Alim Setiawan Slamet, Figur Visioner untuk Mengembalikan Marwah Agraria IPB

Dr. Alim Setiawan Slamet. (balihotnews/istimewa)
Dr. Alim Setiawan Slamet. (balihotnews/istimewa)

Balihotnews.com | BOGOR – Institut Pertanian Bogor (IPB) memasuki babak baru dalam perjalanan sejarahnya. Setelah Prof. Dr. Arif Satria melanjutkan kiprah di tingkat nasional sebagai Kepala BRIN, kampus agraris ternama ini bersiap memilih rektor baru, sosok yang diharapkan bukan hanya pemimpin administratif, tetapi penanam nilai dan penjaga marwah ilmu bangsa.

Sejak cikal bakalnya pada 1940-an hingga resmi berdiri pada 1 September 1963 melalui Keputusan Menteri No. 91/1963 dan disahkan dengan Keputusan Presiden No. 279/1965, IPB dibangun di atas semangat kedaulatan pangan.

Para pendiri meyakini pendidikan tinggi pertanian bukan hanya menghasilkan sarjana, tetapi menjadi instrumen kemandirian bangsa.

Lebih dari enam dekade kemudian, IPB menghadapi dua tantangan besar, yaitu menjaga warisan nilai kepedulian terhadap petani dan masyarakat pedesaan.

Berita Terkait:  Melihat Berakhirnya PHDI Menuju MAHASABHA XIII, KMHDI Buleleng Soroti Ruang Anak Muda dan Persoalan Umat

Selain itu, beradaptasi dengan perubahan global seperti digitalisasi agribisnis, krisis iklim, serta tuntutan ketahanan pangan dan bioenergi.

Dalam situasi ini, pergantian rektor bukan sekadar regenerasi jabatan, tetapi penentuan arah masa depan kampus.

Salah satu figur yang dinilai mencerminkan semangat “menanam nilai” adalah Alim Setiawan Slamet, akademisi kelahiran Demak, 27 Februari 1982.

Lulusan S1 dan S2 Teknologi Industri Pertanian IPB ini melanjutkan pendidikan doktoralnya di Ehime University, Jepang, dalam bidang Agribusiness and Agricultural Economics.

Sebagai peneliti, Alim dikenal lewat riset-risetnya tentang manajemen rantai pasok agribisnis, operasi petani kecil, dan kualitas hasil pertanian.

Dalam pengelolaan kampus, ia juga menunjukkan kapasitas strategis dan kepedulian sosial yang kuat.

Kombinasi ini menempatkannya bukan sekadar sebagai figur administratif, melainkan representasi nilai-nilai yang selama ini menjadi roh IPB.

Berita Terkait:  Pertamina Janji Sehari Tak Kelar, Koster Datangi Direktur Pertamina di Sanggaran

Empat Nilai untuk Rektor Baru IPB

Menghadapi era baru, rektor IPB selanjutnya diharapkan menanam empat nilai utama yang sejalan dengan sejarah dan tantangan kampus:

1. Keberpihakan pada petani kecil dan buruh tani untuk mengembalikan IPB pada akar agrarianya yang berpihak pada rakyat desa.

2. Inovasi berbasis lokal, berpikir global dalam memperkuat peran IPB dalam ketahanan pangan, bioenergi, dan pengentasan kemiskinan.

3. Manajemen kampus yang transformatif selaku pemimpin yang tidak berhenti pada tanda tangan surat, tetapi hadir di lapangan dan mendorong riset terapan.

4. Karakter dan integritas ilmiah dalam menjaga moral akademik, nilai sosial, serta keberpihakan ekologis yang menjadi jati diri IPB.

Berita Terkait:  Raih 186 Suara, Letjen I Nyoman Cantiasa Ungguli Ari Dwipayana dalam Pemilihan Ketua Umum PHDI Pusat

Seruan untuk Civitas dan Pemangku Kepentingan

Mahasiswa, dosen, alumni, petani mitra, hingga MWA IPB, kini dihadapkan pada momen penting. Proses demokrasi kampus harus berjalan terbuka dan adil, agar IPB tidak sekadar memilih manajer, tetapi pemimpin yang menanam benih perubahan.

“Tradisi pengabdian masyarakat lahir dari kampus ini,” tulis Luhur Nugroho (IPB 47), penulis opini yang menyerukan agar rektor berikutnya menjadi sosok yang hadir di ladang, berjalan bersama petani, dan menanam nilai-nilai yang akan diwariskan ke generasi mendatang.

Dengan rekam jejak akademik dan kepemimpinan yang kuat, Alim Setiawan Slamet dinilai layak berada di garis depan pencalonan rektor IPB 2025-2030, pemimpin yang tidak hanya menandatangani surat, tetapi menanam nilai untuk masa depan bangsa. (red)

Berita Terkini