Darurat Sampah Kiriman, 8 Ton Limbah Plastik Diangkut dari Pantai Kedonganan

Sejumlah relawan dari Sungai Watch dan Sispala SMAN 1 Kuta bergotong royong membersihkan tumpukan sampah kiriman di Pantai Kedonganan, Badung, Sabtu (24/1/2026). (Balihotnews/red).
Sejumlah relawan dari Sungai Watch dan Sispala SMAN 1 Kuta bergotong royong membersihkan tumpukan sampah kiriman di Pantai Kedonganan, Badung, Sabtu (24/1/2026). (Balihotnews/red).

Balihotnews.com ​| BADUNG – Fenomena tahunan ‘sampah kiriman’ kembali meneror pesisir selatan Bali. Pantai Kedonganan yang biasanya cantik, mendadak dipenuhi limbah.

Tak tinggal diam, aksi bersih-bersih massal (beach cleanup) langsung digelar pada Sabtu (24/1/2026). Hasilnya mencengangkan, yakni sebanyak 8 ton sampah berhasil diangkut dalam sehari.

​Aksi gerak cepat ini diinisiasi oleh komunitas lingkungan Sungai Watch berkolaborasi dengan Siswa Pecinta Alam (Sispala) Wira Satya Mandala SMA Negeri 1 Kuta.

Gerakan ini kian masif karena turut melibatkan kolaborasi lintas sektor. Mulai dari perwakilan hotel dan restoran di sekitar Kedonganan, mahasiswa Politeknik Pariwisata (Poltekpar) Bali, warga lokal, hingga Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) Kabupaten Badung turun tangan.

Berita Terkait:  PPN Pengambengan Dibangun Rp1,2 Triliun, Gubernur Koster: Jadi Pusat Ekonomi Baru Bali

Pembina Sispala Wira Satya Mandala, Ida Bagus Narayana, S.H., mengungkapkan kondisi di lapangan cukup memprihatinkan. Sampah yang menumpuk di bibir pantai didominasi oleh material plastik, kayu gelondongan, hingga limbah rumah tangga.

Menurutnya, sampah-sampah ini adalah ‘kiriman’ yang terbawa arus sungai menuju laut, dipicu oleh tingginya intensitas hujan di wilayah hulu belakangan ini.

“Kondisi ini tidak hanya merusak estetika pantai yang jadi daya tarik wisata, tapi juga mengancam ekosistem laut dan mengganggu aktivitas warga pesisir,” tegas Narayana di sela-sela kegiatan.

Tak Sekadar Memungut, Tapi Memilah

Di bawah komando Ketua Umum Sispala, Komang Charissa Maharani, para siswa tidak hanya memungut sampah lalu membuangnya. Mereka menerapkan sistem pemilahan (waste sorting) langsung di lokasi.

Berita Terkait:  OJK Luncurkan Rp 3I 2026-2030, Perkuat Reseliensi dan Peran Perbankan Sebagai Penggerak Ekonomi 

Langkah ini krusial guna memastikan sampah bisa dikelola lebih lanjut secara bertanggung jawab, bukan sekadar memindahkan masalah ke TPA.

Narayana berharap, aksi para pelajar ini bisa menjadi “alarm” bagi kesadaran kolektif masyarakat.

“Semoga semangat adik-adik Sispala ini mendorong generasi muda dan masyarakat luas untuk semakin peduli. Pesisir Bali harus kita jaga bersama,” tambah pria lulusan Fakultas Hukum Universitas Warmadewa tersebut.

Sementara itu, perwakilan Sungai Watch mengingatkan bahwa tumpukan sampah di pantai hanyalah hilir dari masalah yang lebih besar. Penanganannya butuh sinergi total, tidak bisa parsial.

“Kegiatan ini bukan hanya tentang membersihkan pantai, tetapi membangun kesadaran bahwa apa yang kita buang di darat akan berakhir di laut,” tegas perwakilan Sungai Watch.

Berita Terkait:  Cegah Krisis Air Bali, Wamenpar Ni Luh Puspa Tanam 12.500 Bambu di Lempuyang

​Aksi kolaboratif ini diharapkan menjadi momentum kuat untuk menjaga lingkungan pesisir Bali. Edukasi pengelolaan sampah dari sumbernya dinilai menjadi kunci utama agar volume sampah kiriman tak terus berulang di masa depan.*** (dre)

 

Berita Terkini