25 Tahun THK Awards, Investor Pariwisata Bali Makin Peduli Adat dan Alam

Foto: Tim asesor Tri Hita Karana (THK) Awards melakukan rapat dan presentasi terkait pemilihan serta penempatan patung di hadapan General Manager Melia Bali, belum lama ini. (Balihotnews/ist).

Balihotnews.com | DENPASAR – Setelah seperempat abad mengawal konsep Tri Hita Karana dalam industri pariwisata, Yayasan Tri Hita Karana (THK) menegaskan kesadaran pelaku usaha di Bali kian tumbuh untuk menjaga adat, budaya, hingga lingkungan. Hal itu tercermin dari keterlibatan 55 hotel dan destinasi wisata (DTW) yang mengikuti asesmen THK Awards 2025.

Ketua Yayasan THK Bali, Ir. I Gusti Ngurah Wisnu Wardana, menuturkan perubahan sikap investor mulai tampak jelas. Ia mencontohkan Hotel Melia Bali yang tengah merenovasi bangunan dan sengaja meminta masukan Yayasan THK terkait penempatan patung di area kolam renang.

“Kami mendatangkan Prof. Ketut Sumadi untuk menjelaskan konsep budaya Bali, agar tidak terjadi kesalahpahaman yang bisa berujung masalah di kemudian hari,” kata Wisnu di Denpasar, Selasa, 9 September 2025.

Berita Terkait:  Dampak Ekonomi Maybank Marathon 2026 di Bali Tembus Ratusan Miliar

Manajemen hotel yang segera berganti nama menjadi Paradisus by Melia Bali itu, menurut Wisnu, tidak ingin proyek renovasi mereka dianggap melecehkan masyarakat setempat. Apalagi kontraktor yang menggarap berasal dari Jepang dan Vietnam.

Kepedulian serupa juga ditunjukkan Alaya Resort Ubud. Hotel itu meluncurkan kajian “Bali Darurat Sampah” sebagai respons terhadap program Pemprov Bali terkait pengelolaan sampah berbasis sumber. Dari data yang dikumpulkan, Alaya kemudian mengolah sampah menjadi kompos, eco-enzym, hingga pakan ternak.

Wisnu menambahkan, asesmen THK Awards tahun ini telah dimulai sejak Agustus dan puncak penghargaan dijadwalkan pada awal Desember 2025.

“Baru sebulan berjalan, kami sudah melihat aksi nyata dari hotel dan DTW dalam menanggulangi persoalan lingkungan (palemahan), sosial (pawongan), hingga spiritual (parhyangan),” ujarnya.

Berita Terkait:  Tinjau Abrasi Pantai Kuta, Megawati Minta Mitigasi Pesisir Tak Setengah-setengah

Sejak tahun 2000, Yayasan THK konsisten menggelar THK Awards and Accreditation untuk menanamkan filosofi Tri Hita Karana dalam pariwisata.

Program ini bukan sekadar penghargaan, melainkan ajang kompetisi sehat bagi hotel, akomodasi, destinasi wisata, universitas, sekolah, hingga instansi pemerintah agar selaras dengan nilai lokal Bali.

Penilaian didasarkan pada tiga indikator: Parahyangan yang menekankan hubungan harmonis dengan Tuhan, Pawongan yang menjaga keselarasan antarmanusia, serta Palemahan yang mewajibkan pelaku pariwisata ramah terhadap alam.

“Dengan mengikuti konsep ini, kami yakin keseimbangan dan keharmonisan pariwisata Bali tetap terjaga,” tutur Wisnu, yang juga dikenal sebagai wartawan senior. (dre).

 

Berita Terkini