Pura di RPH Temesi Tetap Dibanteni Oleh Keluarga Petani

GIANYAR, balihotnews.com – Rumah potong hewan (RPH) Temesi di banjar/desa Temesi memang lama mangkrak. Bahkan semenjak dibuka oleh Gubernur Bali Dewa Made Beratha, pada 2005 lalu, RPH itu tak lama beroperasi lalu ditinggalkan oleh pengelolanya. Semak belukar sudah menjalar naik dan mesin di dalam bangunan jadi karatan. RPH itu kini tampak seperti rumah hantu.

Utama -Pura di RPH Temesi Tetap Dibanteni Oleh Keluarga Petani
pintu masuk RPH Temesi Digembok, dan gemboknya mengkarat

Kondisi RPH itu pun kian mencekam ketika malam tiba. Hal itu diakui oleh pemilik lahan di samping RPH. “Kalau malam di sini tidak ada lampu. Tak ada yang belikan lampu, gelap,” ujar petani penggarap lahan sawah dekat RPH bernama Kadek Guna bersama istrinya, Ni Wayan Murti.
Jika malam tiba, selain tak ada lampu, lokasi RPH itu juga jauh dari permukiman warga, jauh dari kota. Lokasi RPH itu di tengah sawah, di tengah ladang warga. Tak banyak yang tahu lokasi RPH itu. “Kalau sudah malam, semuanya pulang, ini sepi di sini,” kata Kadek Guna. Selain itu, tak ada warga yang bermalam di sawah, dan tidak mungkin.
Walau terkesan angker, namun, setiap rahinan atau hari raya suci tiba, dua petani itu-lah yang menghaturkan sesajen atau banten ke pura berupa padmasana yang terletak di berlokasi di sudut Utara RPH. Guna dan istirnya Murti mengaku disuruh oleh mantan komisaris PT Mergantaka Mandala mebanten di dalam RPH.
“Di dalamnya selain ada padma itu, juga ada palinggih kecil-kecil. Saya biasa mebanten keliling,” terangnya. Padma dan palinggih yang berada di pelosok atau di tengah areal RPH tetap dibanteni karena sebelumnya sudah dipelaspas.
Sebagai ganti biaya banten atau sesajen itu, Guna dan Murti diberikan kesempatan menggarap lahan di bagian Utara RPH. Lahan itu bisa digarap dengan menanam palawija berupa tanaman kacang. “Hasil dari menggarap lahan ini saya pakai biaya banten. Katanya disuruh mebanten dari pada tidak ada yang urus palinggih di sini,” tutup Guna. Mereka berdua masuk ke dalam areal RPH dengan merusak pagar besi di bagian Utara.

BACA JUGA: RPH Temesi Gonta-Ganti Pengelola Sejak Dibentuk

Sementara, selama RPH itu mangkrak dan terkesan jadi rumah hantu, ada 3 tumbal yang terjerat dan sudah masuk bui. 2 pejabat yang dibui adalah mantan Sekda Gianyar, Anak Agung Rai Asmara dan mantan Kadis Peternakan Gianyar, IB Raka. 1 lagi seorang makelar yang ikut terjerat yakni I Kadek Aristana. 3 tumbal itu tersangka pada 2014, lalu mengikuti sidang pada 2015 lalu. Saat sidang, bupati Gianyar, Cok Budi Suryawan sempat jadi saksi dipersidangan. Dan ada tim pembebasan lahan ikut diperiksa dan jadi saksi. (dor)

BACA JUGA: Rumah Potong Hewan (RPH) Temesi Jadi Rumah Hantu




Be the first to comment