berkaitan dengan Tahun Baru Imlek. Kami dari Puri Karangasem ingin mengajak kembali bagaimana hubungan Puri Karangasem dengan saudara-saudara kita keturunan Tionghoa di Bali, khususnya di Karangasem,” kata Dewandra Jelantik, Minggu 1 Maret 2026.
Menurutnya, nama “Sunaring Jagat” itu sendiri memiliki makna filosofis mendalam yang berarti cahaya alam semesta. “Digelar di Taman Soekasada Ujung yang bermakna kebahagiaan yang tidak ada habisnya. Kami berharap dengan mengingat kedekatan para leluhur dulu, kita membawa cahaya yang membawa kebaikan bagi kita semua,” terangnya.
Strategi Kolaborasi Dongkrak Kunjungan Wisata
Saat ini, pengelolaan Taman Ujung dilakukan bersama antara Puri Karangasem dan Pemerintah Daerah melalui kerja sama 30 tahun yang tersisa enam tahun lagi. Kolaborasi ini dinilai menjadi kunci dalam pengembangan destinasi wisata Karangasem. “Kami berkolaborasi dengan Pemda sehingga bisa membuat banyak kebaikan untuk Karangasem itu sendiri,” paparnya.
Data kunjungan menunjukkan wisatawan mancanegara masih mendominasi, khususnya dari Eropa, India, dan Korea. Wisatawan domestik berkontribusi sekitar 30 persen. Pada Januari 2026, kunjungan sempat turun akibat faktor cuaca, dengan rata-rata 300-400 wisatawan per hari. Namun, pasar wisatawan asal Tiongkok dinilai memiliki potensi besar untuk digarap.
“Sekarang mulai banyak wisatawan China meski belum sebanyak turis lainnya. Kami berkolaborasi dengan saudara Tionghoa di Bali untuk menggaet kunjungan wisatawan,” kata Dewandra Jelantik.
Akulturasi budaya Tionghoa dan Bali juga tercermin dalam arsitektur kawasan Taman Ujung. Ornamen khas China hingga keterlibatan leluhur Tionghoa dalam desain bangunan memperlihatkan hubungan historis yang harmonis dan menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan.
Dukungan Pemerintah Pusat Perkuat Optimisme Pariwisata Bali
Pagelaran budaya ini turut dihadiri Wakil Menteri Pariwisata Ni Luh Puspa yang menyampaikan pesan Presiden Prabowo Subianto tentang pentingnya kebersamaan dalam membangun bangsa.
“Seperti pesan Presiden Prabowo yang berharap kita semua menjadi negara yang tangguh, kuat, dan selalu mengedepankan kebersamaan karena itu adalah kekuatan bersama,” terangnya.
Menurutnya, kekuatan Indonesia terletak pada keberagaman budaya. “Kita tidak seragam tetapi beragam, namun itulah kekuatan utama kita,” paparnya.
Wamenpar Ni Luh Puspa juga menekankan bahwa Bali dikenal dunia karena harmoni dan toleransi antarumat beragama. “Saya selalu mengatakan Bali tak pernah mendiskriminasi siapapun. Walaupun Bali dikenal sebagai pulau seribu pura, tetapi tidak susah mendapatkan masjid, gereja, atau kelenteng di Bali,” ungkapnya.
Wamenpar menyambut baik pentas budaya Imlek sebagai daya tarik wisata unggulan. “Saya yakin hari ini pasti ramai kunjungan kesini,” ungkapnya.
Ditengah situasi geopolitik global yang memanas pada 2026, sektor pariwisata dinilai membutuhkan kolaborasi semua pihak.
“Sumber ekonomi Bali berasal dari sektor pariwisata. Ditengah situasi geopolitik ini, semua pihak harus bergandengan tangan untuk menunjukkan bahwa Indonesia dan Bali pada khususnya tetap solid untuk memberikan pengalaman pariwisata terbaik kepada wisatawan,” pungkasnya.
Melalui diplomasi budaya seperti Pagelaran Sunaring Jagat, Karangasem tak hanya merayakan Imlek, tetapi juga memperkuat fondasi pariwisata berbasis harmoni dan kerja sama lintas komunitas. (red).





