Balihotnews.com | TABANAN – Upaya menjaga stabilitas harga dan memperkuat ketahanan pangan menjadi fokus utama Pemerintah Kabupaten Tabanan bersama Bank Indonesia dalam High Level Meeting (HLM) Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Tabanan. Tema yang diangkat, “Strategi Pengendalian Inflasi Menjelang HBKN serta Memperkuat UMKM untuk Kedaulatan Pangan.”
Pertemuan ini dipimpin langsung oleh Bupati Tabanan Dr. I Komang Gede Sanjaya, S.E., M.M., dan dihadiri Wakil Bupati I Made Dirga, S.Sos., Deputi Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali Butet Linda H. Panjaitan, Penglingsir Puri Tabanan Ida Tjokorda Anglurah Tabanan, Ketua DPRD I Nyoman Arnawa, serta unsur Forkopimda, Perumda, Bulog, dan seluruh Perbekel se-Kabupaten Tabanan.
Dalam sambutannya, Bupati Sanjaya menegaskan pentingnya sinergi lintas sektor dalam menjaga stabilitas ekonomi daerah.
“Kegiatan ini merupakan komitmen bersama untuk membangun desa yang kuat secara ekonomi, mandiri secara pangan, profesional dalam tata kelola. Dengan adanya kolaborasi dan sinergi maka akan memperkuat strategi peta jalan pengendalian inflasi dan pangan di Kabupaten Tabanan,” ujarnya.
Lima Strategi Pengendalian Inflasi Daerah
Ia memaparkan lima strategi utama pengendalian inflasi daerah, yaitu:
- Penguatan TPID melalui kolaborasi antara Bank Indonesia, Perbekel, dan Bumdes.
- Penguatan Satgas Pangan lewat sinergi penegakan hukum dan pendampingan Kejati Bali melalui program “Jamu Pangan.”
- Kemitraan strategis antara Perumda Sanjayaning Singasana dan BPD Bali.
- Integrasi komoditas lokal dalam mempercepat ketahanan pangan.
- Peningkatan kepercayaan publik terhadap Bumdes melalui tata kelola profesional dan transparan.
“Jika desa kuat, bangsa akan hebat. Jika desa mandiri, rakyat akan berdaulat,” tegas Bupati Sanjaya menutup sambutannya dengan semangat Tabanan Era Baru: Aman, Unggul, dan Madani (AUM).
Sementara itu, Deputi Kepala Perwakilan BI Provinsi Bali, Butet Linda H. Panjaitan, melaporkan bahwa inflasi Kabupaten Tabanan pada September 2025 tercatat 1,88% (yoy). Hal tersebut masih dalam rentang target nasional 2,5% ±1%. Secara bulanan, Tabanan mengalami deflasi -0,45% (mtm). Dengan komoditas penyumbang utama deflasi yakni bawang merah, tomat, daging babi, cabai rawit, dan bawang putih.
Namun, ia menyoroti adanya tantangan seperti alih fungsi lahan, inefisiensi rantai pasok, serta keterbatasan penggunaan teknologi pertanian.
“Ketahanan pangan tidak hanya dari pemerintah daerah, namun juga menjadi perhatian seluruh pihak, terutama terkait alih fungsi lahan,” kata Butet.
Sebagai langkah konkret, HLM TPID Tabanan juga diisi dengan penandatanganan MoU antara Bupati Tabanan dan seluruh Perbekel se-Kabupaten Tabanan untuk memastikan ketersediaan pasokan dan keterjangkauan harga pangan.
Selain itu, kerja sama pembiayaan antara Perumda Sanjayaning Singasana dan BPD Bali juga diteguhkan guna memperkuat permodalan desa.
Untuk meningkatkan produktivitas pertanian, turut diserahkan bantuan sarana dan prasarana pertanian kepada sejumlah subak di Tabanan. Antara lain, Subak Aseman IV, Subak Lanyah Delod Jalan, Subak Timan Agung, Subak Gadon III, dan Subak Empas Mal Kangin.
Melalui langkah nyata ini, TPID Tabanan menegaskan komitmennya memperkuat ketahanan pangan dari hulu ke hilir serta mewujudkan kesejahteraan masyarakat berbasis ekonomi lokal. (red)





