Balihotnews.com | NAGEKEO – Bagi 36 sarjana lulusan perdana Institut Nasional Flores (INF), wisuda bukan sekadar seremoni kelulusan. Mereka dipanggil untuk terjun ke masyarakat dan menjawab persoalan daerah. Itulah pesan humanis yang disampaikan Rektor INF saat melepas angkatan pertama kampus tersebut di Aula Sekretariat Daerah Kabupaten Nagekeo, Kamis (27/11/2025).
Dalam sambutannya, Rektor INF DR. Yohanes Freadiyanus Kasi, S.Si., M.Pd., menggambarkan lulusan angkatan pertama layaknya “anak sulung” dalam keluarga, ditempa oleh perjalanan panjang kampus dan memikul harapan lebih besar.
Ia berkata langsung kepada para sarjana, “Sebagai anak pertama, kalian dibebani tanggung jawab yang lebih besar sejak semester III. Kalian juga mendapat harapan dan ekspektasi tinggi dari kami para orang tua sehingga membuat kalian harus selalu merasa sempurna.”
Rektor Yohanes menegaskan bahwa pembelajaran di INF bukan hanya untuk memperoleh gelar, tetapi untuk menjawab persoalan nyata di masyarakat.
“Apa pentingnya kalian belajar, agar mampu menjawab persoalan yang mana kalian dipanggil jiwanya untuk menjawab masalah yang ada. Kapal diciptakan bukan untuk berlabuh di dermaga, melainkan untuk menghajar gelombang dan membelah lautan,” ujarnya.
Melalui pesan itu, ia meminta para lulusan untuk tetap optimis, membangun diferensiasi, dan memegang teguh kejujuran sebagai fondasi integritas.
Ucapan terima kasih juga disampaikan kepada para orang tua yang telah mempercayakan pendidikan anak di INF.
Ibarat logam yang ditempa, menurutnya, para mahasiswa kini “siap pakai” untuk berkontribusi bagi keluarga, masyarakat, Nagekeo, dan Indonesia.
Ingatkan Visi Awal INF
Dari sisi lembaga, Pembina Yayasan Flores Mentari Kristoforus Meo mengingatkan kembali visi awal pendirian INF yaitu pengembangan produk pangan berbasis potensi lokal.
Ia mengatakan, “Program studi harus diutamakan untuk mengembangkan produk lokal Flores umumnya dan Nagekeo khususnya. Maka terciptalah Fakultas Pertanian, Fakultas Peternakan dan Fakultas Perikanan.”
Kristoforus menekankan INF juga berdiri untuk memberi akses pendidikan tinggi bagi mahasiswa yang terkendala biaya. Banyak mahasiswa yang hampir berhenti kuliah akhirnya lulus sebagai sarjana melalui INF.
Ia kemudian mengajak keluarga dan masyarakat setempat untuk memanfaatkan INF sebagai pusat pencetak generasi muda Flores di bidang pangan.
“Mari bangun daerah sendiri, bangun dan kembangkan potensi lokal yang tidak pernah akan habis. Kita bisa membangun Indonesia dari Flores, Nagekeo,” ajaknya.
Wisuda angkatan pertama ini menandai tonggak sejarah INF sekaligus membuka babak baru bagi 36 sarjana yang dipanggil untuk memberikan kontribusi nyata bagi daerahnya. (red)





